Bravo untuk tulisannya Pak Ibrahim yth.
Apa dalam bhs Prancis le banian ada miripnya seperti dalam bhs Inggris
banyan tree, alias pohon beringin? Yang memang pohon mytologis di kawasan
Hindu atau pernah beragama Hindu.

Salam dari Praha,
Bismo DG

  ----- Original Message -----
  From: IBRAHIM ISA Alias BRAMIJN
  To: [EMAIL PROTECTED]
  Sent: Wednesday, May 30, 2007 4:36 PM
  Subject: [nasional-list] Kolom IBRAHIM ISA - BANGKITNYA Suatu NASION INDONESIA


  Kolom IBRAHIM ISA
  Rabu, 30 Mei 2007
  ----------------------------
  BANGKITNYA Suatu NASION INDONESIA

  SEKEDAR PENJELASAN:
  Menjelang musim semi yang lalu, Ny. Johanna Lederer, Ketua
  Perkumpulan Persahabatan Perancis-Indonesia, Paris, minta aku menulis
  sebuah artikel yang bersangkutan dengan (bangkitnya) BANGSA
  INDONESIA, bangsa kita. Tulisan itu akan diterbitkan dalam majalah
  khusus mereka bernama 'LE BANIAN'; pada kesempatan penerbitan khusus
  JUBILIUM. 'Le Banian', menurut keterangan dalam bahasa Perancisnya
  adalah: 'Publication de l'association franco-indonésienne Pasar Malam.
  Selanjutnya dijelaskan bahwa: L'association franco-indonésienne publie
  tous les 6 mois un journal Le Banian qui traite de l'Indonésie :
  analyses littéraires, faits de société, poèmes, nouvelles,
  monographies, etc.

  Dengan sendirinya, terasa mendapat kehormatan, suatu Perkumpulan
  Persahabatan Perancis-Indonesia, minta aku menulis tentang BANGSA
  INDONESIA, dalam sebuah majalah Perancis, 'LE BANIAN', yang
  menerbitkan NOMOR JUBELIUM-nya. Permintaan Mrs Johanna Lederer,
  kuterima dengan senang hati. Ini suatu kesempatan baik, fikirku,
  untuk sedikit menjelaskan kepada pembaca 'Le Banian', yang adalah
  orang-orang Perancis, mengenai bangkitnya bangsa kita, BANGSA INDONESIA.

  Artikel yang kutulis itu, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
  Perancis. Dan akan disiarkan dalam bulan Juni 2007 ini, khususnya
  tertuju kepada orang-orang Perancis dan pembaca lainnya yang
  berbahasa Perancis. Ketika membaca tulisan ini, harap pembaca
  memaklumi, bahwa tulisan ini pertama-tama dimaksudkan untuk
  masyarakat Perancis, dalam rangka memperkenalkan secara singkat dan
  pokok-pokok tentang bangsa kita. Dan tanggapan penulisnya, tentu.
  Mudah-mudahan berguna juga bagi pembaca Indonesia, khususnya kaum
  mudanya.
  Sengaja teks bahasa Perancis penjelasan oleh Le Banian dalam paragraf
  berikut ini, tidak kuterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maksudnya
  agar pembaca berusaha memahaminya sendiri (tak sulit, kok). Atau
  tanya-tanyalah pada kenalan yang mengerti bahasa Perancis. Bisa kan?

  'Le Banian est une publication de l'association franco-indonésienne
  Pasar Malam, à la fois consacrée à la vie intellectuelle en Indonésie
  ou en lien avec l'archipel et « généraliste », dans la mesure où
  chaque numéro propose des poèmes, monographies, études sociologiques,
  articles de fond sur la vie culturelle, nouvelles ou extraits de
  romans, etc. le tout en français.

  Si cette revue cherche à distraire agréablement, son objectif ultime
  est de faire connaître la littérature indonésienne en France et de
  donner envie aux éditeurs de publier davantage d'oeuvres indonésiennes
  en français. C'est pour cela que chaque numéro comporte une nouvelle
  ou un extrait de roman d'un auteur indonésien, traduit par nos soins
  en français.
  * * *

  BANGKITNYA Suatu NASION INDONESIA
  <KHUSUS DITULIS UNTUK MAJALAH ; LE BANIAN', PARIS.
  Untuk Edisi Jubelium, Juni 2007>
  Oleh: IBRAHIM ISA,
  Sekretaris Wertheim Foundation - Leiden-Amsterdam.

