MENYOAL TRAGEDI DI PASURUAN

Jika ngomong situasi pembelaan untuk keadaan-keadaan yang mengancam, dan
konteksnya adalah misalnya anda, saya, atau siapa yang lagi jalan-jalan
sendirian tidak ada maksud apa-apa di sepanjang tanah abang, terus di
todong, di palak, terus kita mundur, dan di kejar-kejar, terus saking
kalapnya kita membela diri dan gerombolan penodong, pengancam nyawa kita
tadi mati, itu lain soal.

Soal di pasuruan, adalah persoalan nasib masyarakat miskin yang tinggal di
kampung, di desa, yang untuk hidupnya yang miskin saja sudah terancam, yang
untuk memenuhi kebutuhan hariannya sudah terancam, yang mendengar kabar
kenaikan BBM saja sudah deg-degan, yang mendengar mahalnya biaya pendidikan
menjadikan hidup makin mengancam, yang mendengar mahalnya  kesehatan saja
bikin stress, yang mendengar harga gabah saja bikin gila, yang mendengar
korupsi di bulog saja jadi lemes, yang mendengar kelakuaan korupsi para
pejabat jadi jengkel, apalagi yang kemudian mendengar tanah-tanah mereka
akan di  ambil alih tentara  atas restu hukum negaranya, untuk pusat latihan
militer.

Jika harus memilih tanah untuk siapa ? Apakah untuk tentara atau untuk
masyarakat miskin maka, bagi saya masyarakat dulu harus punya tanah, baru
tentara. Jika di banyak sudut kota kita temui kamp-kamp konsentrasi
masyarakat miskin buat gelandangan, anak-anak terlantar, pengamen, pengemis,
dan aneka model kemiskinan di negara ini, yang tidak ada perhatian sama
sekali dari negara, yang sama sekali tidak ada jaminan apa-apa dari negara
dan kekuasaan ini, yang bahkan sering terlupakan oleh masyarakat di kotanya
masing masing, maka kekuasaan ini jelas berpihak kepada pihak siapa kita
menjadi paham, jika di bandingkan dengan tanah-tanah militer di seluruh kota
di negara ini, berapa luas yang mereka miliki, jika kamp latihan seperti
kodam di semarang yang luasnya dari ungaran sampai semarang, atau di
salatiga hampir separo milik tentara, belum lagi di bandung, dan lain nya,
dan cerita tentang perkebunan, hutan-hutan negara yang dikuasai tentara,
tambang-tambang, kantong-kantong minyak, perusahaan2 dagang dari yayasan
cendana, koperasi-koperasi, atau melihat dendynya istrinya kapolri (tanto)
yang kampanye dengan latar kemewahan seperti di tipi-tipi, maka jelas negara
ini berpihak kepada mereka yang kuat dan kaya.

Dan, jelaslah. Karena peluru dari masyarakat, senjata dari masyarakat,
seragam dari uang masyarakat, maka tentara harus tunduk pada kedaulatan
masyarakat. Panglima militer negara indonesia harus tunduk pada masyarakat
di pasuruan dan masyarakat indonesia pada umumnya. Dan, karena itu.
Tanah-tanah negara yang di patoki atas nama negara dan tentara, yang pada
akhirnya jadi tender jual beli, masuk kantong para perwira dan jenderal2,
jadi ajang korupsi, dan menjual aset negara, berubah nama patok menjadi
TANAH INI MILIK PT TAMBAH KAYA RAYA, dan akhirnya aset masyarakat miskin
hilang.

Kita yang rugi, masyarakat yang rugi, jika kekuasaan ini mau benar-benar
jujur dengan kekuasaannya, maka masyarakat lah yang berkuasa, karena itu
solusi untuk pasuruan :

1. Pemerintah Indonesia harus segera menyerahkan tanah untuk masyarakat
Pasuruan.
2. Pemerintah Indonesia harus segera mengusut pelaku kekerasan (pembunuhan)
di Pasuruan.
3. Panglima militer harus segera mundur dari posisinya.
4. Komandan Marinir harus segera di copot.
5. Seluruh keluarga korban harus mendapat kompensasi yang menjamin
kehidupannya.


Jika tuntutan ini tidak segera di penuhi, maka seruan boikot pemilu untuk
kekuasaan segera di lakukan.
Kita berhak untuk hidup bahagia, jika karena kekuasaan hidup yang sudah
miskin ini semakin terancam karena ulah kekuasaan, maka boikot kekuasaan
ini, boikot pemerintah ini, boikot negara. Hukum di lahirkan untuk mereka
yang berkuasa, bukan untuk kita, hukum di buat untuk membatasi hidup yang
sudah terbatas ini, kita semakin miskin karena ulah kekuasaan, kita berhak
merebut hidup ini, negara tidak selamanya harus ada, negara ada karena kita,
kita berhak termasuk membubarkannya.

BOIKOT KEKUASAAN !! BOIKOT PEMERINTAH YANG FASIS INI !!
TOLAK PEMILU KEKUASAAN BESOK !! TOLAK MILITER !!








terancam dengan ulah negara dan alat-alat negara yang

On 6/1/07, Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Kalau saya jadi wartawan, saya akan wawancarai dokter atau paramedis
yang menanganinya. Atau cari tahu visum-nya.

HB
On Jun 1, 2007, at 2:14 PM, Yoga wrote:

Mengenai bagaimana situasi di lapangan sana... monggo dibaca di :
http://www.detiksurabaya.com/indexfr.php?url=http://www.detiksurab
aya.com/index.php/detailberita.main/y/2007/m/05/d/30/tts/215906/
idkanal/466/idnews/787438/

tentara memang dilatih untuk membunuh.. mengenai dar dor di luar camp, itu

karena beban mental personel tentara yang sudah kelewatan untuk dapat
ditanggung sendirian.... dan itu sudah seharusnya ditanggulangi oleh
komandan pleton atau camp. Cuma masalahnya apakah mereka (komandan)
mengantisipasi atau tidak, yaa.... itu menjadi lain persoalan.

tapi saya juga sedih, sampai anak kecil juga jadi korban... terlebih
balita... merasakan banget.

perspektif netral bukan berarti pembenaran dari suatu kasus lho.. harap
dibedakan lho pak..
saya memandang dari sisi 13 personel itu pak.. bagaimana mereka harus
bertindak.. bagaimana komandan regu harus memikirkan jangan sampai melukai

rakyat tapi juga sekaligus mikirin personelnya..."hanya personel yang
patroli". Monggo dibaca lagi beritanya dan tulisan saya secara utuh jangan

dipotong-potong.

Tulisan saya disini cuma memandang bagaimana para personel tersebut harus
bertindak.... Salah jika menembak rakyat sendiri, namun salah juga jika
mati
konyol, akhirnya menembak batu (tanah) yang menghasilkan peluru pantul
(richocet) setelah menembak ke udara sebagai peringatan. Peluru dari timah

pecah, dan kemudian menembus beberapa orang dari massa. Disini pecahan
peluru juga masih cukup kuat untuk terbang dan melukai orang dewasa namun
membunuh anak kecil.

Oya, masalah negosiasi tuh urusan komandan pusat atau minimal perwira...
Bukan personel dibawahnya.. Sementara personel dibawahnya tetap harus
menjalankan komando dari atasan dan kudu nurut meski hati tak mau.. (kayak

lagu). Itu udah strict order dalam militer pak.. Kalo diluar negeri,
biasanya jadi desersi tuh personel yang ga nurut...

Sudahan ah.. koq malah jadi polemik ga jelas gini...

Intinya:
1. Salahkan pemerintah karena membiarkan persoalan tanah menjadi
berlarut-larut. Harusnya dapat dicegah.
2. Salahkan pada perwira militer (komandan) yang tidak dapat melihat
situasi
dibawahnya. Termasuk menjalankan aturan.
3. Sangat merasakan dan turut berduka cita terhadap keenam korban di
Pasuruan. 6 korban termasuk janin yang dikandung.
4. Semoga kasusnya dapat ditindak lanjuti dengan fair termasuk
mempertimbangkan dari sisi humanisme kedua belah pihak.

salam damai....
sambil berdoa smoga kasus ini tidak terulang lagi... Amiin..

----- Original Message -----
From: "fauziah swasono" <[EMAIL PROTECTED] <fau.ics%40gmail.com>com>
To: <[EMAIL PROTECTED] <mediacare%40yahoogroups.com>ps.com>
Sent: Friday, June 01, 2007 10:31 AM
Subject: [mediacare] Re: marinir tewaskan empat rakyat jelata

> --- In [EMAIL PROTECTED] <mediacare%40yahoogroups.com>ps.com, "Yoga"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>>
>> makanya, sekali lagi dalam tulisan saya sebelumnya... kasus ini
> menjadi besar dan berat sebelah karena melibatkan aparatur negara yang
> terlatih untuk membunuh serta secara institusional (tentara) mempunyai
> track record yang nda bagus di politik negara kita. So, kita udah
> terdoktrin untuk menyalahkan yang lebih kuat..
>>
> Kalau benar bahwa tentara itu cuma dilatih membunuh, berarti ada
> kesalahan mendasar disini.
>
> Bukankah bisa saja, para tentara itu mengalah dulu. Stop pekerjaan
> yang diprotes warga. Adakan pertemuan antara tokoh masyarakat, ulama,
> komandan, dsb... negosiasi..
>
> Gak pernah dilatih negosiasi ya tentara?
>
> Gak pernah dilatih berstrategi juga?
>
> Gak pernah dikasih tau bahwa senjata itu bukan untuk ditembakkan ke
> rakyat sendiri?
>
> Taunya cuma nembak apapun yang didepannya? Pantesan berantem sama
> istri dor, sama temen sendiri dor, lama2 kucing yang nyolong ikan di
> rumah juga di-dor...
>
> Soal sudut pandang, bukannya kita seharusnya memberikan perspektif
> sudut pandang yang netral? Bukan berarti kita pahami: oya mereka
> memang taunya ngebunuh sih, jadi ya terima aja perlakuan begitu...
>
> Kalau kayak gini sih, sama aja kita miara singa. Memangnya mereka ada
> dan digaji buat apa? Digaji pake uang siapa?
>
> salam,
>
> fau
>
> PS. Herannya kok ada "boss" tentara (yg katanya dilatih membunuh) itu
> kalo mikir mau mutusin sesuatu luamaaa bener... trus kalo ngomong
> muter2 dulu, sampe orang mesti nafsir2 sendiri maksudnya apa.
>
>


Hardi Baktiantoro
[EMAIL PROTECTED]







--
bungahitambungaliar

Kirim email ke