Dear Mas Leo,
  
Jujur kadang saya merasa sepi karena saya wanita
normal, tapi ketika bayangan masa lalu muncul, dendam
itu kembali muncul. Saya sudah berusaha lebih
mendekatkan diri kepada Yang Maha Tunggal, tapi bukan
ketenangan yang saya dapatkan, melainkan justru sesak
dan perasaan makin bersalah akan masa depan putri
tunggal saya.
 
Desember 2004, dua bulan setelah perceraian saya, dia
menghubungi saya, topiknya sih hanya ingin mengetahui
putri kami, mungkin dia merasa bersalah karena pas
saya melahirkan pun dia tidak ada di samping saya, dia
baru tahu setelah tiga minggu kelahirannya. Bukan
tidak ada usaha dari saya memberitahukan kehadiran
putrinya yang prematur tapi saya benar-benar tidak
tahu dimana dia berada, tugas ke daerah yang terpencil
adalah alasan saya ketika keluarga dan semuanya
menanyakan dimana dan kenapa dia tidak mendampingi
kelahiran putrinya.

Saya hanya berusaha menjadi yang terbaik buat putri
saya, bahkan ketika dia menyatakan kerinduannya, saya
ijinkan dia datang kerumah untuk melihat dan bahkan
saya ijinkan pula tiap sabtu sore sampai minggu dia
bawa kerumahnya. Perlu Mas Leo ketahui bahwa saya
tidak tinggal satu kota dengan mereka, saya tinggal
jauh, sendiri dengan semua ambisi yang saya raih, saya
tinggalkan putri saya sejak umur dua tahun hanya
karena sakit, kecewa, marah, ambisi, dan tanggung
jawab keluarga; dan sudah 2 tahun saya tidak pernah
bertemu dengannya, karena jarak kami memang amat
sangat jauh.
Satu hal lagi yang perlu Mas Leo tahu bahwa sampai
saat ini pun tidak ada yang tahu alasan utama
perceraian saya. Mereka hanya bisa menyalahkan,
mencaci dan mengucilkan keluarga saya, karena janda di
tempat saya adalah aib, sampah dan rendah.
   
Mas Leo, sampai saat ini saya masih terus
berkomunikasi dengannya hanya dengan satu tujuan untuk
berikan kasih sayang seorang ayah buat putri saya.
Berulang kali dia minta maaf, dan ingin rujuk, kecewa
dan sakit membuat saya menolaknya, biarlah kita
seperti ini toh diantara kita ada si kecil yang tidak
berdosa. Bukan hanya sekali saja dia berusaha
menghancurkan karier saya, karena penolakan saya. Saya
sudah berusaha untuk bersikap lunak dan tetap pada
pendirian saya kalau semuanya telah berakhir. Satu hal
yang tidak pernah saya mengerti kenapa dia masih saja
merecoki hidup saya, tidakkah dia puas sudah membuat
saya seperti ini, jauh dari keluarga, putri tercinta,
dan yang lebih parah lagi saya bahkan sudah tidak tahu
siapa saya. Bahkan sampai sekarang pun dia selalu
membebani saya dengan persyaratan yang harus saya
setujui.
 
Mas Leo, mungkin anda akan menilai kalau saya bodoh,
karena sampai saat ini pun saya masih menuruti
permintaan pertamanya. Saya sudah menerima syarat yang
dia ajukan: rujuk atau dia akan merampas putri kami
jika saya berani menjalin hubungan atau bahkan
menikah; dan saya memilih single forever asal jangan
rampas putri saya.

Konyol ...!!! mungkin itulah yang Mas Leo nilai akan
saya; pertama saya juga tidak percaya dia serius
dengan ancaman itu, toh bagaimanapun juga saya adalah
mama dari putrinya. 

