KOMPAS
Kamis, 24 Mei 2007 

  
Jika Profit sebagai Tuan 


Benny Susetyo 

Sangat ironis sekali penghargaan bangsa ini akan sebuah tanggung jawab. 
Seharusnya warga korban luapan lumpur panas Lapindo tak perlu berdemo menuntut 
kompensasi rumah dan lahannya yang hilang terendam. Itu sudah berupa conditio 
sine qua non, keharusan mutlak. 

Hak masyarakat dirampas oleh kekuasaan ekonomi dan diperburuk oleh perilaku 
kekuasaan politik. Yang kita saksikan adalah isak tangis dalam demo 
berhari-hari karena mereka menuntut kejelasan. Sayangnya, ada yang terus 
berusaha mengelak dari tanggung jawab, enggan mengubah ganti rugi benar-benar 
sebagai ganti untung. 

Pembangunan yang menghancurkan 

Kita kehilangan daya empatik. Di tengah situasi sakit seperti ini, masih ada 
yang berusaha menambah beban sakit. Ganti rugi sebesar apa pun, sanggupkah 
mengganti kerugian sosial yang dialami masyarakat? Kasus Lapindo menjadi titik 
puncak cermin pembangunan yang menjadikan manusia hanya sebagai korban, dan 
profit sebagai tuan. 

Ini seharusnya menjadi pelajaran bersama bahwa seperti inilah muka pembangunan 
kita sepanjang Indonesia merdeka. Dan masa reformasi tidak bisa menaikkan 
derajat pembangunan dari mengubah situasi gelap menjadi terang, justru menjadi 
alat efektif untuk menambah gelap suasana. 

Pembangunan telah melahirkan deretan angka kemiskinan baru yang sangat 
menyedihkan. Kritik selalu dianggap sebagai penghalang. Manusia hanya menjadi 
obyek. Hati nurani harus takluk di atas perintah kekuasaan akal. Dan akal sehat 
harus dikalahkan olah akal yang sakit. Pembangunan mengalami krisis legitimasi 
karena meletakkan manusia sebagai obyek. 

Jurgen Habermas sudah sejak lama mengingatkan kita mengenai hal ini. Dalam 
kajiannya yang terkemuka mengenai krisis legitimasi, ia dengan jelas 
menunjukkan bahwa pembangunan yang mengalami krisis legitimasi akan menyebabkan 
kemacetan sosial yang membelit masalah pembangunan itu sendiri. Dalam konteks 
ini sudah harus dianggap final siapa penanggung jawab masalah ini. Tidak perlu 
lagi saling lempar batu sembunyi tangan. 

Dalam bisnis, komitmen moral harus dijunjung tinggi. Tanggung jawab moral 
pemilik merupakan sebuah keharusan jika ia menjalankan bisnis dalam dedikasi 
moralitas dan bukan profit semata. 

Hancurnya modal sosial 

Tragedi lumpur Lapindo merupakan titik puncak dari kegagalan pembangunan yang 
tidak mengindahkan keberadaan manusia dan lingkungannya. Tragedi ini bisa 
menjadi contoh utama tentang kegagalan ketika pembangunan hanya berorientasi 
pada profit daripada keberlanjutan lingkungan. Manusialah akhirnya yang menjadi 
korban. 

Perhitungan yang dilakukan untuk mengukur kerugian selama ini terlalu 
simplifikatif. Pengusaha dan penguasa menghitung kerugian hanya pada aspek 
material, berapa rumah yang rusak, berapa luas sawah dan ladang yang hancur dan 
lainnya. 

Sudahkah dihitung berapa banyak tatanan sosial yang hancur akibat tragedi ini? 
Berapa banyak modal sosial (social capital) yang tak ternilai harganya yang 
musnah akibat gaya pembangunan seperti ini? 

Hilangnya etika bisnis 

Bangsa ini harus kembali menyadari bahwa Lapindo adalah segumpal dari gunung es 
fenomena bisnis yang tidak mengindahkan manusia dalam sosoknya yang utuh. Kita 
akan menjadi bangsa yang hancur lebur jika tetap bertahan dan merasa benar 
dengan gaya membangun seperti ini, dan dengan formasi hubungan pengusaha, 
penguasa, dan masyarakat seperti ini. Kasus Lapindo menjadi cermin bagaimana 
etika bisnis dibuang dari etos dan perilaku bisnis. 

Bisnis memang harus mencari keuntungan, tetapi keuntungan itu bukanlah kerugian 
bagi yang lain. Jelas rakyat selalu dalam posisi yang dikalahkan dalam segala 
hal. Ini nyata karena setiap pembicaraan ganti rugi selalu dibuat terkesan 
berlarut-larut, dan berbagai persyaratan aneh. Dan, sampai kapan kita memiliki 
pengusaha dan penguasa yang abai terhadap kepentingan publik seperti ini? 

BENNY SUSETYO Pendiri Setara Institute; Sekretaris Eksekutif HAK KWI 


     
      

<<spacer.gif>>

Kirim email ke