“Long Road to Heaven”: Siapa  Takut? 5-3-2007
Oleh :  Nuruddin Asyhadie/Common Ground News

  
Jakarta- “Apa sih mau  kalian? Kenapa kalian terus membunuh kami? Apa 
untungnya?” Pertanyaan-pertanyaan  itu dicecarkan Hannah Catrelle, seorang 
peselancar Amerika, pada Haji Ismail,  seorang tokoh Muslim Bali, ketika mereka 
bertemu di  sebuah rumah sakit di Bali, pada malam tragedi  Bom Bali I, 12 
Oktober 2002.
 Hannah tak dapat menerima  kenyataan bahwa tempat yang dipercayainya sebagai 
surga diluluhlantakkan oleh  peristiwa serupa yang telah mencuri nyawa 
kekasihnya dalam tragedi 9/11. Seperti  kebanyakan orang Barat, ia juga melihat 
bahwa semua Muslim adalah  teroris.
 “Orang-orang yang melakukan  tindakan keji ini, mereka tidak mengerti Islam. 
Tentang betapa agungnya agama  itu... Mereka pikir, dengan melakukan hal ini, 
mereka mendapat jalan pintas  menuju surga. Tapi jalan pintas ke surga tidak 
ada, Hannah. Jalan ke surga  adalah perjalanan yang panjang,” jawab Haji Ismail.
 Percakapan ini adalah sebuah  adegan dalam film Long Road to Heaven (LRtH), 
karya sutradara Enison Sinaro dan  diproduksi oleh perusahaan Amerika 
TeleProduction International bekerjasama  dengan Kalyana Shira Films di 
Indonesia. Film yang baru saja dirilis ini akan  diikutsertakan dalam berbagai 
festival film internasional dan dilempar ke  pasaran dunia.
 Film yang naskahnya digarap oleh  dua penulis Singapura, Andy Logam Tan dan 
Wong Wai Leng ini mencoba  mempertanyakan jihad militan sembari menunjukan 
bagaimana konsep tentang surga  mengharubiru sejarah umat manusia. Usaha-usaha 
untuk mencapainya seringkali  menciptakan kekerasan dan kesengsaraan yang 
berlawanan dengan citra surga  sendiri.
 Mengambi Tragedi Bom Bali 2002  Bali sebagai latar, LRtH mengisahkan empat  
cerita tentangkan kompleksitas pencarian surga dalam sebuah plot yang sangat  
rumit. Tiap kisah memiliki latar waktu yang berbeda, namun disajikan secara  
bersamaan, saling menyela satu sama lain. 
 Kisah pertama terjadi satu tahun  sebelum Bom Bali 2002, saat para pemimpin  
Jama’ah Islamiah dan Mantiqi 1, dua organisasi yang bertanggung jawab atas  
pengeboman tersebut, merencanakan operasi. Kisah ini fokus pada usaha Mukhlas  
membujuk Hambali untuk memilih Bali sebagai target pengeboman, hanya karena  
seorang bule yang tak mengijikannya masuk ke dalam lift, mengenakan sebuah  
t-shirt bertuliskan “I Love Bali”. 
 Kisah kedua, berlangsung pada masa  satu bulan sebelum Bom Bali. waktu Ali 
Imron dan anggota komplotan lainnya  melaksanakan rencana mereka. Di sini 
disajikan persaingan antar mereka dan  motivasi-motivasi tersembunyi mereka.
 Kisah ketiga berputar pada  menit-menit setelah pengeboman, ketika paramedis 
dan sukarelawan menolong korban  luka dan mengidentifikasi korban tewas. Di 
sinilah, Hannah, dalam interaksinya  dengan Haji Ismail, bergelut dengan 
prasangka-prasangka dan  stereotipe-stereotipenya terhadap Islam dan Muslim. 
 Kisah terakhir mengambil waktu  satu tahun setelah peristiwa pengeboman, saat 
seorang wartawati Australia, Liz Thompson, mendatangai Bali untuk  mendapatkan 
sebuah laporan yang menarik. Ditemani Wayan Diya, sopir taksi yang  disewanya, 
Liz berkeliling Bali untuk mewawancarai penduduk lokal tentang  perasaan mereka 
akan peristiwa tersebut dan para pengebom. Liz gagal mendapatkan  
pernyataan-pernyataan yang menarik. Jawaban yang selalu ia dapatkan hanyalah,  
“Hidup akan menjadi lebih baik” Dari Wayan, ia kemudian belajar bahwa  
orang-orang Bali percaya bahwa keseimbangan adalah inti dari kehidupan, sebab  
itulah mereka memaafkan pengeboman tersebut, bahkan melihatnya sebagai sebuah  
hukuman dari para dewa karena dosa-dosa mereka. 
 Sebagai sebuah film yang  mengangkat tragedi, LRtH tak dapat melepaskan diri 
dari dilema etis. Di satu  sisi ia menunjukan belasungkawa, di sisi lain, 
intensi artistik dan kesenangan  yang ditawarkannya menunjukan kekebasan hati 
pada duka para korban dan/atau  keluarganya. 
 “Hal itu tak terelakan. Tapi kami  tak mengeksploitasinya. Ada banyak 
pelajaran yang bisa diambil dari tragedi  tersebut,” ujar Enison, sang 
sutradara. 
 Enison benar. Salah satu dari  pelajaran itu terlukis dalam kata-kata mutiara 
yang mengalir dari bibir Haji  Ismail ketika bercakap-cakap dengan Hanna: “Yang 
mereka (para pengebom) hanya  hal-hal yang kecil. Mereka tidak bisa melepaskan 
diri dari masa lalu. Mereka tak  bisa melihat sesuatu selain rasa sakit yang 
mereka derita.”  
 Meskipun kata-kata itu  sesungguhnya ditujukan bagi para pengebom, tetapi ia 
juga menjawab wacana moral  di atas, dengan menunjukan bahwa film ini bukan 
hanya narasi “surga yang hilang”  tetapi juga “penemuan kembali surga”. 
Mendengar kata-kata itu, Hannah menyadari  bagaimana prasangka-prasangka, yang 
berakar pada kemarahan akan surganya yang  hilang dan kepedihan atas kematian 
kekasihnya dalam tragedi 11/9, dapat  menjerumuskannya pada kebencian yang sama 
dengan yang dirasakan oleh para  teroris, meski mungkin ujungnya berbeda. 
 Hal lain dan mungkin yang lebih  penting, film tersebut dapat dilihat sebagai 
sebuah pesan bagi kita bahwa  pemahaman saja tidak cukup untuk menghentikan 
terorisme atau kekerasan. Pertama  sekali, kita harus berdamai dengan diri 
sendiri, melucutkan diri dari ego kita.  Baru kemudian kita dapat melangkah 
memasuki “liyan”, tanpa persyaratan apa pun.  
Ini  bukan tugas yang mudah, namun sebagaimana dinyatakan oleh Haji Ismail, 
jalan ke  surga adalah sebuah jalan yang panjang. Siapa takut? []

Salam
Tarsih Ekaputra
Journalist
[redaktur F Magazine
:: M: 08567515749
personal site: https://tarsihekaputra.multiply.com, www.myspace.com/cahndeso

              
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.

Kirim email ke