  Seorang kawan pernah bertanya: Kapan pada Anda timbul kesadaran
  kebangsaaan Indonesia?
  Masih samar-samar teringat, pada umur 11 th , ketika bersama kakak
  iparku, kami menghadiri rapat umum GERINDO, di Gg Kenari, Salemba.
  Suasananya siap-siap menghadapi kemungkinan meletusnya Perang Pasifik,
  dan Jepang menyerbu Hindia Belanda. Masih terbayang betapa penuh
  sesaknya ruang rapat umum. Para hadirin banyak yang memakai kopiah,
  seperti kopiah Bung Karno. Menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang
  berbangsa Indonesia. Kesan kuat yang tinggal adalah suasana
  KEBERSAMAAN sebagai orang-orang Indonesia.

  Kuingat-ingat lagi, betullah bahwa kesadaran kebangsaan itu, tak
  terlepaskan dari hubungan kekeluargaan dengan kakak-iparku itu.
  Ternyata kemudian memang kakak-iparku itu adalah anggota PNI (Bung Karno).

  Semangat kebangsaan yang ditanamkan pada rapat GERINDO itu, dipupuk
  lebih lanjut pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Ketika itu
  secara teratur anak-anak muda seperti aku, beramai-ramai mengikuti
  rapat-rapat raksasa yang diadakan untuk mendengarkan pidato-pidato
  politik Bung Karno. Masih teringat betul bagaimana Bung Karno dengan
  gaya pidatonya yang amat menarik dan mencengkam, memberikan
  pendidikan politik kepada hadirin, mengenai kesadaran berbangsa
  serta menanamkan cita-cita mencapai kemerdekaan bagi Indonesia.

  Pendidikan kesadaran berbangsa, patriotisme, cinta tanah air,
  membenci kolonialisme, paling mendalan terjadi semasa Revolusi
  Kemerdekaan Indonesia. Ambil bagian langsung dalam revolusi
  kemerdekaan telah menanamkan dan memperkuat semangat cinta pada
  tanah air dan bangsa. Dibarengi dengan semangat benci serta berlawan
  terhadap kekuasaan asing (Jepang, Inggris dan Belanda) yang ingin
  mengembalikan Indonesia sebagai koloni Belanda seperti pada zaman
  Hindia Belanda, pada masa pra-Perang Pasifik.

  Kiranya, sebagian besar pemuda-pemuda Indonesia yang sebaya dengan
  aku ketika itu, memperoleh pendidikan semangat kebangsaan dan
  patriotisme kurang lebih seperti yang kualami itu.

  * * *

  Tanyakan kepada setiap patriot Indonesia bagaimana ia bersikap
  terhadap tanah dan bangsanya. Maka bisa dipastikan, akan dijawab
  seperti berikut ini: Siapa yang tak akan merasa bahagia dan beruntung;
  siapapun pasti akan merasa bangga secara wajar, bahwa ia
  dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, sebagai bangsa Indonesia.

  Siapa yang telah berkunjung ke INDONESIA, pasti mengetahui bahwa ,
  Indonesia adalah suatu negeri yang begitu indah dengan rakyatnya
  begitu ramah dan toleran. Suatu negeri yang bukan saja terkenal
  karena Pulau Bali-nya, tetapi juga terkenal kesuburannya, ribuan
  pohon kelapa yang menghiasi rangkuman pulau-pulau tropik, sehingga
  tepatlah banyak yang memberikannya nama 'Negeri Pulau-pulau Kelapa'.

  Seorang ilmuwan/pakar geografi berbangsa Jerman (1848) menamakan
  ribuan kepulauan di khatul'istiwa itu: INDOS NESOS. Dalam bahasa
  Junani, artinya 'kepulauan India'. Dulu orang-orang Barat menganggap
  semua negeri di sebelah Timur itu adalah 'India'.

  Dalam waktu panjang dunia tidak mengenal Indonesia. Mereka hanya tahu
  BALI, atau Gunung Krakatau yang meledak menghamburkan lava dan abu
  pada akhir abad ke-19. Memang tepat, pulau Dewata BALI, lebih
  banyak dikenal, karena keunikan kebudayaannya, keindahan dan keramahan
  rakyatnya. Bisanya ada pandangan yang demikian itu, tak lain dan
  tak bukan ialah karena mereka itu belum mengenal Indonesia dalam
  keseluruhannya, dalam KEBHINNEKA-annya.

  Orang dengan sendirinya bangga dengan keunikan negeri seperti ini.
  Ini bisa difahanmi. Karena, memang Indonesia adalah suatu negeri
  dengan suatu bangsa yang identitasnya unik. Suatu negeri kepulauan
  yang terbesar di dunia. Jumlah total kepulauan Indonesia : 17.508.
  Meskipun jumlah penduduknya sekarang ada 225 juta., namun kurang
  lebih 7000 pulau-pulaunya tidak didiami manusia. Intresan untuk
  diketahui bahwa ratusan suku-suku bangsa Indonesia itu menggunakan
  bahasa daerah yang jumlahnya juga ratusan.

  * * *

  Dalam perkembangan dan pergolakan perjuangan bangsa ini, nama Indos
  Nesos menjelma menjadi INDONESIA. Pada masa awal lahirnya bangsa
  Indonesia, yaitu pada mula abad ke-20, penguasa kolonial Belanda tidak
  membolehkan penggunaan nama Indonesia. Karena penguasa kolonial
  memperhitungkan bahwa penggunaan nama INDONESIA, berarti memberikan
  kesempatan dan syarat tumbuh dan berkembangnya kesadaran berbangsa.
  Penguasa kolonial Belanda menggunakan nama HINDIA BELANDA. Sama
  halnya seperti pemerintah Perancis yang memberi nama 'Indochine'
  terhadap koloni-koloninya Vietnam, Laos dan Cambodia. Juga seperti
  halnya pemerintah London yang memberikan nama British-India pada
  India, Pakistan dan Bangladesh terhadap jajahan-jajahannya di wilayah tsb.

  Pada akhir abad ke 19, di wilayah itu oleh Belanda diberi nama Hindia
  Belanda, b e l u m ada satu bangsa, atau nasion yang disebut
  INDONESIA..

  Diantara kurang lebih 150 nasion di dunia ini, bangsa INDONESIA,
  adalah nasion yang tergolong nasion muda. Sebelum terbentuknya nasion
  Indonesia, kepulauan Nusantara didiami oleh pelbaga bangsa dan
  sukubangsa. Yang terbesar antaranya adalah suku Jawa, Sunda dan
  rumpun suku Melayu, yang , mencakup banyak suku-suku yang bertebaran
  di ribuan kepulauan Indonesia. Setelah lahir dan tumbuhnya nasioan
  Indonesia, suku-suku bangsa Indonesia itu masih ada dengan identitas
  kulturnya masing-masing dan hidup bersama dengan suburnya. Syukur
  alhamduillah, negeri ini tidak mengenal apa yang dinamakan 'ethnic
  cleansing'.

  Kesadaran berbangsa dari penduduk yang mendiami ribuan kepulauan
  NUSANTARA, berlangsung melalui perjuangan dan pergolakan. Proses itu
  memerlukan jangka waktu kira-kira 100 tahun untuk lahir, tumbuh,
  menguat dan berkembang.

  Sesudah mengalahkan Portugis yang berhasil menguasai sebagian wilayah
  di Timur Indonesia; sebuah perserikatan dagang Belanda yang dapat
  restu resmi pemerintah Kerajaan Belanda, dengan memiliki tentara
  dan mata uang sendiri, Verenigde OostIndisch Compagnie - VOC, pada
  awal abad ke-17, berhasil mencapai Indonesia. VOC yang diberi hak
  monopoli oleh Kerajaan Belanda untuk berdagang dengan Indonesia dan
  negeri-negeri Asia lainnya, memberikan nama 'Nederlandsch Indië',
  atau Hindia Belanda untuk Indonesia. Maksud nama Hindia Belanda,
  ialah bahwa gugusan ribuan kepulauan yang terletak diantara benua
  Asia dan benua Australia itu , ada di bawah kekuasaan VOC.
  Demikianlah, nama Hindia Belanda, yang diberikan VOC itu artinya
  Hindia 'milik' Belanda.

  * * *

  Ketika dalam bulan Maret, 2002, pemerintah, Belanda memperingati
  400 tahun VOC, dimana sempat hadir Menteri Kwik Kian Gie dari
  pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri, itu diadakannya secara
  bukan kebetulan dan bukan tanpa alasan. Orang-orang Indonesia yang
  sedikit saja punya pengetahuan sejarah dan rasa harga diri bangsa,
  atau patriotisme, tidak bisa lain, memandang VOC sebagai suatu
  'kekuasaan' yang membawa bencana pada tanah air dan bangsa. Sebagai
  suatu badan perdagangan yang bersenjata yang telah menaklukkan dan
  memeras habis-habisan negeri dan bangsa Indonesia menjadikannya
  jajahan kolonialisme Belanda.

  Tapi bagi Belanda, VOC adalah suatu kebanggaan, suatu instrumen utama
  yang membawa kerajaan Belanda ke 'Abad Keemasannya', 'The Golden Age
  of Holland', 'De Gouden Eeuw van Nederland'. Maka bagi penguasa
  Belanda, kegiatan VOC itu adalah suatu 'prestasi' . Karena bangsa
  Belanda, suatu bangsa yang berdiam di paling Barat daratan Eropah,
  dengan jumlah tergolong kecil di Eropah terbanding negeri-negeri
  seperti Perancis, Inggris, Jerman dan Rusia, --- namun, masih
  pada zaman kapal layar ketika itu, telah mampu membuat kapal-kapal
  yang cukup besar, kuat dan cepat, mampu mengarungi Samudra Atlantik
  dan Samudra India, sejauh puluhan ribuan kilometer. Dalam
  petualangannya mencari rempah-rempah ke ujung Timur dunia, VOC
  berhasil mendaratkan orang-orangnya di Banten (Cornelis Houtman c.s.,
  1596), Jawa Barat, Indonesia. Dan akhirnya menaklukkan Indnesia di
  bawah kerajaan Belanda.

  Ini adalah saat permulaan suatu negeri kecil bernama Nederland,
  mampu menaklukkan INDONESIA, suatu negeri dengan penduduk berlipat
  kali lebih besar dan punya kebudayaan yang cukup tinggi

  * * *.

  INDOS NESOS, INSULINDE, oleh kaum pergerakan kemedekaan negeri
  Pulau Kelapa ini, oleh kaum mudanya diformalkan dan dibaptiskan
  sebagai INDONESIA, yang tinggal di wilayan bernama INDONESIA,
  menggunakan bahasa INDONESIA, dan berbangsa INDONESIA (Sumpah Pemuda
  Indonesia, 28 Oktober 1928). INDONESIA yang asal muasalnya disebut
  Indos Nesos, kemudian Pramudya Ananta Tur, novelis terkenal Indonesia,
  lebih senang dan lebih korek katanya bernama NUSANTARA. Karena begitu
  cantiknya dan begitu mempesonakannya negeri ini, sehingga seorang
  mantan pejabat kekuasaan kolonial Belanda di Banten, pada akhir abad
  ke- 19, Dr. Douwes Dekker, dalam bukunya berjudul, MULTATULI,
  memberikannya nama GORDEL VAN SMARAGD, Sabuk Batu Giok . . . . di
  Khaltulistiwa.

  Betapapun indahnya negeri ini, VOC mengarungi dua samudra berlayar
  ke Indonesia, bukan tertarik oleh keindahan Gordel van Smaragd. ,
  tetapi oleh -- REMPAH-REMPAH yang dikandungnya--- , yaitu
  bumbu-bumbu untuk masakan-masakan lezat yang amat disukai dan laris
  di Eropah. REMPAH-REMPAH, itulah 'besi berani' daya tarik utama yang
  menggerakkan VOC beravontur dan kemudian menguasai Indonesia. VOC
  menjelajah ke Indonesia, bukan untuk menyebar agama Kristen atau
  mensosialisasikan kebudayaan Eropah yang dianggap lebih unggul, ----
  tetapi adalah demi mengejar keuntungan, laba dan kekayaan yang
  berlimpah ruah. Betul, dengan menyalahgunakan Kitab Injil dan
  'keunggulan' kebudayaan dan teknologi Barat ketika itu.

  * * *

  Pada tanggal 28 Oktober1928, ketika bangsa Indonesia masih berada di
  bawah kekuasaan kolonial Belandan, sejumlah pemuda-pemuda bangsa
  mengambil keputusan yang bersejarah, yang turut menentukan haridepan
  Indonesia. Pemuda-pemuda harapan bangsa Indonesia itu mendeklarasikan,
  bahwa bangsa ini adalah bangsa Indonesia, yang bertanah air
  Indonesia dan berbahasa Indonesia (yang ketika itu masih dikenal
  sebagai bahasa Melayu), menjadi 'lingua franca', bahasa nasional
  untuk seluruh bangsa Indonesia.

  Diambilnya keputusan tsb, ketika bangsa dan tanah air masih dalam
  cengekeraman kekuasaan asing, menunjukkan bahwa kesadaran berbangsa
  telah lahir dalam suasana yang penuh keyakinan dan dalam semangat
  hamonis dan damai. Patut dikatakan harmonis dan damai, bila kelahiran
  bangsa dan bahasa nasional yang berlangsung di Indonesia , dengan
  mengingat bahwa di pelbagai negeri dunia ketiga, untuk penentuan
  bahasa apa yang ditetapkan sebagai bahasa nasional, seringkali
  berlangsung dalam suasana konflik kekerasan yang berlarut.

