YAHOO.Shortcuts.hasSensitiveText = true; YAHOO.Shortcuts.doUlt = false;
YAHOO.Shortcuts.location = "us"; YAHOO.Shortcuts.lang = "us";
YAHOO.Shortcuts.document_id = 32; YAHOO.Shortcuts.document_type = "";
YAHOO.Shortcuts.document_title = ""; YAHOO.Shortcuts.document_publish_date =
""; YAHOO.Shortcuts.document_author = ""; YAHOO.Shortcuts.annotationSet = {
lw_1179816437_0: { text: '[EMAIL PROTECTED]', startchar: 252, endchar: 273,
start: 252, end: 273, weight: 1, type:
['shortcuts:/us/instance/identifier/email_address']}, lw_1179816437_1: { text:
'segera', startchar: 396, endchar: 401, start: 396, end: 401, weight: 0.96411,
type: ['shortcuts:/us/instance/place/ambiguous'] , metaData: [ { geoArea:
"2.38855", geoCountry: "Tanzania", geoIsoCountryCode: "TZ", geoLocation:
"(38.550499, -5.3242102)", geoName: "Segera", geoPlaceType: "Town", geoState:
"Tanga", geoTown: "Segera", type: "shortcuts:/us/instance/place/tz/town"}, {
geoArea: "4", geoCountry: "Papua New Guinea",
geoIsoCountryCode: "PG", geoLocation: "(143.54102, -8.2367897)", geoName:
"Segera", geoPlaceType: "Town", geoState: "Western", geoTown: "Segera", geoZip:
"336", type: "shortcuts:/us/instance/place/pg/town"} ] }, lw_1179816437_2: {
text: 'AIDS', startchar: 647, endchar: 650, start: 647, end: 650, weight: 0.35,
type: ['shortcuts:/us/tag/news/thing']}, lw_1179816437_3: { text: 'AIDS',
startchar: 1218, endchar: 1221, start: 1218, end: 1221, weight: 0.35, type:
['shortcuts:/us/tag/news/thing']}, lw_1179816437_4: { text: 'HIV', startchar:
1365, endchar: 1367, start: 1365, end: 1367, weight: 0.35, type:
['shortcuts:/us/tag/news/thing']}, lw_1179816437_5: { text: 'HIV', startchar:
1477, endchar: 1479, start: 1477, end: 1479, weight: 0.35, type:
['shortcuts:/us/tag/news/thing']}, lw_1179816437_6: { text: 'HIV', startchar:
2467, endchar: 2469, start: 2467, end: 2469, weight: 0.35, type:
['shortcuts:/us/tag/news/thing']}, lw_1179816437_7: { text: 'Jakarta',
startchar: 2864, endchar:
2870, start: 2864, end: 2870, weight: 0.863501, type:
['shortcuts:/us/instance/place/id/town',
'shortcuts:/us/tag/travel/destination_content'] , metaData: { geoArea:
"226.905", geoCountry: "Indonesia", geoIsoCountryCode: "ID", geoLocation:
"(106.82911, -6.1828699)", geoName: "Jakarta", geoPlaceType: "Town", geoState:
"Jakarta Raya", geoTown: "Jakarta", travel_id: "485516", type:
"shortcuts:/us/instance/place/id/town" } }, lw_1179816437_8: { text: 'HIV',
startchar: 3011, endchar: 3013, start: 3011, end: 3013, weight: 0.35, type:
['shortcuts:/us/tag/news/thing']}, lw_1179816437_9: { text: 'Uganda',
startchar: 3604, endchar: 3609, start: 3604, end: 3609, weight: 0.928264, type:
['shortcuts:/us/tag/travel/destination_content',
'shortcuts:/us/instance/place/ug/country',
'shortcuts:/us/instance/place/ug/country'] , metaData: { geoArea: "242357",
geoCountry: "Uganda", geoIsoCountryCode: "UG", geoLocation: "(32.304649,
1.36519)", geoName: "Uganda", geoPlaceType: "Country",
travel_id: "191501611", type: "shortcuts:/us/instance/place/ug/country" } },
lw_1179816437_10: { text: 'Indonesia', startchar: 3680, endchar: 3688, start:
3680, end: 3688, weight: 0.942307, type:
['shortcuts:/us/instance/place/id/country',
'shortcuts:/us/tag/travel/destination_content'] , metaData: { geoArea:
"1.89757e+06", geoCountry: "Indonesia", geoIsoCountryCode: "ID", geoLocation:
"(113.9174, 0.10974)", geoName: "Indonesia", geoPlaceType: "Country",
