Bung Ruslan,
Saya tidak hendak berdebat dengan anda mengenai Theory Integralistik
sebagaimana anda lansir dalam tulisan anda. Itu hak anda untuk memiliki
keyakinan yang seperti itu, tapi terimakasih sudah menjelaskan panjang lebar.
Saya hanya hendak mengatakan bahwa polapikir integralistik atau holistis
seperti yang telah anda ungkap, dalam kenyataan telah melahirkan sejumlah
kesalahan dalam penerapannya.
Theory atau ilmu dalam banyak hal mengajarkan nilai-nilai yang benar,
tetapi yang menjadi masalah adalah ketika sudah dipraktekkan. Dalam praktek,
banyak sekali kesalahan interpretasi atas theory terjadi, dan ini yang sudah
terlanjur terjadi disini Bung, di Indonesia.
Saya kutip pernyataan anda:
Dengan polapikir yang holistis, yaitu polpikir yang selelu mengikuti ajaran
tentang Holargi, maka disini kita akan mempunyai kelebihan dalam memandang
segala suatu hal ichwal; kita tidak akan pernah kehilangan orientasi, bahwa
setiap phenomenon atau phenomena yang paling pelikpun mampu kita atasi. Dari
segi Holargi kita melihat saling hubungan baik yang kongkrit yang dapat kita
saksikan dengan mata telanjang, bahkan kita sanggup pula melihat saling
hubungan yang sinergetis antar corpus yang satu dengan corpus lainnya yang
tidak kelihatan, misalnya saja tidak semua orang akan mengakui bahwa >Karakter
manusia yang tadinya baik, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi jelek
akibat pengaruh konsum yang oleh psychoneurologist disebutnya >the
consume-syndrome-disease<. Penyakit >konsum-sindrom< ini adalah element yang
tidak kelihatan yang bermukim didalam placenta-induknya yang kita kenal
dengan >holargi-globalisasi-ekonomi-budaya <. Kalau si patient yang mengidap
penyakit >KS< (>konsum-sindrom<) ini pergi memeriksakan diri kepada ahli-ahli
jiwa dan ahli-ahli-sarafotak, sang dokter tidak akan menemukan penyakitnya ;
pin-tomography-pun tidak sanggup membaca gejala side-effect >konsum-sindrom<
tsb. Penyakit itu ada, cuma sang dokter tidak-tahu, karena sang dokter tidak
mengenal apa yang disebut Holargi itu. Dampak-kongkrit
>globalisasi-ekonomi-budaya < kini terbukti telah merusak
struktur-cara-berpikir para elite politik dan ekonomi, para pakar ilmu
pengetahuan, para pakar-spirituil termasuk para kyai dan ustadnya.
Banyak dari elit politik Indonesia saat ini yang mengidap penyakit
konsum-sindrom (KS) seperti yang anda maksud. Kalau anda benar-benar seorang
dokter yang mampu mendiagnosa masalah-masalah ideologis semacam ini, bukankah
tugas anda untuk membedah manusia-manusia yang sudah terkena KS itu?
Maaf saja, dari parnyataan anda, saya tahu bawah anda pendukung setia PDI-P
atau barangkali saya salah. Nah, pada masa kepemimpinan Megawati Soekarno
Putri, bukankah penyakit Konsum-Sindrom seperti yang anda maksud,
dipertontonkan pemerintahan Megawati dan sebagian besar tokoh-tokoh PDI-P?
Privatisasi BUMN dilakukan kiri-kanan, apakah itu bukan dampak KS seperti yang
anda maksud? Jangan sok jadi ideologis, kalau anda tidak mampu menata diri
sendiri dengan pandangan-pandangan ideologismu. Periksa diri dulu sendiri lalu
kemudian keluar menggurui orang lain. Saya bukan termasuk tipe orang-orang yang
menderita penyakit KS itu, saya dan kawan lain di Papua justru sedang berjuang
untuk menghancurkan imperialisme, kami sadar merekalah yang menjadi musuh utama
kami dan bukan pemerintah Indonesia, karena berbagai regime yang memerintah
dinegeri ini adalah regime-regime boneka, tidak ada satupun yang bisa dikatakan
independent, semua takluk dan tunduk dibawah kemauan imperiaisme.
KS saat ini telah menjadi epidemi yang mengerikan, ia seperti kanker yang
menggerogoti bangunan negara ini, merusak semua aspek kehidupan berbangsa. KS
yang demikian akut menjadi reklame buruk yang ditonton rakyat, kadang reklame
itu menjadi bahan tertawaan rakyat ditengah kemiskinan dan penindasan
struktural yang dihadapi, sayang sekali, walaupun kita bertahan dengan
argumentasi ideologis atau orientasi yang jauh lebih luas, dalam kenyataan
argumentasi itu kadang berbalik menghakimi diri kita sendiri, karena orientasi
itu bagai panggang jauh dari api, saya tidak mau menjustifikasi hal ini.
Rupa-rupanya placenta induk yang bermasalah, jika demikian placenta yang
sakit itu harus segera diobati, ataukah anda hendak membiarkan dia menjadi
semakin parah dan akhirnya akan menghancurkan diri sendiri?
Paham integralistik yang dikolaborasi dengan budaya feudal yang parah
dinegara ini telah menghasilkan formasi pemimpin yang berjiwa kerdil,
paternalistik, anti-demokrasi dan bahkan anti-kemanusiaan. Bagaimana saya dapat
membayangkan Soekarno, Soeharto, Habibie, Megawati dan kini SBY melakukan hal
yang baik bagi bangsa ini?
Soekarno dalam banyak hal menciderai semangat demokrasi. Demokrasi
terpimpin yang ia cetuskan menjadikan dia Raja dan bukan presiden. Paduka Yang
Mulia / Pemimpin Besar Revolusi, dll, bukankah ini mentalitet pemimpin feudal?
Bukankah mentalitet ini sama dengan mentalitet Sultan Agung? Mentalitet yang
demikian telah melahirkan perpecahan dalam angkatan45. Bagaimana saya dapat
menerima Hatta akhirnya harus mundur karena mental feodal Soekarno yang tidak
menghargai demokrasi? Hasilnya, ya jelas, ada pemberontakan dimana-mana pada
saat itu, DI/TII muncul, PRRI/Permesta muncul, dan akhirnya hura-hara politik
65 yang telah mengorbankan jutaan petani dan buruh, walaupun memang saya harus
akui, peristiwa 65 adalah akibat dari perang ideologis, kelompok
kanan-reaksioner berhasil mengambil keuntungan dari pertarungan ideologis
global yang berimbas kedalam. Tapi harus saya pertanyakan, bukankah itu muncul
karena paham integralistik yang salah diterapkan? Pada akhirnya semangat
nasionalisme dan demokrasi yang keliru telah melahirkan Soekarno sebagai
seorang diktator, seorang presiden seumur hidup. Seandainya saja tidak terjadi
peristiwa 65, saya yakin Soekarno masih menjadi presiden sampai akhir hayatnya.
Saya kutip lagi peryataan anda:
Mungkin anda salah dalam menangkap dan memahami apakah yang dimaksud dengan
polpikir yang secara integral atau integlalistik. Ini tercermin dalam tulisan
anda yang menyamakan praktek otoriterisme militer rezim orde baru Suharto, yang
menjalankan system centralisme militer dalam pemerintahannya; dengan polapikr
secara integral atau holistis menurut ajaran Sytem Theori..
Bung Ruslan, sentralisme militer sebagaimana anda maksud juga terbawa dalam
praktek politik, kalau demikian bukan saya yang salah menafsirkan paham
integralistik dong, Soeharto dan kroni-kroninya yang salah menerjemahkannya
dan mereka kembali mengulang kisah presden seumur hidup. Kalau tidak ada
reformasi, jelas Soeharto akan mati sebagai presiden, bukan sebagi mantan
presiden.
Nah, bukankah Bung Karno juga memberikan pengaruh dalam hal ini? Soeharto
belajar dari Soekarno, Soekarno belajar dari Raja-raja Jawa dikolaborasi
sedikit dengan paham Marxisme jadilah suatu bangunan ideologis nasionalis yang
tambal-sulam, jika sudah begitu, apakah saya yang musti disalahkan dalam
mengkritisi hal ini?
Selanjutnya anda menulis:
1. Demensi Intern individuil diri bangsa Indonesia atau jatidiri (jiwa)
bangsa Indonesia, yaitu jiwa bangsa Indonesi yang tercermin dalam sumpah
pemuda yang di deklarasikan pada tanggal 28 Koktober 1928, yaitu Satu nusa
satu bangsa dan satu bahasa kita. Ini adalah manifestasi adanya suatu
kesatuan bangsa Indonesia.
Jawaban Saya:
Sayang sekali, tidak ada perwakilan Papua yang ambil andil dalam Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928. Sejak SD yang diintrodusir dengan pelajaran sejarah ini
dan saya sudah melakukan tinjauan pustaka dari berbagai literatur, tidak ada
satupun yang secara eksplisit maupun implisit menyatakan bahwa ada perwakilan
pemuda Papua pada waktu sumpah ini dilakukan. Dengan demikian saya hanya mau
katakan bahwa ini jelas bukan manifestasi sebuah bangsa, sebagaimana yang anda
maksud, kalau memang anda bermaksud bahwa Papua juga ada disana.
Demensi Ekstern individuil dari bangsa Indonesia, yaitu adanya ribuan
pulau-pulau yang berjajar dari sabang sampai Maraoke.
Jawaban Saya:
Wah, ya jelas anda pasti akan menulis demikan. Masih perlu dilakukan banyak
klarifikasi sejarah menyangkut masalah Papua. Saya tidak mau berpolemik dengan
anda mengenai ini karena jelas akan menyita banyak waktu, maklum saya bukan
termasuk orang yang setiap saat bisa mengakses internet.
3. Demensi intern kolektif bangsa Indonesia, yaitu adanya partai-partai
politik, yang menganut mermacam-macam faham, misalnya kesatuan, federal,
anarkisme,sparatisme, agama dll.
Jawaban Saya:
Bukankah itu perlu dihargai?
Demensi ekstern kolektif dari bangsa Indonesia, yaitu pengaruh
lingkungan Internasional yang dalam hal ini adalah pengaruh tentang
system masyarakat,misalnya kapitalisme, sosialisme, liberalisme yang
sekarang menjadi neoliberal.
Jawan Saya:
Sepakat mengenai ini. Hal perlu saya tegaskan. Kapitalisme lahir dengan
bentuk kolonialisme pembangunanisme liberalisme neoliberalisme, itu saja
Bung, jangan anda membedakan Kapitalisme dengan liberalisme atau
neo-liberalisme, keduanya hanya merupakan taktik atau penerapan yang dilakukan
kapitalisme dalam mengeksploitir bangsa-bangsa dunia ketiga. Kedua hanya
merupakan wajah baru dari pola eksploitasi kapitalisme.
Selanjutnya anda menulis:
NKRI adalah merupakan pencerminan dari demensi pertama dan ke dua, yaitu
demensi intern individuil dari banngsa Indoensia atau jati diri bangsa
Indonesia yang terbentuk dalam perjuangan panjang dalam melawan penjajahan
Beanda, Inggris dan jepang, sehingga klimaknya adalah terjadinya proklamasi
kemerdekaan RI pada tamnggal 17 Agustus 1945. yang selanjutnya menyatukan semua
pulau-pulau dari Sabang sampai maraoke , menjadi apa yang disebutnya NKRI.
Jadi mempertahankan NKRI bukanlah berarti sebagai pseudo nasionalis,
seperti apa yang anda tuduhkan pada sebagian besar bangsa Indonesia yang
menyokong berdirinya NKRI ini.
Jawaban saya:
Saya menghargai prinsip anda untuk menerapkan dua pandangan diatas, tetapi
harus diperhatikan. Penerapan dua prinsip tadi (dimensi intern dan eksternal)
seperti yang anda jelaskan tidak harus dipraktekkan dengan sikap-sikap
chauvinis. Dalam soal Papua, sikap chauvinis dapat saya benarkan, karena kami
merasa diperlakukan seperi itu dengan penerapan system NKRI yang membabibuta.
Silahkan mempertahankan NKRI, tapi tolong jangan dipertahankan dengan
penindasan.
Saya tidak dapat menerima NKRI dipertahankan di Papua dengan pemberlakukan
operasi militer. Dua puluh (20) tahun operasi militer dilakukan di Tanah
Papua. Operasi Militer terjadi sejak tahun 1978 sampai dengan 5 Oktober 1998,
lebih banyak 11 tahun ketimbang Acheh yang hanya diterapkan selama sembilan (9)
tahun saja (1989-1998). Hasilnya? Kurang lebih 30.000 warga Papua harus
mengungsi ke PNG (Negara tetangga), karena tidak merasa aman tinggal diatas
tanah mereka sendiri. Mengenai ini, anda bisa menghubungi Ikrar Nusa Bakti yang
lakukan penelitian mengenai pelintasan batas yang dilakukan warga Papua selama
masa operasi militer. Thesis doctoral Ikrar Nusa Bakti mengambil tema ini,
sayannya tidak dijadikan buku untuk dapat dibaca rakyat Indonesia lainnya
supaya benar-benar mengerti penindasan yang terjadi disana, bukan hanya nonton
di televise, baca Koran, lalu ikut-ikut ngomong soal Papua, seakan-akan dia
maha tahu, seakan-akan dia Tuhan? Masih banyak reklame buruk lain
kalau bicara soal pelanggaran HAM di Papua, contoh tadi hanya untuk
memberikan gambaran betapa kami tidak dihargai sama sekali sebagai bangsa.
Silahkan anda mempertahankan NKRI, tapi tolong, jangan gadai kekayaan alam
Papua secara liar kepada pihak asing. Bukankah Modal Asing pertama masuk di
Indonesia karena ada Papua? Awal April 1967, Soeharto menandatangani Kontrak
Karya (KK) generasi pertama dengan Freeport McMoran Copper & Gold, model KK ini
yang jadi model dasar UU Penaman Modal Asing (UU No. 1 Tahun PMA).
Kami dikorbankan oleh KS yang menjangkiti sebagian besar pemimpin negeri ini,
kami menjadi korban keserakahan komprador kapitalisme, anda dan PDI-P juga
memiliki investasi politik dalam hal ini. Pada waktu Megawati menjadi presiden
banyak peristiwa kekerasan militer terjadi di Papua, pembunuhan terhadap
tokoh-tokoh politik Papua (misalnya pembunuhan Theys Eluay, pada bulan November
2001) menjadi contoh betapa mentalitas pemimpin berjiwa kerdil dapat dilihat
secara nyata.
Saya tidak menuduh semua bangsa Indonesia memiliki pandangan pseudo
nasiolis seperti itu, sebab ada banyak diantara Bung yang lebih nasionalis
ketimbang mereka yang berkoar-koar sebagai nasionalis. Jika benar nasionalis,
mengapa rakyat digusur kiri-kanan? Mengapa pedagang tradisional dan pedagang
kaki lima tidak bisa berjualan dengan tenang karena diusir setiap waktu oleh
aparatur Negara? Mengapa anda tidak bersuara lebih keras untuk mensejahterakan
kehidupan rakyat miskin?
Bung Ruslan, inikah yang anda maksud nasionalis? Jika tema besar
nasionalisme seperti ini yang anda bayangkan, maka tunggu waktu saja sebab
pasti akan banyak makan korban, tunggu waktu saja, rakyat miskin yang sudah
mulai sadar hak-hak politiknya pasti akan melakukan revolusi social untuk
mengubah tatanan bernegara disini.
Terakhir dari saya:
Amandemen UUD 45 tidak harus dimaknai sebagai sesuatu yang merusak, ia akan
menjadi relevan jika mengikuti perkembangan jaman.
Saya tidak berkepentingan apakah perlu atau tidak UUD 45 diamandemen,
kepentingan saya adalah bagaimana nasib rakyat Papua juga diperhitungkan,
seperti juga dengan rakyat miskin lain di Indonesia.
Salam dari Tanah Papua!
PD
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.