  Deklarasi Pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 itu, merupakan
  tonggak penting dalam sejarah perkembangan kebangkitan kesedaran
  nasional bangsa Indonesia. Tepat sekali peristiwa tsb dicatat dengan
  tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia.

  * * *

  Namun, peristiwa-peristiwa penting yang mendahului Hari Sumpah Pemuda
  Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 itu, tak boleh luput dari
  perhatian, studi dan dokumentasi bangsa ini. Yang dimaksudkan ialah,
  didirikannya P.N.I. , Partai Nasional Indonesia, oleh Bung Karno,
  yang kemudian bersama Moh. Hatta, menjadi PROKLAMTOR KEMERDEKAAN
  INDONESIA, pada tanggal 17 Agustus 1945. PNI didirikan dalam tahun
  1927, berarti 1 tahun sebelum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

  Arti teramat penting dari didirikannya PNI oleh Bung Karno dkk, ialah
  bahwa partai nasional ini menjadikan Indonesia Merdeka, sebagai
  programnya yang terpenting Jadi program strategisnya jelas, yaitu
  KEMERDEKAAN INDONESIA. Dan cara perjuangannya adalah NON KOPERASI.
  Artinya menolak kerjasama dengan kekuasaan kolonial Belanda. PNI di
  bawah pimpinan Bung Karno dkk, sudah tidak percaya lagi kepada
  kekuasaan kolonial. Beberapa bulan sebelum didirikannya PNI,
  pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan kekerasan militer telah
  menghancurkan pemberontakan PKI yang dilancarkan oleh PKI dalam tahun
  1926. Kelanjutannya adalah penangkapan besar-besaran terhadap
  anggota-angota PKI dan pendukungnya. Mereka kemudian dibuang ke Boven
  Digul, Papua Hindia Belanda.

  * * *

  Dalam pada itu di negeri Belanda, sejumlah mahasiswa Indonesia, yang
  telah mendirikan 'Indische Vereniging', mengubah nama tsb menjadi
  'Perhimpunan Indonesia', PI.

  * * *

  Ditelusuri ke belakang lagi, idé tentang suatu bangsa Indonesia,
  dapat dijumpai pada didirikannya 'Syarikat Islam (SI)', 1905, dan
  kemudian 'Indische Partij' (1912) oleh Douwes Dekker, Tjipto
  Mangunkusumo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), yang
  kemudian di buang ke negeri Belanda, sebagai ganjaran atas 'dosanya'
  membangun suatu partai nasional.

  Didirikannya Partai Komunis Indonesia, PKI, pada tanggal 23 Mei 1920,
  sebagai kelanjutan dari Indische Sociaal Democratische Vereniging
  (1917), ISDV, adalah satu mata rantai penting, dalam kesadaran
  berbangsa serta tekad untuk mencapai suatu Indonesia yang adil.

  * * *

  Bila hendak disimpulkan, lahir, tumbuh dan suburnya semangat
  kebangsaan, semangat patriotisme, cinta-tanah dan bangsa, berlawan
  terhadap setiap kekuasaan asing yang hendak menguasai Indonesia,
  terjadi dalam suatu proses panjang. Suatu proses reaktif terhadap
  penguasaan dan penghisapan yang dilakukan oleh kekuasaan asing Barat.
  Yang kita kenal dengan nama kolonialisme dan imperialisme.

  Penindasan asing yang kejam dan tak adil itu telah melahirkan
  semangat perlawanan yang tak terkalahkan.
  Proses perjuangan tsb telah melahirkan pula suatu nasion, nasion baru:
  INDONESIA. Singkat kata, nasion dan negeri INDONESIA, dilahirkan dalam
  suatu pergolakan yang lahir dari bawah, dari kehendak rakyat itu
  sendiri. Bukan muncul dari kekeinginan kekuasaan asing atau seorang
  raja feodal.

  INDONESIA LAHIR DARI PERGOLAKAN PERJUANGAN YANG ADIL.
  Maka ia tidak mudah berkeping-keping dan hancur berantakan, seperti
  halnya sementara negeri dan bangsa, yang lahir dengan paksaan kekuatan
  dari luar atau dari atas.

  * * *
  *) Majalah 'Le Banian' diterbitkan oleh Asosiasi Persahabatan
  Perancis-Indonesia;
  Ketua -- Ny. Johanna Lederer)




Kirim email ke