Perihal diskursus ini, saya teringat pertanyaan seorang Australia keturunan Inggeris, tatkala saya masih bermukim di sana. Dia suka membaca sejarah, dan dari cara dia bersahabat, dia memberi perhatian kepada sejarah peradaban manusia. saya memperoleh kesan karena di rumahnya terlihat berbagai bukti perjalanan dia ke berbagai negara dan ketertarikan dia kepada sejarah peradaban. Dia juga mengisahkan perjalanannya ke Ayer Rock, batu kramat bagi masyarakat Aborijin Australia. Lokasi Ayer Rock adalah di wilayah Utara yang sepi. Tidak mudah menjangkaunya, lebih-lebih dari penduduk yang tinggal di Selatan. Dia bangga sudah ke sana.
Kembali kepada diskusi peradaban, dia memberikan komentar yang menarik dan mengesankan bagi saya. Harap diingat, bagi sebagian mereka, biarpun saya adalah Kristen tulen, namun sebagai orang Indonesia dia melihat saya adalah seseorang yang juga hidup dalam suatu komunitas di mana berbagai postur budaya dan hal-hal lainnya diwarnai oleh peradaban Muslim. Sehingga diapun, saya duga merasakan sesuatu yang penting untuk bertanya ke saya. Dia bertanya: Mengapa sebuah peradaban (maksudnya Islam) yang di masa lalu pernah menghasilkan karya-karya gemilang seperti aljabar dan berbagai ilmu-ilmu murni yang sebagian di antaranya menjadi landasan sains kita sekarang ini, sepertinya tidak mencuatkan karya-karya besar yang tercermin dalam situasi kontemporer sekarang ini? Saya tidak menjawab, dan malah bertanya dalam hati:Mengapa dia bertanya? Apakah dia sudah punya jawaban? Tentu, bebas menjawabnya. Pertanyaan ini bersifat netral, dipersilahkan bagi semua orang yang mendengarnya membuat penafsirannya sendiri. Karena saya tidak punya jawaban yang mendasar, dalam arti bukan sekadar menurut maunya perut dewek aja, saya teruskan pertanyaan ini kepada para netter. --- RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > --- In [email protected], "Ahmad Pathoni" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Maksud saya mengemukakan fakta sejarah itu adalah > untuk mengjawab > > argumentasi Anda yang sepertinya menyimpulkan > bahwa kebodohan dan > kemiskinan adalah "inherent" dengan agama Islam. > Dengan adanya fakta > sejarah itu maka argumen Anda sudah dipatahkan. > > > ++++ "dipatahkan"? oleh siapa? bilamana? inherent > atau tidak, kita > lihat dengan jelas jemelas, tak ada komunitas Muslim > didunia ini > yang tertata rapi. Tak ada sebab akibat? > > > > > > Oh jadi Anda sering mengunjungi negara-negara Arab > sebagai bagian > dari kerja? Ha ha ha ha. Kalo gitu Anda makan uang > Arab juga dong? > Yeah I love my job, I need the money. > > +++ "Makan uang Arab"? kalau orang Arab beli mesin > mesin harus bayar > kan? jadi kami makan hasil keringat kami. kalau tak > mau beli mesin > dari LN ya buat sendiri dong (bisa?) > > > > > Bagaimana Anda mengeja teknologi? > > t-e-k-h-n-o-l-o-g-y. Itu ejaan versi bahasa apa > ya? Indonesia > bukan, Inggris juga bukan. > > > +++ Ha ha ha ejaan Indonesia? yang > mana? "elu", "gua", "dikerjain", "komplek" , > "permak" Sejak kapan > ada standardisasi ejaan Indonesia? > > > > > Mas Raden, pembantu-pembantu di Arab juga banyak > didatangkan dari > Filipina, negara Katolik yang taat. Apa itu karena > mereka Katolik > dan tidak memiliki "The Protestant ethic" seperti > teorinya Max Weber? > > > > +++ Lho apa salahnya orantg Katholik Philippina > (bukan Filipina), > berkerja pada induk semang Arab? Asal hati hati, dan > tidak > diperkosa, bukan? By the way saya bukan katholik, > emang gue pikirin? > ha ha ha > > > > Yang menghuni daerah kumuh jelas kebanyakan orang > Islam karena > mayoritas penduduk Indonesia adalah orang Islam. > > +++ kalau gitu, karena % Muslim mayo, harusnya > hunian mewah juga > sebagian besar dihuni Muslim? Nggak tu? Di hunian > saya Muslim dapat > dihitung dengan jari satu tangan ha ha ha > > kecian deh lu, ahhh capek dehhh... > > ____________________________________________________________________________________ Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware protection. http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/norton/index.php
