http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007060400543116

      Senin, 4 Juni 2007 
     

      BURAS
     
     
     
     

Aktor Film atau Politik? 



       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      KAKAK tertua sebuah keluarga serasa kena sambar petir di siang bolong 
ketika adiknya minta izin ke Ibu Kota mengadu nasib untuk jadi bintang film 
atau televisi.

      "Apa kau tak pernah ngaca, melihat wajahmu yang jelek itu di cermin?" 
entak si kakak.

      "Justru setiap ngaca aku makin yakin, tampangku memenuhi syarat untuk 
ngetop di kancah artis nasional!" jawab adik penuh percaya diri. "Apa tak Kakak 
lihat wajah-wajah artis yang ngetop, kalau tak keindo-indoan atau sangat 
cantik, pasti yang sangat jelek sekalian! Dan wajahku, masuk salah satu 
kategori itu!"

      "Huahaha..!" kakak jadi terbahak. "Tapi, kau bisa apa? Nyanyi, suaramu 
rusak sampai untuk nyanyi di kamar mandi saja kupingmu takut mendengar suaramu 
sendiri! Acting, sejak kecil ikut lomba baca puisi Agustusan di tingkat RT saja 
tak pernah lolos ke babak kedua! Bakat alam atau keturunan, tak ada!"

      "Kakak juga, tanpa modal pengetahuan dasar atau keturunan, kok bisa jadi 
politisi?" timpal adik. "Malah sudah jadi politisi pun kalau pidato selalu 
pakai teks yang dibuatkan orang lain!"

      "Beda aktor film atau televisi dengan aktor politik!" tegas kakak. "Modal 
aktor politik yang terpenting, kejeliannya memilih kelompok dominan yang sangat 
menentukan di tubuh partai! Kedua, siap dengan setoran tertinggi ke partai 
untuk mendapat 'nomor jadi' setiap pemilu! Serahkan vote kita di Dewan mutlak 
pada apa pun maunya partai! Dengan semua itu, kita tinggal tidur nyenyak setiap 
sidang legislatif karena selalu sudah ada yang ditunjuk untuk menangani sampai 
tuntas setiap masalah! Lantas, kalau diwawancarai wartawan tinggal nimpali ke 
arah mana maunya wartawan, asal tidak bertentangan dengan garis dan kepentingan 
partai! Pokoknya, tunjukkan soal loyalitas nomor satu pada diri kita, lalu soal 
kemampuan akan mereka tempatkan di urutan bawah!"

      "Tak perlu punya gagasan cemerlang secara ideologis untuk lebih cepat 
meningkatkan kesejahteraan rakyat?" kejar adik.

      "Soal gagasan gudangnya pada para pakar!" tegas kakak. "Seperti di 
supermarket, kita tinggal memilih gagasan terbaik dalam arti yang paling 
menguntungkan kepentingan pribadi, kelompok atau partai!"

      "Ternyata lebih mudah jadi aktor politik daripada aktor film atau 
televisi!" timpal adik.

      "Belum lagi soal lahannya!" sambut kakak. "Film produsernya sedikit, 
televisi jumlah stasiunnya juga terbatas! Sedang politisi, tersedia lahan luas 
dengan berbagai tingkat legislatif di seantero Tanah Air! Maka itu, kau tak 
usah bermimpi jadi aktor film atau televisi, lebih baik jadi aktor politik 
saja! Ikut aku aktif di partai, untuk setoran ke partai nanti kita gadai tanah 
warisan ke BPR, yang tak terlalu sukar memberi kredit asal cukup agunan!"

      "Tak dapat kubayangkan bagaimana jadinya kualitas pentas politik secara 
nasional di seantero Tanah Air, kalau orang-orang yang tak jelas kemampuannya 
seperti aku ini yang menguasainya!" timpal adik.

      "Tak perlu dibayangkan! Cepat belajar pakai dasi!" tegas kakak. 
"Ketimbang nganggur, di arena politik tamat SMA bisa jadi presiden!" 
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke