Pak Holy yb., inilah barangkali nasib sebagai 'developing" nation yaitu mudah sekali kena iming2. Saya ingat yg saya baca bhw sekitar 1920 (tahun itusaya belum lahir lho walau kini sudah jadi a sentimental retiree, he3) hampir diseluruh Afrika burung onta, ostrich, hampir tumpas karena US dan European ladies punya fashion untuk memakai bulu unggas tsb sbg hiasan. Tentu semua, white atau black hunters, langsung membabat burung malang tsb.
Kedua, mungkin inilah yg dikatakan the market's invicible hands, kalau ada demand ya harus ada supply, semua harus dikessampingkan, moral, ethics, idealisme dll yang "tidak flexible". Tetapi justru karena potensi ekonomi atau bisnis yg sebagai "makhluk" atau organisme yg diciptakan oleh manusia namun kini manusia sendiri sudah hampir tidak bisa lagi mengendalikannya dan dapat merusak planet kita juga, dimana-mana ada resistensi terhadap segi negatif dari globalisasi, supaya masih ada regulators yang bekerja untuk manusia juga, bukan hanya untuk makhluk yg sangat rakus itu (ada namanya dlm bhs Yunani purba, tapi saya lupa). Bukan hanya law enforcement agencies dan bea Cukai, tetapi paling penting pemerintah dan legislatif Indonesia yang sekarang dan kedepan harus tahan uji. Jangan seperti dulu itu di Afrika, mudah sekali diberi iming2. Atau memang sikonnya mirip tahun 1920an dulu? Salam, Bismo DG ----- Original Message ----- From: "Holy Uncle" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, May 10, 2007 12:12 PM Subject: [nasional-list] Group Presses China Wood Industries Over Illegal Logging
