Sumar Sastrowardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   katong orang NTT pung koran
SERIAL Sabtu: 02 Jun 2007 01:23



--------------------------------------------------------------------------------

* Dari kunjungan Megawati di Ende (1)

Semoga jadi anak yang baik

KAMIS (31/5/2007), tepat pukul 12.30 Wita, pesawat Trans Nusa mendarat mulus di 
Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Ribuan massa yang menanti dengan penuh 
kesabaran di bawah terik matahari akhirnya dapat melihat orang yang mereka 
nantikan, yaitu presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri.

Megawati disambut oleh Bupati Ende, Drs. Paulinus Domi dan unsur Muspida di 
bawah tangga pesawat. Didampingi Bupati Domi, Megawati diterima secara adat. 
Sapaan adat dalam bahasa daerah di pintu masuk bandara menandakan Megawati 
diterima secara resmi di Kabupaten Ende.

Bupati Domi yang berada di sisi kiri Mega menerjemahkan arti kata-kata yang 
digunakan dalam sapaan adat. Ketika syair-syair adat dilantunkan dalam bahasa 
daerah, Megawati pun tersenyum seakan mengerti arti syair itu.

Dengan leher yang dikalungi selempang adat khas Ende-Lio, Megawati tidak lupa 
memberikan senyum dan lambaian tangan kepada warga masyarakat yang berada di 
balik pintu pagar Bandara H Hasan Aroeboesman Ende.

Setelah beristirahat sejenak di ruang VIP bandara, Megawati dan rombongan 
menuju rumah jabatan Bupati Ende di Jalan El Tari-Ende. Perjalanan menuju rumah 
jabatan diiringi drum band yang dibawakan para pelajar SMAK Syuradikara. 
Dentuman drum band beradu nyaring dengan raungan sirene pasukan pengawal 
Megawati.

Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 Wita. Bupati Domi sebagai tuan rumah menjamu 
Megawati menikmati makan siang di rumah jabatan. Seakan berpacu dengan waktu, 
setelah menikmati makan siang, Megawati memulai safarinya di Kota Ende. Sasaran 
pertama yang hendak dituju adalah bekas rumah kediaman Bung Karno di Jalan 
Perwira. Di tempat ini putri Bung Karno ini sudah dinanti massa. Di rumah 
tersebut Megawati mengisi waktu dengan melihat ruang demi ruang, termasuk 
tempat semadi ayahnya. Megawati sempat berusaha membuka sebuah pintu, namun 
gagal karena memang terkunci. Momen yang dinanti-nanti oleh semua rombongan 
akhirnya tiba ketika Megawati mengambil air sumur dari sumur yang berada persis 
di belakang rumah. Cukup lama Megawati bermain-main dengan air. "Ayo Theo, coba 
kamu cicipi air ini agar kamu awet muda dan bisa dapat jodoh," seloroh Megawati 
kepada Theo Syafei yang berada di sampingnya. Guyonan yang dilontarkan membuat 
sejumlah pengunjung tertawa. Tak lupa Megawati
 mengusap-usap rambutnya dengan air dari sumur itu. Di tengah keasyikan 
bersenda gurau dengan para pengiringnya, Megawati tiba-tiba memanggil salah 
seorang staf Bidang Data DPP PDIP, Hira Priyono.

"Ayo No, sini!" panggil Megawati kepada Hira Priyono. Pria yang dipanggil No 
oleh Mega lantas mendekat dan bersimpuh di depan Megawati. Tak lama berselang 
Megawati didampingi Theo Syafei "mempermandikan" No dengan air sumur sambil 
berkata, "Semoga kamu menjadi anak yang baik dan berguna bagi bangsa dan 
negara." Momen langka ini langsung diabadikan oleh para wartawan yang dengan 
setia mengikuti pergerakan Megawati.

Sesaat setelah keluar dari rumah Bung Karno, para pengawal Megawati sempat 
dibuat kaget ketika Megawati secara spontan keluar dari jalur kawalan dan 
mendekati anak-anak yang memanjati pagar. Dengan senyuman manis, Megawati 
menyambut uluran tangan anak-anak tersebut. Tidak terkira kegembiraan wajah 
anak-anak itu ketika berhasil menggapai tangan Megawati. "Aduh, syukur saya 
bisa pegang tangan Ibu Megawati," tutur sejumlah anak-anak yang berusia antara 
tujuh - delapan tahun.

