Dear Moderator Milis Mediacare, 
   
  Salam hormat dan sejahtera, dan semoga selalu dalam Lindungan-Nya. Berikut, 
saya menitipkan Berita Pers "Ellawijt: It's Just Been Started", yakni sebuah 
pameran tunggal Ellawijt sekaligus ajangnya merayakan hari ulang tahunnya yang 
ke-tujuh belas.  It's a sweetest thing in her sweet seventeen!  
   
  Terima kasih dan salam, 
   
  Latief/PR Manager Idekami Communication 
   
   
   
  BERITA PERS: Ellawijt: It’s just been started……
   
  
  The Sweetest Thing in her Sweet Seventeen
  “Ellawijt: It’s just been started…” adalah pameran tunggal yang akan 
memamerkan 40 lukisan karya Ellawijt. Pameran tunggal pertamanya, sekaligus 
ajang Ellawijt merayakan ulang tahunnya yang ke-17. 
   
  Sekitar lima bulan lebih, tepatnya sejak November 2006 lalu, Ellawijt 
mempersiapkan diri demi pameran ini. Dan kali ini, Ellawijt akan memperkenalkan 
“the yellow strawberry”, tak lain lukisan kesayangannya yang berukuran 185 x 
581 cm.
   
  Ya, di usia yang masih begitu muda, Ellawijt terbilang cukup berani untuk 
tampil sebagai pelukis dan berkeinginan menyegarkan dunia seni lukis Indonesia. 
“Buatku, merayakan ultah ke tujuh belas dengan menggelar pameran atas 
karya-karyaku sendiri adalah peristiwa yang berkesan sekali dalam seumur 
hidupku,” kata siswi kelas dua SMA St. Peter, Kelapa Gading, Jakarta Utara. 
Ellawijt pun berharap, hari ulang tahun ketujuh belasnya ini akan menjadi 
peristiwa yang tidak bisa ia lupakan seumur hidupnya, kelak. 
   
  Diselenggarakan oleh Ellawijt bekerjasama dengan Museum Nasional, Badan 
Narkotika Nasional, serta Idekami Communication sebagai event organizer, 
perayaan ulang tahun dengan pameran tunggal lukisan ini pun akan menjadi bagian 
dari perayaan Hari Musium Internasional yang jatuh pada 18 Mei 2007. “Kami 
ingin menjadikan momentum ini sebagai bagian dari perayaan hari bersejarah 
lahirnya musium ke dunia. Dan semoga, usia muda seorang Ellawijt dapat menjadi 
penambah semangat baru bagi dunia seni kita khususnya kalangan generasi muda,” 
kata Dra. Dedah Rufaedah, Kepala Bimbingan dan Publikasi Museum Nasional, 
Jakarta. 
   
  Menurut Ellawijt, di pameran ini dia ingin berbagi pengalaman dan kesenangan 
dengan semua orang. Khususnya, kepada generasi remaja belia seusianya dan para 
pecinta seni lukis Indonesia umumnya. Bahwa, masa muda baginya adalah masa-masa 
indah untuk bermain, menimba ilmu, serta kreatif menempa minat dan bakatnya 
dengan melukis.
   
  “Dengan melukis aku seperti mendapatkan tempat pelarian dari desakan-desakan 
emosi untuk menuangkan keindahan obyek apapun yang kulihat dan senangi,” ucap 
Ellawijt. “Dunia yang satu ini telah memberiku kebebasan berekspresi untuk 
memperoleh ketenangan jiwa,” kata Ellawijt.
   
  Melukis pun kiranya bukan hanya memberikan kepuasan batin. Berkat 
kegemarannya inilah, School of Art Institute Chicago di Amerika Serikat melirik 
Ellawijt untuk menerima beasiswa menuntut ilmu seni lukis (art of painting) di 
institut seni tersebut. “Karena itulah selain melukis aku tetap harus giat 
belajar supaya tidak tingal kelas,” kata Ellawijt, yang baru akan menggunakan 
bea siswa itu setelah lulus SMA tahun depan.
   
  Lahirnya Pelukis Belia, Multitalenta
  Lengkapnya adalah Manuella Wijayanti. Seorang puteri ke tiga dari pasangan 
Djohan dan Diah Pangestu. Sapaan Ellawijt sendiri tak lain singkatan dari 
namanya, ManuElla Wijayanti.  
   
  Lahir di Jakarta, 8 Mei 1990, Ella, -begitu dara ini biasa disapa, mengaku 
minatnya melukis datang dan dimulai dari hobinya menggambar kala duduk di 
bangku playgroup. Melukis bagi cucu almarhum pelukis asal Surabaya, Sugiyanto, 
ini bukanlah bakat turunan dari kedua orang tua maupun langsung dari sang 
kakek. “Konon Ibu bilang, waktu aku masih dalam kandungan ibuku ngidam pergi ke 
pameran lukisan sampai berkali-kali,” kenang Ella.    
   
