Oleh EFFENDI GAZALI
http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0705/ 29/opini/ 3561264.htm
============ ========= =

Konferensi pers yang paling mengesankan dalam memori saya saat kuliah
dulu adalah ketika Bill Clinton nyaris menghadapi ancaman pemakzulan
gara-gara skandal dengan Monica Lewinsky.

Siang menjelang sore saat itu. Clinton keluar ke halaman istana
bersama sejumlah tokoh Partai Demokrat untuk memberi kesan, mereka
tetap mendukung Clinton bagaimanapun krisis yang sedang dihadapi Sang
Presiden.

Saat itu Clinton tidak terlalu banyak bicara. Teman-temannya yang
memberi banyak pernyataan menguatkan posisi Clinton, sekaligus
mengingatkan lawan- lawannya yang menyimak dari layar televisi.

Jumat (25/5) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menggelar
jumpa pers pertama di bawah dua pohon tua (ki hujan) di lapangan
rumput Istana Kepresidenan. Seingat saya, saat itu Clinton tidak
membawa podium ke halaman. Di Jakarta, staf istana menyiapkan podium
dengan 10 kuntum mawar merah!

Mengapa SBY melakukannya? Presiden—di mana pun—berhak membela diri
jika nama dan kehormatannya terserang. Presiden juga manusia.

Sebelum pengamat mana pun memberi komentar dan analisis, mereka harus
mencoba berempati lebih dulu: bagaimana jika mereka ada di posisi
Presiden SBY. Bukankah mereka juga akan marah dan akan melakukannya?

Masalah 2004

Sambil mencoba berempati, ilmuwan komunikasi umumnya harus mencoba
memprediksi interpretasi berbagai pihak, bahkan berbeda 180 derajat
dari niatnya (Fiske, 1987; Stuckey, 2004).

Dengan itu, tim dalam istana mungkin perlu mendiskusikan pada SBY
bahwa pokok masalah yang dibahas adalah peristiwa tahun 2004 saat
menjadi capres.

Saya mungkin akan memiliki dua memori yang sebanding (dengan jumpa
pers Clinton itu) jika SBY Jumat lalu membahas tantangan yang dihadapi
pemerintahannya, meski hal itu mengenai minyak goreng yang tidak
terkendali harganya atau soal air pasang dan ombak belakangan ini.
Lalu di bawah pohon ki hujan itu lahir tekad baru, misalnya untuk
menekan harga minyak secara nyata atau hal lain.

Bicara soal konteks waktu, tepatkah Presiden SBY melakukan konferensi
pers dengan gaya relatif marah ketika tingkat popularitasnya menurut
data terakhir menurun drastis?

Biasanya dalam komunikasi politik, pemimpin yang sedang amat populer
(karena itu rakyat sedang puas dengan kepemimpinannya) yang lebih
boleh diberi ruang untuk menyatakan kekesalan atau kemarahannya.

Bahkan, beberapa presiden kini cenderung memilih menyampaikan
kekesalannya dengan nada humor, memakai pernyataan tidak langsung dan
analogi, meski popularitas mereka di mata rakyat masih (sedang) tinggi!

Salah citra

Jikapun ingin bermain di ranah pencitraan, mestinya jumpa pers semacam
itu akan diarahkan ke image presiden sedang dizalimi oleh berbagai
pernyataan orang lain yang menyerangnya!

Sebagai orang yang terzalimi, dia akan lebih banyak memainkan mimik,
sedikit bicara tetapi dengan pilihan kata-kata yang membuat hati dan
emosi pemirsa TV akan jalan bersama dia!

Maaf, saya lupa, bukan cuma Clinton, SBY sendiri pernah melakukannya
saat dia terpersepsikan sebagai orang yang dizalimi oleh berbagai
pernyataan istana.

Selain dengan mimik dan pilihan kata yang memancing empati pemirsa,
mungkin perlu pula dikedepankan satu atau dua agenda lain, jadi tidak
menjadi semacam konferensi pers untuk langsung dan sepanjang acara itu
mengecam Amien Rais.

Lagi-lagi, mungkin bicara lebih dulu soal ekstradisi dengan Singapura;
soal minyak goreng, gelombang pasang, atau lainnya sebelum mulai
mempersoalkan serangan Amien Rais.

Bukankah bisa juga dipilih tidak melakukan jumpa pers sama sekali? Ya,
teleconference Jusuf Rizal dari Blora Center dengan Rokhmin Dahuri
yang berisi penyangkalan tertentu dari Rokhmin sementara ini sudah cukup.

Bahkan, yang selanjutnya bicara haruslah mereka yang ada di sekitar
Amien Rais saat Wolfowitz (menurut cerita Amien Rais) menawarinya
bantuan dana asing; yang dalam versi SBY justru (mereka) siap
menyangkal cerita Amien Rais!

Sudahlah, dua pohon ki hujan serta wajah Hatta Rajasa sudah menjadi
saksi sebuah jumpa pers dramatik dalam perjalanan bangsa ini belajar
komunikasi politik!

Mari kita tunggu pembelajaran apa yang bisa dipetik untuk Pemilu 2009,
atau akankah lobi-lobi politik mengubur bakal hikmah itu seiring
dengan singkatnya memori sosial bangsa ini?

Effendi Gazali Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI 

       
---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

Kirim email ke