Megawati kemudian menuju Museum Bahari. Di tempat ini mengawali kunjungannya 
Megawati menuliskan sebuah pesan di buku tamu, "Lestarikan terus museum Bahari 
ini." Pesan ini bermakna panjang. Setidaknya Megawati ingin bahwa kehadiran 
museum tersebut dapat menjadi laboratorium mini bagi penelitian segala biota 
laut.

Harapan itu tentu sangat bermakna karena siapa pun tahu bahwa para oknum 
nelayan di Ende kerap menjadi "kanibal" ketika berada di laut. Mereka tak 
segan-segan melepaskan bom di laut hanya untuk mencari ikan. Tindakan ini tentu 
akan merusak segala biota laut.

Didampingi Pater Gabriel Goran, SVD sebagai pengelola Museum Bahari yang 
berapi-api menjadi "tutor" bagi Megawati, putri Bung Karno ini terlihat begitu 
antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Gabriel. Meskipun begitu, Megawati 
sempat terusik ketika dijelaskan bahwa mayoritas isi museum berasal dari 
Lembata. "Ini kok aneh ya, museum ada di Ende barang-barangnya dari Lembata 
semua. Apa di Ende tidak ada ikan?" katanya.

Mendengar pertanyaan tersebut, Sony Keraf yang berasal dari Lembata, lantas 
nyeletuk, "Benar ibu, semua ikan di Ende sudah pada mati karena memang 
nelayannya suka membom ikan." Hal ini membuat Bupati Ende, Drs. Paulinus Domi 
tersenyum simpul. "Kalau yang ini dari Ende," kata Bupati Domi sambil 
menunjukkan ikan duyung sapi dan sejumlah ikan lain yang telah diawetkan dalam 
lemari kaca.

Siapa bilang Megawati hanya bisa menjadi politisi wanita yang hebat? Di balik 
kehebatannya sebagai seorang politisi, Megawati tetaplah seorang ibu dan wanita 
yang tentunya berurusan dengan dapur. Hal ini terlihat jelas ketika Pater 
Gabriel menunjukkan sejumlah ikan yang mengandung racun mematikan, Megawati 
bukannya terkejut, tapi justru memberikan kuliah singkat kepada semua orang 
yang saat itu berada di sekitarnya.

"Kalau kita yang tidak tahu memang ikan ini racun, namun kalau kita tahu cara 
pengolahannya justru ikan ini sangat enak untuk dinikmati karena orang Jepang 
sangat gemar dengan ikan jenis ini karena memang mereka tahu cara mengolahnya," 
kata Megawati.

Setelah berurusan dengan ikan, Megawati melanjutkan kunjungannya ke Museum 
Budaya. Di Museum Budaya, Megawati didampingi Wakil Gubernur, Drs Frans Lebu 
Raya dan Ketua PKK Kabupaten Ende, Ny. Sisilia Domi. Di tempat ini, lagi-lagi 
Megawati kembali memberikan ‘kuliah’ ketika memperhatikan anyaman dari daun 
lontar. "Ini kalau dikembangkan secara intens dan diberi hiasan yang bagus 
tentu akan bernilai ekonomi tinggi," ujarnya.

Ketika berada di pohon sukun, Megawati lantas disambut dengan vokal grup yang 
menyanyikan lagu Pancasila dalam bahasa daerah. Di tempat ini Megawati terlihat 
melancarkan protesnya dan berkata. "Menurut bapak saya (Bung Karno, Red), bahwa 
ketika dia merenungkan Pancasila pandangannya luas ke depan menghadap laut, 
lalu kenapa sekarang sudah tidak ada jalan di sekitar pohon sukun dan pohon 
sukunnya kok dikurung?" ujarnya.

Tentang ketiadaan jalan di sekitar pohon sukun agaknya menjadi pekerjaan rumah 
bersama karena memang di sekitar pohon sukun sudah berdiri sejumlah bangunan. 
Kondisi ini tentu menghalangi pandangan dari pohon sukun untuk melihat ke arah 
laut. (romualdus pius/bersambung)


[Non-text portions of this message have been removed]



_________________________
SASTRA-PEMBEBASAN, wacana sukasamasuka sastrakitakita 
Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
 Yahoo! Mail is the world's favourite email. Don't settle for less, sign up for 
your freeaccount today.

Kirim email ke