Pada suatu malam hari Soeharto secara incognito mengunjungi makam ibu Tien. Jurukunci makampun tidak diberitahu sebelumnya dan apa keperluannya.
Dengan diam-diam Soeharto menyelinap mendekati pusara yang terletak di dalam bangunan berbentuk rumah joglo yang megah. Dalam bahasa Jawa bangunan itu disebut cungkup. Lampu penerangan di dalam cungkup sengaja dipadamkan, sehingga suasana menjadi gelap. Hanya pendaran cahaya bulan yang remang-remang memantul pada benda benda di dalamnya. Si jurukunci yang penasaran memberanikan diri mengintip dari lubang kunci cungkup dan bisa melihat Soeharto di dalam walaupun samar-samar. Dia ingin tahu apa yang dilakukan Soeharto di sana. Betapa herannya dia tatkala melihat Soeharto berkali-kali bolak-balik melangkahi pusara bu Tien. Setelah beberapa saat, jurukunci yang terheran-heran itu duduk tepekur di depan pintu cungkup. Tak berapa lama kemudian Soeharto keluar dari cungkup. Dengan berdebar hati jurukunci memberanikan diri untuk bertanya : "Nuwunsewu pak Harto, panjenengan kolo wau kok lumangkah wongsal-wangsul ing sanginggiling makamipun ibu puniko wonten wigatos menopo?" Maaf pak Harto, Bapak tadi kok mondar mandir melompati makam ibu Tien. Ada maksud apa. Soeharto yang nampak terkejut dengan pertanyaan itu lalu menjawab dengan suara yang ditenang-tenangkan :" Mangertio yo jurukunci, mbiyen rikolo ibu Tien isih sugeng tau ngendiko nek aku arep palakrama maneh, didawuhi nglangkahi mayite luwih disik". Ketahuilah hai jurukunci, dulu bu Tien pernah berkata kepadaku sewaktu masih hidup kalau aku ingin kawin lagi harus melangkahi mayatnya lebih dahulu.