Saya tidak tahu dari mana dia selalu mendapatkan
informasi tentang saya, pernah tanpa sepengetahuan
saya ayah menjodohkan saya dengan kerabat jauh. Dengan
segala macam alasan saya tolak perjodohan itu, tapi
ayah bersikeras untuk melanjutkan perjodohan itu. Saya
tidak kuasa menolak melihat kondisi ayah yang sepuh,
cacat karena kecelakaan dan labil karena terkucilkan
dari keluarga yang semuanya itu dikarenakan saya
dengan status janda, sampah, dan aib. Tetapi, belum
lagi saya selesai menangis, saya terima berita kalau
dia benar-benar mengambil putri saya dari sekolahnya.
Mama jadi jatuh sakit karena cucunya entah berada
dimana, dan ayah jadi lumpuh total karena hampir dua
minggu tidak ada kabar kemana cucunya  pergi. Saya
panik Mas, saya tidak dapat berbuat apa-apa karena
jarak yang tidak memungkinkan saya berada di samping
beliau.

Sampai akhirnya dia menghubungi saya, dan mengakui
kalau dia yang ambil putri kami. Dia sudah tidak
peduli dengan status PNS-nya, dia hanya mengingatkan
saya untuk selalu tepati janji dan menolak perjodohan
itu.
 
Mas Leo, saya benar-benar bingung, saya masih butuh
ayah dan mama, tapi saya tidak mau kehilangan putri
saya. Sekali lagi saya kalah, kalah atas kelemahan
saya, dia kembalikan cucu mama dan ayah, tapi saya
harus durhaka dengan menentang keinginan ayah menolak
perjodohan itu. Ayah marah besar, sumpah serapah saya
terima, bahkan ayah telah menganggap bahwa kelahiran
saya adalah dosa dan kesalahan. Saya hanya diam karena
saya tahu kondisi ayah, tanpa jenuh saya selalu
meminta maaf untuk ampuni saya tapi beliau benar-benar
sudah lupa kalau saya adalah putrinya.
 
Mas Leo yang baik, apa arti semua posisi puncak yang
saya raih tanpa restu ayah, ingin rasanya saya
menceritakan semua tapi saya tidak ingin beliau lebih
jatuh karena saya tidak ingin sesuatu yang fatal
terjadi. Saya tidak mau kehilangan beliau, saya masih
ingin bisa merasakan mencium tangan beliau seperti
ketika saya masih sekolah dulu, dan berharap bisa
membuat beliau mau menerima saya kembali.
 
Mas Leo, sering saya berpikir kalau mati adalah yang
terbaik, tapi bagaimana dengan putri saya ??? Dia
tidak berdosa, saya benar-benar tidak bisa keluar dari
masalah ini. Saya berhasil meraih ambisi saya, posisi
pucak, gelar dan semuanya, tapi di sisi lain saya
bukan siapa-siapa, saya bukan mama yang baik dan saya
adalah anak yang durhaka. Kadang saya merasa
ketakutan, besok, lusa atau minggu depan entah apalagi
yang harus saya hadapi, menangis... sudah terlalu
sering, sabar, nrimo... sampai kapan??? Saya sudah
capek dengan semua ini. Di setiap doa saya, saya hanya
mohon untuk kembalikan kehidupan saya yang dulu,
biarlah saya kembali ke semula tapi saya masih bisa
tersenyum.

Sekali lagi terima kasih Mas, bantuan Mas Leo
benar-benar saya harapkan
 
Best Regards,
Asmaradhani
 
---------------
Catatan dari saya: 

Mbak Asmaradhani menerima segala saran dari
rekan-rekan lainnya untuk menemukan solusi bagi
masalah yang dihadapinya. Saran yang diberikan bisa
diposting di milis atau di-japri-kan ke saya. Terima
kasih sebelumnya. (Leo)

Tentang Leo:
---------------
Leonardo Rimba adalah alumnus Universitas Indonesia
dan the Pennsylvania State University, seorang
professional tarot reader dan bidang lainnya dalam
ranah Psikologi Transpersonal. Media massa yang pernah
meliputnya antara lain: Koran Tempo, RCTI, AnTV, dan
TransTV. Leo sering muncul dalam acara bakti sosial,
baik bagi kalangan lokal maupun ekspatriat di Jakarta,
dan bisa dihubungi di HP: 0818-183-615. Email:
leonardo_rimba@ yahoo.com. Di internet, Leo dikenal
sebagai seorang pengamat fenomenon indigo, dan sering
diasosiasikan dengan Vincent Liong, the foremost
indigo kid in Indonesia... Bersama Audifax, Leo
menulis buku "Psikologi Tarot" yang akan diterbitkan
oleh penerbit Jalasutra, Bandung. Wait for it!


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke