SIARAN PERS
   
  Untuk Diterbitkan Segera
   
   
  Kesuksesan Program Harm Reduction : Berkaca Pada Iran
   
  Warsawa – Polandia, 15 Mei 2007. Dua dekade sudah Program Harm Reduction 
membuktikan kesuksesannya di dunia, terutama di benua Eropa. Di Asia, dan 
negara-negara Timur Tengah, program ini baru saja berusia kurang dari satu 
dekade.
  Iran adalah salah satu negara yang berhasil menjalankan program ini, - tanpa 
menebarkan lebih banyak lagi jarum suntik. Apa rahasianya?  
   
  Saat ini, terdapat lebih dari 2,5 juta pengguna napza di Iran. Penggunanya 
pun lebih banyak kaum pria sehingga masalah ini dikategorikan sebagai male 
issues. Upaya untuk menghambat distribusi obat-obatan dan jarum suntik juga 
dipandang tidak berhasil. Bahkan data terbaru tahun 2007 menyatakan bahwa 
terdapat sekitar 6.200 ton narkotika terdistribusi di kalangan penggunanya. 
Selaras dengan itu, terjadi pula peningkatan jumlah pasien HIV/AIDS treutama di 
kalangan pengguna napza. Hal ini dianggap sebagai masalah ganda yang alami, 
karena keduanya saling terkait erat. 
   
  Departemen Kesehatan Iran mencatat terdapat sekitar 1300 kasus baru HIV/AIDS 
di awal tahun ini.  Dikatakan oleh Azarakhsh Mokri, MD, PhD, Associate 
Professor dari Fakultas Psychiatry University of Iran, sama dengan kasus di 
negara-negara lain, penyebabnya terutama dikarenakan oleh penggunaan jarum 
suntik secara bergantian dan tidak steril. Peningkatan tertinggi bahkan terjadi 
di dalam penjara! Mokri mengatakan bahwa ini dikarenakan hukum negara Iran 
melarang keras penggunaan napza. Pelakunya dianggap kriminal dan langsung 
dipenjarakan. 
   
  Mokri menegaskan bahwa peningkatan penggunaan jarum suntik di dalam penjara 
cenderung lebih baik ketimbang bila terjadi di luar penjara. Meski demikian, 
bukan berarti hal ini akna dibiarkan terus menerus. ”Pemerintah terus berupaya 
untuk mengurangi epidemi ini. Hal ini menjadi lebih baik karena konsentrasinya 
terpusat di dalam penjara,” kata Mokri.
   
  Saat ini yang dilakukan oleh pemerintah Iran adalah menggandeng perguruan 
tinggi dan lembaga setempat untuk program konseling dan terapi obat pengganti. 
Lebih dari 1.200 private MMT centre dibangun untuk memfasilitasi program ini. 
Enam ratus diantaranya dibangun di penjara dan berfungsi dengan sangat baik 
dengan cakupan mencapai 8.200 klien narapidana.
   
  Private Centre ini menyediakan layanan konseling dan terapi obat pengganti 
(metadone dan buprenorphine). Para klen (narapidana) pun tidak kesulitan dalam 
mengakses layanan ini. Selain jarak yang dekat, para klien juga tidak perlu 
membayar biaya apapun karena pemerintah Iran mensubsidi semua keperluan 
obat-obatan harian (metadone dan buprenorphine).
   
  Para klien yang sudah keluar dari penjara atau masa tahanannya telah habis 
juga tetap bisa melanjutkan program ini dengan mengunjungi private centre 
terdekat. Dengan demikian prpgram konseling dan terapi obat bagi para klien 
tersebut tidak terhambat.
   
  Program yang sudah berlangsung selama tujuh tahun ini memang belum 
menampakkan hasil yang signifikan. Bila terjadi penurunan kasus dalam penjara, 
terjaid peningkatan kasus baru yang terjadi di luar penjara. Penyebab utamanya 
adalah Opium. 
   
  Iran merupakan salah satu negara penghasil opium, - meski skalanya tidak 
sebesar Amerika Selatan. ”Kami terus berusaha meregulasi hukum terhadap 
keberadaan ladang opium di Iran,” kata Mokri. Jika hukum tersebut bisa 
diterima, maka ia yakin keberhasilan program Harm Reduction ini akan lebih 
terlihat.
   
  Dalam sesinya di Kongres Internasional Harm Reduction ke-18 yang berlangsung 
di Warsawa 13-17 Mei 2007, Azarakhsh Mokri juga membagi kiatnya dalam membangun 
private MMT Centre ini. 
   
  Untuk sebuah private centre yang mampu melayani 50 – 200 klien, dibutuhkan 
hanya ruangan seluas 75 meter persegi dengan fasilitator 1-2 orang perawat, 1 
orang psikolog ataupun psikiater dan atau pekerja sosial, persediaan metadone 
dan obat-obatan lain yang mendukung penyembuhan para pecandu, serta legalisasi 
dari lembaga kesehatan terkait. Di Iran, private centre ini dianggap lebih 
efektif oleh pemerintah setempat karena biaya operasionalnya yang murah. 
”Setiap bulan, private centre ini hanya membutuhkan biaya opersional sebesar 50 
– 75 US Dollar yang disokong oleh pemerintah maupun pendonor,” kata Mokri.
   
  Laporan : Elizabeth Swanti dari Warsaw, Polandia
   
  Catatan : Artikel ini dapat dikutip dan digunakan dengan bebas oleh 
rekan-rekan media untuk kepentingan publikasi guna keberhasilan yang lebih baik 
akan program Harm Reduction di Indonesia
  l--- selesai ---
   
             
  Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta. Sebuah organisasi non 
struktural  yang dipimpin oleh Wakil Gubernur Prov. DKI Jakarta selaku Ketua 
KPA Provinsi. Visi; Jakarta Sehat Terhindar HIV/AIDS. Misi; Pelayanan 
profesional, manusiawi, efektif dan efisien dengan azas keterpaduan dan 
kemitraan. Meningkatkan ketahanan keluarga dan masyarakat. Memberdayakan 
kelompok resiko tinggi tertular HIV.Tujuan; Terkendalinya kasus IMS & HIV/AIDS. 
Terselenggaranya aktifitas penanggulangan HIV/AIDS yang profesional, 
terjangkau, menyeluruh dan merata. Terpadunya upaya penanggulangan IMS & 
HIV/AIDS.
   

   
  Teddy A. Setiadi. Media Relations Officer. Komisi Penanggulangan AIDS 
Provinsi DKI Jakarta. Ged. LPMJ/P2TP2A. Jl. Raya Bekasi Timur Km. 18. Pulo 
Gadung. Jakarta 13250. Telp. 021-47880171. HP. 0811186769.
   

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke