Keroncong Jangan Mati

Keroncong jangan sampai mati! Pesan itu diulang-ulang Gesang dalam
kondisinya yang sangat lemah karena didera sakit dalam usia tuanya.

Gesang yang selama ini selalu diidentikan dengan maestro musik keroncong
memang patut gundah dengan kondisi musik keroncong belakangan ini.
Berbagai jenis musik dari luar yang masuk ke Indonesia begitu gencarnya
sehingga menenggelamkan musik asli Indonesia dan mempengaruhi
perkembangan musik di tanah air. Anak-anak muda saat ini begitu
menggandrungi musik yang diimpor baik melalui tampilan artis-artis asing
yang datang langsung maupun melalui peredaran cd dan kaset-kaset yang
mewabah di mana-mana. Belum lagi melalui jaringan internet yang bisa
di-down load dengan mudah.

Musik keroncong jangan sampai mati. Mungkin Gesang begitu khawatir
karena usianya yang sudah mencapai 90 tahun dan tubuh yang rentan saat
ini tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Padahal dia menyadari
dirinya selama ini dijadikan 'maskot' keroncong.

Akankah keroncong mati sepeninggal Gesang? Pertanyaan itu yang hendak
dijawab dalam topik Kick Andy kali ini. Sebab keroncong diyakini
merupakan musik asli Indonesia yang sudah ada sejak tiga abad lalu.
Setidaknya bisa ditelusuri dari keberadaan Keroncong Tugu yang kini
sudah turun temurun hingga generasi kesembilan.

''Kami terpaksa kompromi dengan selera pasar,'' ungkap Andre, generasi
kedelapan keturunan Portugis yang dengan berbagai upaya berusaha
bertahan. Upaya mereka itu termasuk memasukan unsur dangdut dan pop
dalam Keroncong Tugu yang kesohor itu.

Lalu apa komentar Waljinah, penyanyi yang sejak 1970-an sudah
menyanyikan lagu-lagu keroncong? Juga menarik untuk menduga-duga mengapa
sebelum meninggal Gesang ingin bertemu sundari Sukoco dan Iwan Fals.

Tampilnya Sundari Sukoco, penyanyi keroncong, dan Tony Q, penyanyi
reggae, menyanyikan lagu 'Bengawan Solo' melengkapi kenikmatan kita
mendengarkan musik keroncong yang terancam punah itu.







Copyright © 2007 Website Team Kick Andy. All rights reserved.







Kirim email ke