Dear roslina, Saya pikir kita cukupkan saja komentar ttg lafal Allah ini, krn pasti tak ada ujungnya. Apalagi anda salah mempersepsikan ketersinggungan saya. Sekadar mengingatkan, saya bukan mempersoalkan atau mengagungkan atau percaya penuh pada lafal Allah yg muncul di setiap tpt. Kemarin yg membuat sy jengkel adalah sikap anda yg mnrt sy tdk fair krn anda memberikan contoh ttg kemunculan Allah dan Yesus dalam kondisi yg kontradiktif. Knp dr dua cth kemunculan Allah selalu berdampak bencana hebat bg manusia. Sdg dua cth ttg kemunculan Yesus selalu happy ending. Cm itu yg sy persoalkan. Kalau masalah kemunculan lafal Allah sy tak pernah mau komentar krn sbg manusia saya tdk tau tentang kebenaran hal itu. Jd sy pikir sy tdk kompeten u/ ikut-ikutan mengomentari masalah itu. Cm sbg org muslim patutlah sy mempertanyakan dan mengecam siapa pun yg jelas-jelas bermaksud mendiskriditkan kebesaran Allah. Kalau sy sensitif seperti yg anda tuduhkan jujur saja sudah dr kemarin sy mengomentari banyak hal di milis ini yg berkaitan dgn agama. Tp hal itu tdk sy lakukan, krn sy pikir sbg umat beragama wajar kalau setiap org menilai agamanya paling bagus dan paling benar serta paling cocok di zaman ini. Tapi hal itu tdk sy lakukan. Sy berusaha jadi pembaca yg baik, dan menganggap komentar-komentar miring ttg jilbab dan lainnya sbg masukan yg berharga. Krn sy percaya Keberagaman itu indah jika kita saling menghormati dan menghargai. Selama cara penyampaiannya tdk dgn nada memprovokasi krn hal itu bisa membahayakan kelangsungan hidup antar umat beragama. Wassalam... Yumeldasari chaniago
----- Original Message ----- From: [email protected] <[email protected]> To: Mediacare <[email protected]> Sent: Tue May 22 19:34:24 2007 Subject: [mediacare] Lafal Allah Dear Yumelda Chaniago, sorry saya lama tdk punya waktu baca e-mail. Menurut penilaian saya anda memang cukup sensitip, sayangnya kesensitipan itu agak berat sebelah. Anda bisa menilai apa yg tersirat dari postingan saya menanggapi postingan ttg telur tsb. Namun apakah anda juga sensitip terhadap akibat sensasi-sensasi demikian ini dilingkungan masyarakat majemuk Indonesia Raya? Anda merasa tersinggung atas tanggapan saya, mungkin juga banyak miliser lain yg punya perasaan yg sama namun tdk diungkapkan. Tapi bukankah penomena demikian ini perlu ditanggapi dgn serius? Siapakah mereka yg mempostingkan semua issue ttg. lafal Allah itu? Apakah motivasi mereka? Menjawab pertanyaan I ttg siapa, hampir dapat saya pastikan mereka adalah penganut agama Islam. Ok tidak apa-apa. Setiap orang bisa bangga atas pandangan hidupnya, dapat saya hargai dengan catatan pandangan hidup yg membangun sesama manusia. Tapi sebagai orang berpendidikan seperti yg anda ungkapkan, seharusnya kita menunjukkan kwalitas pandangan hidup/agama kita itu bukan? Untuk itulah saya menanggapi postingan itu dengan sedikit kadungan provokatif dalam arti menantang sikap kritis kita terhadap sesuatu. Itulah sebabnya saya sangat mencintai cara penulisan Indonebia. Tulisannya sering disalah mengerti, tapi bagi saya dia adalah orang pintar. Contohnya, ketika digembor-gemborkan lafal Allah di api Lapindo, berikut dikirimkan gambar lafal Allah di Ombak Tsunami, maka muncul lagi lafal Allah dalam bunga yg merambat di hutan yg menyemburkan bau busuk, lafal Allah di bulu Kucing, Indonebia berkomentar, jangan-jangan sebentar lagi lafal Allah akan muncul di bulu Babi oleh si kafirun, gitu kira-kira tulisan Indonebia, namun sayangnya para pencinta lafal ini belum menyadari sindiran Indonebia. Apa sih makna dari pemunculan lafal ini? Dengan terbitnya matahari setiap pagi dan kita semua boleh bangun dengan segar seharusnya cukup bagi kita sebagai pertanda kehadiran Allah kita yg Maha Kuasa. Sebagai orang-orang intelektual, kita semua harusnya tahu bahwa rotasi bumi dan segala season di alam semesta ini tdk mungkin sedemikian teratur kalau tdk ada yg mengendalikan. Atau yg paling sederhana dan naif adakah diantara kita yg bisa mempertahankan nafas kehidupan ini? Adakah defenisi syarat-syarat kematian secara defenitif? Jawabnya TIDAK. Setiap orang dalam setiap kondisi dpt mati dalam sekejap. Ok, spy tdk terlalu menyimpang, menurut saya jika ada pemunculan berupa tanda-tanda supernatural, seharusnya kita semakin mawas diri dan merendahkan diri sekaligus. Saya tdk bermaksud menistakan atau bahkan menyangkali adanya penomena-penomena tersebut, tapi sebaliknya _menggarisbawahi. _ Kalau lafal Allah itu nampak nyata di api Lapindo, sedang dampak yg nyata akibat semburan api dan lumpur itu kota sidoarjo hancur. Mari kita semua, terutama umat Islam yg besar di Indonesia, merenungkan apa message yg ingin Tuhan Allah sampaikan? Mungkin Allah telah murka sebab banyak orang mengaku pengikut dan pemuja Allah namun tingkah laku mereka tdk membawa hormat pada Allah. Pemegang kekuasaan di NKRI mayoritas menyembah Allah, tetapi negara ini hancur berantakan? Setelah banjir Jakarta, ada ajakan utk doa pertobatan. Mudah-mudahan dengan sentuhan-sentuhan lafal ini mencapai masyarakat pembeli telur, semua rakyat Indonesia semakin waspada dalam menggunakan nama Allah. Tentu saya langsung teringat keadaan di Poso. Bukanlah rahasia lagi bahwa penjagalan antar sesama yg terjadi di sana lagi-lagi menggunakan nama yg sama. Jika kita mundur kebelakang, peristiwa di Ambon, peristiwa mei 98, peristiwa di Bali, semua ini terjadi dan para pelaku selalu menyerukan nama Allah. Menurut saya justru inilah yg layak disebut sebagai penistaan atas nama Allah. Saya anggap Mediacare adalah arena yg layak dipakai sebagai anjang mendiskusikan segala sesuatu secara terbuka dan secara intelektual. Mari teman-teman beragama Islam, kaum intelektual di Mediacare, bawalah suara-sauara halus ini utk memperbaiki cara berpikir umat secara kritis dilingkungan anda. Tidak perlu kita menggembar-gemborkan namaNya tanpa makna pertobatan yg mendatangkan kesejahtraan bersama. Mari kita mencermati semua fakta dgn cara berpikir sehat dan kritis. Di samping fakta adanya lafal Allah di api lapindo, di ombak di telur, juga ada fakta yg terjadi di Poso dan telah diwartakan di media TV,Internet dan media tulis seperti Kartini dll. Kenapa kita tdk menanggapi kedua penomena ini dari cara berpikir yg sama misalnya, penomena lafal Allah merupakan PERINGATAN agar jangan sembarangan menggunakan nama Allah tanpa pengamalan ttg kesucian Tuhan Allah itu, dan cinta kasihNya terhadap manusia ciptaanNya, sementara penomena kuasa menggunakan nama Yesus adalah demi mendatangkan kebaikan bagi sesama. Bukankah keduanya *positif*? Dalam hal ini kedua belah pihak baik Kristen maupun Islam diperingatkan untuk mengagungkan sesembahanNya dalam proporsi yg tepat dan benar demi kepentingan bermasyarakat? Yesus juga akan murka melihat kejahatan, tapi yg kita alami Dia sedang menyembuhkan hati orang-orang yg luka di Poso dengan mendatangkan kesembuhan bagi siapa saja terutama mereka yg tak mampu membayar pengobatan yg cukup mahal di NKRI. Rakyat jelata yg menderita tanpa ansuransi kesehatan. Dimanakah anda-anda yg masih berpikir positip dan intelektual itu? Bukan Allah yg salah, tapi manusianyalah yg harus koreksi diri. Mumpung NKRI masih menjunjung tinggi Pancasila, mari kita kembali menjadi manusia-manusia intelektual yg beriman dan mengamalkan iman sesuai dengan nurani kemanusiaan ditambah dengan kontrol intektual kita sebagai masyarakat berpendidikan/berilmu. Kiranya kandungan yg tersurat semakin dapat dipahami demi kedamaian dan bukan sebaliknya. PS e-mail ini sempat dibounce mungkin karena saya lupa menghapus postingan dibawahnya alias kepanjangan.