  Merangkak SD, ayahnya mulai mengenalkan Ella dengan pastel dan kanvas. “Sejak 
itu aku merasakan bedanya kenikmatan antara melukis dan menggambar, dan aku 
pilih melukis karena sangat besar keinginan tertantangnya,” ucap Ella. “Warna 
dalam menggambar itu sudah matang, sementara warna dalam melukis itu kita 
sendiri yang menciptakan, inilah yang membuatku senang melukis,” ujar Ella.  
   
  Di bangku SMP, Ella semakin keranjingan melukis. Di lantai dua kediaman 
keluarganya, -- yang juga dijadikan “pabrik bingkai” lukisan milik ayahnya, 
Ella tekun sendirian melukis. Kesenangannya ketika itu adalah bermain dengan 
garis dan arsiran. 
   
  Melihat keseriusannya, selama setahun sang ayah lalu mendatangkan seorang 
guru lukis untuk mendampingi Ella. “Saya hanya ingin dia serius terhadap apa 
yang dia senangi, sebab yang namanya hobi akan dibayar sangat mahal jika hanya 
main-main, akan banyak buang waktu, tenaga, juga materi,” ujar Djohan, ayahanda 
Ella. 
   
  Menginjak kelas tiga SMP, Ella mengantongi penghasilan pertamanya dari 
melukis. Dan, di jenjang SMA-lah masa-masa Ella semakin mengenal “the real 
world” dunia seni lukis. Dunia yang hingga kini digandrunginya. Bahkan, di 
bangku kelas satu Ella sudah mengikut pameran lukisan bersama untuk yang 
pertama kalinya. Dan sampai kini, sekitar tujuh kali pameran bersama pernah 
Ella ikuti. 
   
  Ada satu pengalaman menarik Ella dapatkan. Di sebuah pameran bersama 
bertajuk, “Karya Prajurit ke-20”, di gedung WTC pada 13-17 November 2006 lalu, 
Ella didaulat melukis hanya bermodalkan garis yang digoreskan di kanvasnya oleh 
Menteri Pertahanan dan Keamanan, Bapak Juwono Sudarsono. “Kemarin sudah ada 
yang membeli lukisan tersebut,” tukas Ella.
   
  Sejatinya, bagi Ella, melukis senantiasa memberikan ketenangan jiwa. Jiwa 
remaja yang ingin selalu memberontak dan senang mencoba hal-hal baru. Dan 
ketika menanggapi fenomena dunia remaja yang kini semakin dihantui ancaman 
narkoba, Ella mengaku, lukisan sangat tepat dijadikan sebagai media pelampiasan 
untuk “menemani” gejolak jiwa anak muda. “Dengan melukis kita bisa menuangkan 
emosi kita sebebas-bebasnya. Kanvas, cat, kuas dan palet itu adalah bestfriend 
kita, kita dapat menuangkan emosi ke mereka tanpa kuatir akan mereka bocorkan 
ke mana-mana. Mereka adalah pendengar yang baik,” ujar Ella. 
   
  Ihwal begitu banyak remaja seusianya terjerumus narkoba, Ella mengakui, hal 
tersebut sebagai sesuatu hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih, baik dari 
masyarakat sendiri maupun pemerintah. “Sebetulnya kita harus kasihan dan tidak 
bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Untuk yang belum terjerumus lebih baik 
jangan sekalipun mencoba, jika ada masalah atau sekedar kepengin tahu, lebih 
baik isi waktu muda ini dengan sepadat-padatnya kegiatan positif,” tukas Ella. 
   
  Kini, di tengah ketatnya mengejar angka rapor yang “harus” di atas rata-rata 
angka tujuh agar tidak tinggal kelas, siswi kelas dua jurusan IPA ini tetap 
melakoni hobinya melukis di antara sela waktu kursus Fisika atau Matematika. 
Dan tidak hanya melukis, Ella pun rupanya cukup berani menunjukkan bakatnya 
ketika “dipaksa” duduk di depan piano. 
   
  Menurut Ella, hobi positif tidak hanya sekadar menjadi aktifitas sambil lalu 
untuk membuang waktu luang. Jika dilakoni serius, hobi bisa juga menjadi sumber 
investasi di masa depan. Semisal, ketika uang puluhan juta pernah didapatkannya 
dari hasil penjualan delapan buah lukisannya sebulan yang lalu. Belum lagi, 
prestasinya di dunia lukis telah berbuah bea siswa yang akan membawa Ella 
berkuliah di School of Art Institute Chicago, Amerika Serikat, tahun depan.  
   
  “Puji Tuhan, aku bersyukur bisa mendapatkan semua ini, dan tentu saja tidak 
hanya dengan doa melainkan juga disertai ketekunan dan dukungan keras orang 
tuaku,” kata Ella. 
   
  
   
  M. Latief / PR Manager Idekami Communication 
  Phone        : 021 759 04 551 – 021 766 98 70 
  Fax            : 021 759 04 530
  Mobile        : 0812 829 1263 
  [EMAIL PROTECTED]
   
   
   

 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke