Kalau kita lihat sekarang kondisi ekonomi mikro Indonesia sungguh mengenaskan,
bila kita coba jalan-jalan ke supermarket, bahkan hypermarket, di Mall-mall
terasa sepi. Terakhir kita dengar ada mobil honda jazz yang terjun dari parkir
lantai 6, itupun bukan ke Mall, namun pergi ke acara gereja.
Kalau kita lihat, coba ke supermarket atau Hypermarket di siang hari,
pengunjung terasa kosong. Belanja di Mall terbesarpun demikian, suasana terasa
sepi. Pengunjung ramai hanya dua hari seminggu, yaitu pada hari Sabtu-Minggu
saja. Para pramuniaga sering bergerombol ngobrol dengan kelompoknya hanya
untuk mengusir rasa kantuk, menunggu pengunjung.
Yang masih ramai hanya pengunjung bioskop Spiderman 3, wah, membludak, itupun
karena studio 21 telah menurunkan harga menjadi rata-rata Rp 35,000 bahkan di
Plaza EX.
Bagaimana kita menyikapi hal ini?
Para pengusaha semakin terdesak, terpojok, entrepreneur kecil-kecilan sudah
gulung tikar dari tahun lalu. Sementara restoran besar mengalami desakan
kontraksi pasar, industry makanan menjadi over supply. Lihat saja counter
Donuts, atau Bakery, kebanyakan sepi.
Pengusaha harus cepat berubah haluan, istilahnya back to basic. Kembali ke
basic. Kalau dulu handphone yang laku adalah model terbaru, harga Communicator
9500 dulu sempat harganya 15 juta, sekarang handphone yang asal bisa untuk
menelepon, syukur-syukur dual band, ngirit, kalau perlu rekondisi.
Di Bandung ada Babe, Barang bekas, tokonya masih ramai. Kita harus siap
dengan fenomena ini Babe, kalau perlu dibuat satu paket kebutuhan keluarga:
pisang, beras, minyak, roti, susu, Indomie, biscuits, selai, sabun, shampoo,
detergent, baju anak-anak, odol satu paket seperti parcel harganya Rp 20,000.
Dananya darimana? tidak mungkin menjual paket tersebut semurah itu, dananya
darimana? Bisa dari sumbangan orang kaya, sedekah, zakat, perpuluhan, atau
sumbangan tenaga pengemas. paket dikemas oleh pekerja voluntir, iklan didukung
oleh media secara sukarela.
Kondisi negara kita seperti refugee. Kita perlu memikirkan makanan bagi
pengangguran, selama ini mereka ditanggung oleh keluarga. Ibarat keluarga
beranak 4, yang dua bekerja yang dua lagi mengantar jemput layaknya ojek.
Lambat-laun keluarga tidak lagi mampu mendukung beban beratnya biaya hidup.
Akhirnya sekarang banyak sekali pasangan pisah ranjang hanya karena tekanan
ekonomi.
Sudah banyak sepeda motor dijual, yang sudah lunas, dikredit kembali, tanah
dijual murah, rumah dijual, untuk makan. Kalau dulu pengemis banyak yang
pura-pura sekarang semua orang miskin beneran.
Warung nasi Padang yang menjual ayam kare, rendang, perlu dirubah menjadi
warung tegal yang menyediakan teri, tahu, dan telor balado. Negara kita
diberkati dengan sambal. Hanya dengan sambal maka makanan terasa nikmat,
walaupun harus hemat.
Kadang seperti di sebuah foodcourt di Mall, banyak sekali orang makan,
makanan manado, makanan sunda, bebek goreng, tom yam seafood, namun pernahkah
kita berpikir, beberapa orang tidak cukup memiliki uang untuk makan disana?
sedangkan makanan dipajang secara terbuka.
Di Jerman dan beberapa negara Eropa ada undang-uandang yang tidak menghukum
pencuri makanan yang melakukan karena lapar, dan miskin. Manusia kalau tidak
diberi makan, apa disuruh mati saja? Bahkan salah satu peri kebinatangan
adalah setiap binatang wajib diberi makan.
Sekarang kalau melamar kerja masih untung mendapat penurunan gaji, karena
bahkan perusahaan terbesarpun melakukan pengurangan karyawan, calon karyawan
sudah tidak lagi menuntut Toyota Vios, atau Avanza, naik sepeda motor atau
Busway pun cukup, asal anak-anak tidak putus sekolah.
Uang pesangon PHK tahun lalu sudah habis, karena iklim investasi sungguh
memburuk. Bila anda Manajer Senior, lakukanlah yang terbaik, bukan karena
mengejar gaji anda, lakukanlah untuk menolong menyelamatkan karyawan dari
pengangguran.
Pemerintah perlu memikirkan pengangguran ini, bila tidak maka bukan masalah
demo buruh yang ditakutkan, namun demo pengangguran. Taksi di pool-pool banyak
yang menganggur, apakah tidak cukup sopir? masalahnya sopir banyak, namun
penumpang kurang, sehingga banyak sopir taksi kerja rodi, keliling seharian
hanya impas untuk biaya bensin.
Acara TV seperti Deal or No Deal, Who want to be millionaire, Super Deal 2
Milyar perlu dihentikan, sungguh menyakitkan melihat uang Rp 150 juta diberikan
begitu saja kepada kontestan. sungguh menyakitkan.
Polisi sekarang kalau mau menilang harus ngotot-ngototan karena sopir pun
taidak punya uang, sehingga beberapa Polisi terpaksa menutupi mukanya dengan
helm dan menutupi nama di dadanya dengan penutup saku yang diganjal HT.
Pemerintah perlu melakukan crash program seperti karang taruna, atau
organisasi pemuda mungkin tanpa gaji, namun paling tidak disediakan makanan dan
kesibukan. Saat ini para pengangguran sudah tidak lagi mencari uang, namun
mereka sudah mencari harga diri yang semakin lama semakin menipis....
Bila hidup tidak dihargai, maka orang akan mencari mati.
salam,
GG
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.