Menaggapi pendapat Debbie Sumul yang mengatakan baju muslimah (jilbab) terlalu 
banyak aturan dan sanksi sosial dibanding jilbab suster yang bisa dicopot 
kapanpun...maaf, terus terang dalam konteks Islam, itu bukan berarti muslimah 
tidak boleh berpikiran maju dan berkembang. Banyak kok muslimah (berjilbab 
rapat) yang aktif, gaul dengan orang lain dan berolah raga (termasuk 
berenang)...Yang perlu Anda perhatikan, justru saya melihat itu sebagai bentuk 
konsisten (dalam Islam disebut Istiqomah/kontinue & sungguh-sungguh). Belajar 
agama itu bukan main-main. Ketika seorang muslim yakin dengan syahadatnya, ada 
konsekuensi lisan dan perbuatan yang akan ia pertanggungjawabkan di akhirat 
kelak. Beberapa ayat Qur'an mewajibkan muslimah untuk berjilbab. Ketika 
muslimah berjilbab, bukan berarti dia seenaknya dengan keputusannya itu....So, 
saya bukan melihat itu sebagai penghambat karena terlalu banyak aturan, justru 
saya melihat itu sebagai konsisten...

saya mau tanya, kenapa kok tidak semua wanita kristen bisa berjilbab (ala 
suster gereja)tersebut....kenapa kok harus ada aturan 'seleksi' massa2 
pengumulan, penggemblengan, pendidikan, dsb....Seakan-akan ada dikotomi....

Padahal setahu saya, semua orang berhak untuk 'berlomba-lomba' beramal kebaikan 
untuk akhirat nanti. Agama termasuk HAM kan...Kalau ada pembatasan seperti itu, 
kasihan sekali orang-orang biasa yang tidak mengalami seleksi itu. Padahal bisa 
jadi dia bisa sama konsisten (atau bahkan lebih) menjalankan agama, 
dibandingkan suster2 yang diberi kesempatan itu....Terus terang, maaf bukan 
bermaksud untuk membuat perselisihan (perbedaan), sekedar sharing...dalam 
konteks muslim, setiap muslim bebas 'berlomba-lomba' beramal. Tidak ada batasan 
jabatan dan status. Bisa jadi seorang yang sederhana (bukan dari golongan 
tertentu misalnya) bisa saja mendapatkan balasan syurga sebanding dengan ustad 
atau ustadzah. Muslimah lain bebas mengenakan jilbab tanpa adanya pembatasan 
dia harus beberapa bulan atau beberapa tahun aktif di lembaga dakwah atau 
dikarantina di suatu masjid atau tempat ibadah. Alloh SWT hanya melihat tingkat 
ketakwaan muslim saja, bukan jabatan (pangkat) dia.

bahkan pernah dalam kisah, banyak muslim yang mendapatkan syurga karena 
keikhlasan dia beribadah, sebaliknya muslim lain yang dianggap taat ibadah 
justru tidak mendapatkan balasan syurga karena dia tidak ikhlas beribadah....

terus terang saya masih harus banyak belajar...Mohon maaf kalo saya khilaf 
(salah)....

Maaf bukannya membuat perbedaan, sekedar sharing aja.....

terima kasih....





----- Original Message ----
From: dani mijarto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, May 23, 2007 2:41:24 AM
Subject: Re: [mediacare] Cuma suster gereja yang berjilbab, tapi roknya pendek 
- tambahan

Sekadar tambahan, setahu saya,  seragam biarawati memang hanya digunakan oleh 
biarawati. Pertanyaan "KEnapa yang bukan pelayan gereja tidak menggunakan 
jilbab?" Jawabannya, ya karena tidak sembarang orang bisa menggunakan kerudung 
serta seragam biarawati. Untuk bisa mengenakan itu, seorang biarawati harus 
melewati masa2 pergumulan, penggemblengan, pendidikan yang tidak mudah dan 
tidak sebentar. Maka dari itu tidak semua perempuan berhak menggunakan kerudung 
dan seragam itu. Seragam itu bukan untuk menutupi aurat tetapi sebagai seragam, 
yang menunjukkan bahwa seseorang itu telah terpilih menjadi pelayan 
Tuhan/gereja yaitu dengan sebutan biarawati atau suster (perempuan) -- 
seseorang yang sudah melewati pergumulan, penggemblngan, pendidikan hingga 
berhak atas seragam itu.  Kalau pria ya biarawan/pastor (untuk bisa menggunakan 
jubah itu, prosesnya juga sama dengan menjadi biarawati).
 
 
 
debbie sumual <debbie_sumual@ yahoo.com> wrote:
FYI aja untuk Wido,
 
Kerudung biarawati Katolik itu bukan seperti jilbabnya perempuan muslim. Tidak 
ada aturan rambut gak boleh kelihatan total, karena biarawati itu tetap 
kelihatan kok rambutnya, bahkan poninya. Emang tujuannya bukan nutupin rambut 
karena rambut tidak dianggap sebagai hal yang memancing napsu lantas 
menimbulkan dosa.
 
Dari jaman dulu sampai sekarang, seragam biarawati itu mengalami perkembangan. 
Dan baju biarawati yg di Eropa tentu beda sama kita yang tinggal di negara 
tropis. Ini menjawab juga menjawab mengapa roknya hanya selutut. Emang itu 
panjang rok yang masuk akal sih. Panas bok! 
 
Dan pertanyaan Anda: mengapa hanya pelayan gereja (biarawati) yang memakai 
kerudung... bagaikan bertanya mengapa hanya anak SD yang pakai kemeja putih dan 
celana pendek merah. YA KARENA ITU SERAGAMNYA!
 
Tambahan FYI, again, seragam biarawati itu bisa dilepas-pakai kapan saja, 
tergantung sikon. Saya punya saudara suster yang kalau lagi acara keluarga atau 
acara off duty lainnya tampil preman alias pakai blus dan celana panjang. 
Makanya, pikirannya musti terbuka, Wido. Ini bukan baju muslim yang banyak 
aturan dan sanksi sosialnya.

Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote:

Tentang orang Katholik berjilbab, saya tidak yakin. Yang saya tahu, yang
sangat konsisten mengenakan jilbab adalah para suster gereja atau pelayan
gereja saja, itupun roknya hanya sebatas lutut, tidak seperti kisah
biarawati di masa dahulu kala seperti suster Theresa misalkan yang
mengenakan jilbab secara penuh. Tentu ini juga menjadi pertanyaan, mengapa
yang bukan pelayan gereja tidak mengenakan jilbab?

.
 





Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today! 
http://us.rd. yahoo.com/ evt=48517/ *http://surveyli nk.yahoo. com/gmrs/ 
yahoo_panel_ invite.asp? a=7 hot CTA = Join our Network Research Panel



 
____________________________________________________________________________________
The fish are biting. 
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php

Kirim email ke