travel_id: "191501631", type: "shortcuts:/us/instance/place/id/country" } },
lw_1179816437_11: { text: 'HIV', startchar: 3957, endchar: 3959, start: 3957,
end: 3959, weight: 0.35, type: ['shortcuts:/us/tag/news/thing']},
lw_1179816437_12: { text: 'HIV', startchar: 4146, endchar: 4148, start: 4146,
end: 4148, weight: 0.35, type: ['shortcuts:/us/tag/news/thing']},
lw_1179816437_13: { text: 'HIV', startchar: 4626, endchar: 4628, start: 4626,
end: 4628, weight: 0.35, type: ['shortcuts:/us/tag/news/thing']},
lw_1179816437_14: {
text: 'mobil', startchar: 5641, endchar: 5645, start: 5641, end: 5645, weight:
0.35, type: ['shortcuts:/us/instance/organization/company/us_public_company']},
lw_1179816437_15: { text: 'mobil', startchar: 5682, endchar: 5686, start: 5682,
end: 5686, weight: 0.35, type:
['shortcuts:/us/instance/organization/company/us_public_company']},
lw_1179816437_16: { text: 'HIV', startchar: 8368, endchar: 8370, start: 8368,
end: 8370, weight: 0.35, type: ['shortcuts:/us/tag/news/thing']},
lw_1179816437_17: { text:
'http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/22/humaniora/3543244.htm', startchar:
8482, endchar: 8545, start: 8482, end: 8545, weight: 1, type:
['shortcuts:/us/instance/identifier/URL']}, lw_1179816437_18: { text: 'Yahoo
Toolbar', startchar: 8636, endchar: 8649, start: 8636, end: 8649, weight:
0.476976, type: ['shortcuts:/us/instance/organization/company/yahoo_property']
, metaData: { yprop_name: "Yahoo! Toolbar", yprop_url:
"http://toolbar.yahoo.com/" } } };
YAHOO.Shortcuts.overlaySpaceId = "97546169"; YAHOO.Shortcuts.hostSpaceId =
"97546168";
Saya rasa perkataan yang tepat adalah epidemic, dan bukanlah genocide.
Genocide adalah pembunuhan besar2-an terhadap suatu kelompok yang
sistimatis dan sengaja berdasarkan ras, politik dengan maksud menghabiskan
kelompok tsb.
--- Papuan Dairy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Komentar:
> GENOCIDE nampaknya akan menjadi sejarah Papua
> dimasa yang akan datang kalau tidak segera mencegah
> penyebaran HIV/AIDS yang semakin tidak terkontrol.
>
[EMAIL PROTECTED] wrote: Saya rasa perkataan yang tepat adalah epidemic, dan
bukanlah genocide.
Genocide adalah pembunuhan besar2-an terhadap suatu kelompok yang sistimatis
dan sengaja berdasarkan ras, politik dengan maksud menghabiskan kelompok tsb.
--- Papuan Dairy
wrote:
> Komentar:
> GENOCIDE nampaknya akan menjadi sejarah Papua
> dimasa yang akan datang kalau tidak segera mencegah
> penyebaran HIV/AIDS yang semakin tidak terkontrol.
>
> -----------------------------------------
>
> Selasa, 22 Mei 2007
> HIV/AIDS di Papua (1)
> Menyelamatkan Papua dari AIDS Elok Dyah Messwati
> Sabtu malam, 12 Mei 2007, di tikungan pom bensin
> lama, Terminal Mesran di Jalan Koti, Jayapura,
> Papua, lima waria sedang menanti pelanggan. Mereka
> memang pekerja seks komersial yang beroperasi di
> tikungan tersebut.
>
> Seorang di antara mereka, Henny Iswayudi namanya.
> Ia merupakan waria yang disegani kawan-kawan waria
> di lingkungan itu. Tak pelak, dalam pertemuan
> Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) setanah Papua beberapa
> waktu lalu yang difasilitasi oleh Komisi
> Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, Henny
> terpilih menjadi ketua. "Dulu yang mangkal di sini
> ada 19 orang, sudah meninggal 11 karena positif
> HIV," papar Henny tentang nasib kawan-kawannya.
> Menurut dia, 90 persen waria di Papua sudah positif
> HIV. Mereka pun selalu menjelaskan kondisi mereka
> itu kepada pelanggan mereka dan menyarankan agar
> menggunakan kondom saat berhubungan dengan mereka.
> "Tapi banyak yang tidak mau pakai kondom. Sudah
> dijelaskan nanti bisa mati karena AIDS... eh, malah
> bilang: tak usahlah pakai kondom, sudah biar kita
> mati sama-sama," tutur Henny. Henny dan
> kawan-kawan waria adalah sekumpulan orang yang hidup
> pada situasi terdesak. Karena tidak memiliki
> pekerjaan, mereka terpaksa menjadi pekerja
> seks komersial (PSK) untuk melanjutkan hidup.
> "Sebenarnya kami sangat ingin punya tempat untuk
> berkumpul dan berusaha. Di sana nanti kami bisa
> berbagi keterampilan salon, membuat kue, sehingga
> kami tidak perlu ke jalanan lagi," begitu keinginan
> Henny yang sampai saat ini belum terpenuhi karena
> ketiadaan dana untuk menyewa tempat bersama.
> Padahal, jika mereka tidak lagi berpraktik, tentunya
> penularan HIV bisa diminimalisasi. Penularan
> Penularan HIV/AIDS hanya bisa terjadi melalui
> beberapa cara, antara lain melalui hubungan seksual
> berisiko tinggi (tanpa kondom dan bukan dengan
> pasangan tetap), melalui jarum suntik narkoba dan
> alat-alat tajam yang digunakan secara bersama
> misalnya silet, ataupun saat ibu menyusui, bayinya
> bisa tertular. Jika di Jakarta angka pengidap
> HIV/AIDS yang terbanyak adalah mereka yang
> menggunakan jarum suntik narkoba, yang terjadi di
> Papua penularan HIV umumnya adalah melalui hubungan
> seks yang berisiko tinggi, yaitu tanpa kondom.
> Karena itu, pemerintah dan KPA Provinsi Papua
> sangat gencar mengampanyekan pemakaian kondom, baik
> melalui baliho, poster, maupun iklan di radio.
> Bahkan, iklan gambar para pemain sepak bola
> Persipura yang di bawahnya bertuliskan "Kitorang
> Semua Pakai Kondom" dipasang di tempat-tempat
> strategis, termasuk di Bandar Udara Sentani,
> Jayapura. Tak hanya itu, saat KPA Provinsi
> Papua mengampanyekan hidup "aman", Pendeta Canon
> Gideon Byamugisha dari Uganda (Afrika Timur) datang
> ke tanah Papua atas undangan World Vision Indonesia
> justru mengampanyekan hidup "benar". Dalam
> berbagai pertemuan baik dengan para tokoh agama,
> mahasiswa, pejabat eselon II-IV, kalangan pengusaha,
> DPRD, LSM, maupun dalam ibadah Oikumene, Canon
> Gideon Byamugisha selalu mengingatkan bahaya HIV dan
> cara menghindari serta mencegahnya, yakni setia
> kepada pasangan hidup (baik suami atau istri).
> Canon Gideon Byamugisha yang baru mengetahui dirinya
> positif HIV pada tahun 1992 ini memberikan pemahaman
> bahwa mereka dengan HIV/AIDS tidak perlu rendah
> diri atau malu karena nantinya justru tidak akan
> mendapatkan pertolongan yang tepat. Byamugisha
> menduga ia positif karena selama hidupnya pernah
> mendapatkan empat kantong transfusi darah dan 350
> kali suntikan malaria. "Mungkin karena itu saya
> positif. Tetapi, saya memutuskan untuk memecahkan
> kebisuan ini dan menyebarluaskan informasi agar HIV
> dapat dicegah," papar Byamugisha. Ironi
> Pemaparan Canon Gideon Byamugisha kepada para
> pejabat eselon II-IV, Jumat siang, 11 Mei 2007, di
> Gedung Sasana Krida Kantor Gubernur Papua di Jalan
> Soa Siu Dok 2 Jayapura menjadi suatu ironi karena
> ternyata malam harinya di Dok 2 tersebut justru
> menjadi tempat rendezvous anak-anak muda Papua yang
> bisa jadi berujung pada seks bebas. Tengoklah
> malam hari di Dok 2 tersebut, sepanjang 1-2
> kilometer anak-anak muda bebas tanpa rikuh
> berpelukan, berciuman, bahkan melakukan hal lebih
> jauh di balik pagar tembok pinggir jalan. Tidak
> hanya itu, di lingkaran Abe, pusat kota kecamatan
> Abepura, di mana banyak terdapat perguruan tinggi
> dan sekolah, dengan mudah kita bisa temui remaja
> putri yang bisa diajak berkencan oleh siapa saja.
> "Pokoknya, kalau ada cewek pakai baju adik atau
> baju miskin dan bawa handphone, dia pasti bisa
> diajak. Apalagi kalau membawa mobil, cewek itu akan
> langsung naik mobil," tutur Arnold, warga Jayapura.
> Dalam pergaulan di Jayapura, baju adik yang
> dimaksud adalah baju ketat, sedangkan baju miskin
> adalah baju minim tank top tanpa lengan. Meski tidak
> semua perempuan muda bisa diajak berkencan,
> ciri-ciri fisik dan pakaian seperti itulah sebagai
> penanda perempuan bisa diajak berkencan. Ironi
> lainnya adalah saat menyambangi Tanjung Elmo.
> Menurut Ketua Harian KPA Provinsi Papua Constant
> Karma, semula tempat itu merupakan tempat untuk
> merehabilitasi para PSK. Namun, Tanjung Elmo justru
> berubah menjadi lokalisasi. Jika Anda melintas
> dari arah Jayapura menuju Sentani
> menggunakan angkutan umum, sopir akan meneriakkan
> pertanyaan, "Ada yang turun puskesmaskah?" Itu kode
> khusus karena puskesmas ini dipelesetkan menjadi
> "Pusat Kesenangan Mas-mas" atau karena arahnya dari
> Jayapura di sebelah kiri jalan dan menurun, maka
> muncul sebutan "Turki" alias Turun ke Kiri. Itu
> guyonan orang kalau mau ke lokalisasi di Tanjung
> Elmo. Di sana pun terpasang dua hal yang
> bertentangan: Yang satu sebuah papan larangan
> melakukan praktik prostitusi dan yang satunya pada
> 13 Mei 2007 terpasang spanduk bertuliskan "Area 100
> Persen Menggunakan Kondom". Efektifkah larangan itu?
> Karena praktik prostitusi ternyata tetap berjalan.
> 3.252 kasus HIV/AIDS merupakan kasus yang
> serius di tanah Papua. Karena itu, semua pihak harus
> benar-benar berjibaku mencegah agar virus ini tidak
> kian menular ke mana-mana. Sampai 31 Maret 2007,
> data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat
> ada 3.252 kasus HIV/AIDS. Yang terbanyak adalah di
> Kabupaten Mimika, yaitu 1.182
> kasus. "Angka ini adalah jumlah kasus yang mampu
> kami data. Namun, kami perkirakan jumlah kasus
> HIV/AIDS di Papua sebanyak 11.000-12.000 kasus,"
> kata Constant Karma. Sebuah angka yang
> mengkhawatirkan. Keseriusan pemerintah terpapar
> dalam ungkapan Gubernur Papua Barnabas Suebu yang
> mengatakan bahwa jalan terbaik untuk mengatasi
> HIV/AIDS adalah dengan pertobatan total.
> "Selama orang setia kepada istri, penyakit ini akan
> hilang. Tapi kalau masih ada orang berzinah, maka
> akan sulit diatasi," kata Barnabas Suebu.
> Nilai-nilai yang dipegang Gubernur Papua ini sejalan
> dengan apa yang dikampanyekan Canon Gideon
> Byamugisha bahwa kita harus hidup "benar", bukan
> hidup "aman" saja. Keseriusan Pemprov Papua
> terlihat dari alokasi dana Rp 20 miliar untuk
> mengatasi HIV/AIDS. Banyak yang berharap para waria
> dan PSK yang positif HIV pun akan menjadi prioritas
> untuk ditolong. Semoga saja....
>
>
> Resources:
>
> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/22/humaniora/3543244.htm
>
>
> ---------------------------------
> Never miss an email again!
> Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail
> arrives. Check it out.