Minggu depan MetroTV bakal menyiarkan episode baru realityshow “The Scholar” 
Indonesia, bedanya kalau dulu untuk meraih beasiswa MM di UI, yang sekarang 
untuk gelar S1 Prasetya Mulia. Saya bukan mau mengkritik proses sang kandidat 
dalam meraih hadiah dana pendidikan tersebut, hanya saya pikir mengapa pulu 
untuk pemilihan kepala daerah seperti gubernur tidak memakai cara yang sama ? 
   
  Maksudnya, selama 14-30 hari masa kampanye nanti ada stasiun tv lokal yang 
meliput segenap kegiatan calon gubernur, mulai dari bangun pagi, bertemu 
simpatisan, membuat tim sukses, menjaring dana kampanye tanpa modal 
konco-koncone, rapat bareng parpol pendukung, sampai ikutan “ngotorin” tembok2 
Jakarta dengan tempelan berbagai spanduk2 nggak penting. 
   
  Kalau pesertanya cuma trio Adang Darajatun, Fauzi Bowo, dan Sarwono 
Kusumaatmaja doang, yach nggak seru. Sekalian libatkan juga banyak perwakilan 
dari kalangan selebritis, pengusaha, sampai pedagang kaki lima korban gusuran 
tramtib. 
   
  Bila pemilihan presiden tidak perlu lulusan S1, nggak salah donk kalau untuk 
urusan eliminasi kandidat gubernur DKI perlu diadakan minimal test IQ dulu biar 
nggak dibego-begoin bawahannya. Jangan lupa verifikasi jumlah harta kekayaan 
sang calon gubernur berikut asset para tim suksesnya. FPI, FBR, Forkabi, IKB, 
etc dukung siapa ?
  Tahap kedua, buat debat terbuka dengan system panel yang disiarkan langsung 
televise dalam beberapa segmen pembahasan masalah ibukota, mulai dari banjir, 
kemacetan, pengangguran, kriminalitas, polusi, pluralitas, perjudian, lokasi 
prostitusi, dan tentu pemberantasan korupsi pungli. 
   
  Tahap ketiga, bikin semacam kuis cerdas cermat, tanya pengetahuan sang calon 
soal seluk beluk Jakarta, dari susahnya ngurus KTP, berapa sungai yang tercemar 
limbah, departemen mana yang ngeborosin duit APBD, sampai siapa Abang None 
Jakarta tahun busway belum ada.
  Tahap keempat, bersedia teken kontrak yang menyatakan tidak tersangkut dana 
DKP maupun dana siluman lainnya plus ada masterplan 1, 2, 3 tahun dan 
seterusnya wajah Jakarta akan seperti apa. Jadi, warga diajak untuk tidak 
memberikan cek kosong untuk mereka.
   
  Tapi apa mau dikata, belum apa2 mereka sudah pada main “curi” start kampanye. 
Bayangkan belum beneran menjadi kepala daerah saja sudah berani “mencuri” ? Apa 
yang bisa diteladani “warga” Jakarta dari aksi curang seperti itu ?
   
  WARGA DKI BUTUH MEMILIH DAN DIPILIH
  SAATNYA CALON GUBERNUR INDEPENDEN !!!
   
   

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke