05/06/2007 13:21 WIB 

Inu Pamerkan Foto Dosen Wanita IPDN Peluk Praja Pria

Nograhany Widhi K - detikcom

 

Jakarta - Inu Kencana makin giat membongkar kebobrokan penghuni kampus IPDN.
Saat menemui Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara, dosen IPDN itu
memamerkan foto dosen perempuan, yang disebut-sebut menginjak Alquran sambil
telanjang, sedang berpelukan dengan praja pria.

 

Inu yang didampingi kuasa hukumnya, Elyasa Budianto, terlihat santai.
Mengenakan kemeja lengan panjang abu-abu, Inu memperlihatkan selembar kertas
fotokopian dua foto berukuran 4R.

 

Pada foto yang berada di sebelah kiri, terlihat gambar close up seorang
wanita berpakaian u can see dengan rambut seleher. Ketika melihat foto ini,
Abdul Hakim dan staf Komnas HAM dan pengacara Lexy M Giroth masih
biasa-biasa saja.

 

Namun ketika diperlihatkan foto yang di sebelah kanan, mereka takjub dan
membelalakkan mata. Foto kedua itu memperlihatkan seorang dosen wanita
sedang berpelukan dengan pemuda berkumis yang dikatakan Inu adalah praja
pria IPDN. Dengan mata terpejam, dosen yang disebut Inu berinisial E itu
sedang membenamkan wajahnya ke leher pria yang sedang melihat ke arah
kamera.

 

"Saya tidak mau menyebarkan gambar porno, cuma dosen yang mendampingi praja
putri yang mengadu ke Komnas HAM beberapa waktu lalu, itu kan pakai jilbab.
Kesannya baik. Tapi ini sebenarnya," kata Inu dengan senyum simpul sambil
memperlihatkan fotokopian tersebut di kantor Komnas HAM, Jl Latuharhari,
Jakarta Selatan, Selasa (5/6/2007).

 

Spontan yang hadir tertawa. "Oh, kaya gitu ya," ceplos salah seorang yang
hadir.

 

Abdul Hakim yang melihat gambar itu langsung bertanya, "Dari mana Bapak
dapat itu?"

 

"Dari polisi," sahut Inu enteng.

 

Inu membeberkan, dia berani menunjukkan foto tersebut karena diminta oleh
praja putra yang ada di foto tersebut.

 

"Karena dia (dosen perempuan) itu memang nakal, Pak. Dia juga suka tidur
dengan praja putra. Sudah banyak korbannya," ucap Inu mengulang permintaan
praja yang juga berinisial E itu yang kini bekerja di Pemda Padang.

 

"Itu yang perempuan memang cantik. Orang sekarang sudah tua saja masih
cantik. Dulu mudanya dahsyat," ceplos Inu sambil tertawa.

 

"Wah, jangan-jangan Bapak naksir juga," celetuk seorang wartawan disambut
tawa yang hadir.

 

"Oh, tidak. Menurut saya yang paling cantik istri saya," elak Inu juga
sambil tertawa. "Rupanya dia malu sekarang, soalnya anak-anaknya sudah
beranjak gadis," tambahnya.

 

"Pantesan, setiap saya ingin membuka kasus perzinahan kok distop. Rupanya
dia sendiri seperti itu," ujar Inu. (ana/sss)

 

Source :
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/05/tim
e/132120/idnews/789483/idkanal/10

 

 

 

05/06/2007 13:54 WIB 

Rektor IPDN Dituding Mobilisasi Praja ke Jakarta

Nograhany Widhi K - detikcom

 

Jakarta - Sejumlah praja putri secara maraton curhat ke MUI dan Komnas HAM
memprotes buku "IPDN Undercover" karangan Inu Kencana. Praja datang diduga
lantaran dimobilisasi Pejabat Rektor IPDN Johannis Kaloh.

 

"Itu dimobilisasi karena sebenarnya mereka tidak mau berangkat dari
Jatinangor. Ada surat perintah dari rektor, Pak Kaloh, untuk memobilisasi ke
Jakarta ke MUI dan Komnas HAM," kata 

dosen IPDN Andi Asikin.

 

Hal ini disampaikan Andi saat beraudiensi dengan Komnas HAM di kantor Komnas
HAM, Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, Selasa (5/6/2007).

 

Menurut dia, para praja tidak membubuhkan tanda tangan saat melayangkan
surat somasi ke Polda Jawa Barat.

 

"Mereka takut kalau menandatangani pengaduan kan diproses hukum. Jadi
sebenarnya tidak ada pengaduan resmi, kerena mereka tidak mau tanda tangan,"
ujar Andi yang mengenakan kemeja warna hijau dibalut jaket warna coklat
muda.

 

Andi mengaku mendapat tekanan dari tim investigasi Depdagri agar tidak
bicara lagi di media. Bahkan dirinya diancam akan dipecat.

 

"Iya benar... dari tim investigasi dari Irjen Depdagri, Pak Sucahyo, saya
dilarang bicara sama medi. Makanya saya sering bilang no comment," kata
Andi.

 

Dosen IPDN Inu Kencana juga membenarkan adanya mobilisasi praja ke Jakarta.

 

"Saya dapat SMS dari praja saya, isinya Pak sebenarnya kita tidak mau
melakukan somasi kepada Bapak, tetapi karena kita dimobilisasi. Iya betul,
itu Pak Kaloh yang memobilisasi," kata Inu.

 

Praja putri IPDN curhat mengenai buku "IPDN Undercover" ke MUI dan Komnas
HAM. Buku itu dianggap mencemarkan nama baik praja putri. (aan/umi)

 

Source :
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/05/tim
e/135405/idnews/789515/idkanal/10

 

 

 

05/06/2007 16:47 WIB 

Misteri Aborsi di IPDN Dikuak

Nograhany Widhi K - detikcom

 

Jakarta - Setelah foto dosen perempuan IPDN yang disebut-sebut
menginjak-injak Alquran dipamerkan oleh Inu Kencana, kini giliran kasus
aborsi yang diduga dilakukan oleh seorang praja wanita IPDN berinisial NWP
LMS dikuak.

 

Kronologi aborsi wanita praja asal Ciamis, Jawa Barat, itu diungkapkan oleh
seorang wanita praja (WP) dalam wawancara dengan salah satu pengasuh IPDN. 

 

Transkrip hasil wawancara yang dilakukan pada 25 Mei 2007 itu dibeberkan
oleh dosen IPDN Andi Asikin di kantor Komnas HAM, Jl Latuharhari, Jakarta,
Selasa (5/6/2007). 

 

Berikut petikannya: 

 

Pengasuh: Adik WP, bisa cerita tentang aborsi yang dilakukan oleh NWP LMS?

 

WP: Cerita yang mana?

 

Pengasuh: Cerita kamu sebelumnya kepada saya, tentang temuan sprei NWP LMS
yang berlumur darah hingga tembus ke kasusnya? Bagaimana cerita selanjutnya?

 

WP: Awalnya ketika saya bangun tidur saya melihat teman-teman kumpul di
petaknya NWP LMS di Kalimantan Barat atas karena NWP LMS menangis. Saya kira
orang tua NWP LMS meningal dunia. Tapi waktu itu dia bilang sakit perut.
Mules. Lalu di bawa ke Kamar Sakit Antara (KSA) IPDN. 

 

Pengasuh: Lalu bagaimana cerita bahwa NWP LMS melakukan aborsi di barak?
Bahkan rumor yang berkembang oroknya disembunyikan di bawah tempat tidurnya?

 

WP: Memang rumor itu saya juga pernah denger. Bahkan NWP LMS sebelumnya
menemui saya. Lalu mau pinjem sprei saya. Lalu saya bilang "Bukankah sprei
kamu itu baru saja diganti?" 

 

Lalu NWP LMS menjawab "Iya nih ada darah lagi." Tanpa curiga saya kasih
sprei saya, karena saya kira mungkin datang bulan dan selanjutnya NWP LMS
dibawa ke KSA IPDN. Setelah NWP LMS ke KSA kami teman-temannya melihat masih
ada darah di tempat tidur NWP LMS bahkan sampai tembus ke kasurnya. Maka
kami ramai-ramai membersihkannya dan menjemur kasur NWP LMS karena terasa
sekali baunya.

 

Pengasuh: Lalu bagaimanakah bisa memastikan kalau NWP LMS melakukan aborsi?

 

WP: Sehari sebelumnya saya sempat menegur NWP LMS, "Mengapa sih tempat tidur
kamu bau sekali? Kalau bisa dibersihkan dong, karena baunya sampai tempat
tidur saya".

 

Kemudian pernah juga ada teman saya tengah malam ke kamar mandi dan sempat
berteriak histeris kekagetan karena teman saya itu setelah di kamar mandi
kaget melihat ada orang duduk jongkok dan ada darah di kamar mandi. Dan
ternyata orang tersebut adalah NWP LMS.

 

Pengasuh: Benar enggak setelah kejadian aborsi malam itu pernah ada wanita
praja yang kesurupan di barak?

 

WP: Benar Pak, tapi di petak lain, bukan di petaknya NWP LMS.

 

Pengasuh: Lalu bagaimana cerita penemuan orok di bawah tempat tidur NWP LMS
dan cerita aborsi NWP LMS di barak dapat diketahui pengasuh dan Komdis IPDN?

 

WP: Kalau itu saya enggak tahu, Pak. Padahal kami sudah semua sudah sepakat
untuk GTM (gerakan tutup mulut) tidak boleh ketahuan pengasuh sekalipun,
mungkin lewat KAS, Pak. Karena NWP LMS sempat dibawa ke KSA IPDN.

 

Pengasuh: Kamu tahu enggak pacarnya NWP kok sampai hamil gitu.

 

WP: Setahu saya WP ANR yang masih sekontingen dengan NWP

 

Pengasuh: Kapan kira-kira aborsi NWP?

 

WP: Tanggal persisnya saya enggak tahu. Tapi yang saya ingat itu hari
Minggu, karena saya siap-siap mau pesiar. Dan itu kira satu atau minggu
sebelum cuti hari raya (tahun lalu) dan tahun baru kemarin.

 

Pengasuh: Kalau cerita aborsi WWP DS?

 

WP: Kalau yang itu saya tidak mengetahui, karena dia senior. Dan rumor yang
berkembang di kalangan praja dia ada kasus asusila (hamil).

 

Pengasuh: Ok, terima kasih informasinya, Dik (irw/nrl)

 

Source :
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/05/tim
e/164721/idnews/789679/idkanal/10

 

 

 

05/06/2007 14:16 WIB 

Komnas HAM Surati Depdagri Pertanyakan Pelarangan Buku Inu

Nograhany Widhi K - detikcom

 

Jakarta - Buku "IPDN Undercover" buah karya Dosen IPDN Inu Kencana laris
manis terjual. Namun ada pihak yang berupaya melarang. Komnas HAM pun turun
tangan.

 

"Kita akan tulis surat yang sifatnya mempertanyakan kepada Depdagri apa
benar ada upaya pelarangan buku ini. Kalau benar, itu pelanggaran HAM,"
Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara.

 

Hal ini disampaikan Abdul Hakim saat beraudiensi dengan Inu di kantor Komnas
HAM, Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Selasa (5/6/2007).

 

Menurut dia, buku merupakan karya cipta seseorang dan berkaitan dengan
aktualisasi dan kebebasan berekspresi, serta dijamin konstitusi.

 

"Kalau tidak setuju terhadap isi buku, silakan dibantah lewat buku juga atau
lewat pengadilan. Kalau ada pihak-pihak yang tersinggung atas buku itu,
bukan dengan cara mengancam dan intimidasi," terang Abdul Hakim.

 

Abdul Hakim menegaskan, posisi Komnas HAM netral dan tidak memihak mana pun.

 

"Kalau ada pelarangan itu, silakan kumpulkan buktinya. Mengenai buku itu hak
publik juga untuk tahu karena IPDN dibiayai rakyat Rp 150 miliar per tahun.
Ada apa di situ, apa uang negara digunakan dengan benar. Jadi Bapak jalan
terus dengan buku itu," kata Abdul Hakim.

 

Dalam audiensi, Inu curhat ada pihak-pihak yang mencoba menjegal buku
karangannya itu. Beberapa eksemplar bukunya pun dilarang beredar di koperasi
kampus IPDN.

 

"Sekarang masih numpuk. Waktu itu ada yang mengatasnamakan MUI bernama Fatah
berpakaian kiai, bilang buku saya dilarang. Ternyata MUI Jawa Barat
mengatakan orang itu bukan bagian dari MUI," kata Inu.

 

Inu mengatakan, sekitar 20 ribu eksemplar buku karangannya sudah habis
terjual. Sekarang sudah naik cetak ke dua tanpa perbaikan.

 

Jadi orang kaya dong Pak? "Ya bulan depan saya kaya," sahut Inu sambil
tertawa. (aan/sss)

 

Source :
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/05/tim
e/141603/idnews/789535/idkanal/10

 

Kirim email ke