Terkait 'pertanahan' , saya menyumbang satu contoh, dikemukakan oleh seorang 
teman ketika kerusuhan di Kalimantan sedang hangat2nya.
  Kakaknya, yg ditugaskan ke pulau B (sekitar Sumatra), pindah membawa 
sekeluarga pembantu dari etnis tertentu (yg dimaksud Pak Paulus). Selama di 
pulau B, kakak teman sanggup membeli tanah yang cukup luas untuk diolah. Saat 
harus kembali ke Jawa, tanah tersebut dititipkan pada pembantunya unt diawasi. 
Tahun pertama lancar, tapi berikutnya nyaris tak terdengar beritanya. Ketika 
akhirnya sang kakak mencek ke pulau B, tanah tersebut dipenuhi sanak saudara & 
tetangga pembantu, yg mengklaim tanah tersebut sebagai milik mereka (dan tidak 
mau pergi sekalipun sertifikat asli milik kakak telah ditunjukkan).
  Untung kakak ini orang yg supel semasa dinas di pulau B sehingga banyak 
kenalan pejabat. Entah bagaimana dan berapa lama, pada intinya setelah berjuang 
mati2an akhirnya tanah tersebut dapat kembali menjadi milik sang kakak 
sepenuhnya dan para 'penunggu' dapat 'diusir'...
   
  Perkara nekad, di Jawa Pos beberapa tahun lalu pernah diberitakan tentang 
nasib malang beberapa anggota polisi, yang ketika mengejar buronan ke pulaunya, 
mati tercacah! Ini benar2 terjadi, karena rupanya si buron berteriak dalam 
bahasanya kalo ada yg mengejar dia sehingga tanpa ba-bi-bu masyarakat menclurit 
para polisi. Polisi tersebut mati mengenaskan (saya lupa apa ada yg selamat 
atau tidak), tanpa ada secuil LSM HAM apapun yg mempedulikan kematian mereka, 
apalagi nasib keluarganya.
  Diberitakan pula bahwa kesalahan taktik polisi adalah tidak kulonuwun pada 
pemimpin spiritual masyarakat tsb unt meminta bantuan menangkap buronan yg 
dimaksud, sehingga mengakibatkan kesalahpahaman.
  Ketika kepolisian mulai memerikas perkara tsb, banyak pria menghilang 
melarikan diri, namun himbauan selalu diberikan oleh 'pejabat' setempat agar 
polisi senantiasa 'menjaga' sikap mereka. Bayangkan, sudah anggota mati 
mengenaskan, 'kesalahan' seolah senantiasa di tangan aparat...
   
  Mohon maaf, saya jadi ingin mendengar kisah Panglima Burung.
   
  Salam damai.

Paulus Tanuri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kalau mengikuti berita ini, kok rasanya gak adil juga ya porsi 
pemberitaannya. Kan memang sudah tradisi kita, kalau ada kecelakaan, tak peduli 
penyebab kecelakaannya apa dan siapa, yang yang besar atau yang lebih kuat yang 
selalu disalahkan dan yang digebuki massa. Mobil dan motor tabrakan, pasti 
salah mobil. Motor tabrak sepeda atau tabrak pejalan kaki, yang salah selalu 
motor. Tidak peduli apakah pejalan kakinya nyebrang sembarangan atau tiba2 
muncul, pokoke sing gede sing disalahken. 

Kasus ini juga kan sama. Kita seakan tidak mau peduli duduk permasalahan yang 
sebenarnya. Yang bawa senjata selalu salah. Tapi ingat, kedua belah pihak sama2 
bawa senjata loh di sini. Bedanya cuma marinir senjata api, massa senjata 
tajam. Tapi marinir kan memang kemana2 kalau lagi jam tugasnya ya selalu bawa 
senjata ? Lalu yang harus ditanyakan, massanya ngapain datang beramai-ramai 
bawa clurit ? 

Kalau mengenai apa yang dikatakan pak Ruhut soal etnis tertentu itu, ya mungkin 
saja memang benar kalau ada etnis tersebut yang terlibat. Kan memang lokasinya 
dekat sekali dengan daerah asal etnis tersebut. Tapi mungkin tidak harus serta 
merta menunjuk etnisnya, tapi lebih ke perseorangannya. 

Tapi kalau kita semua mau lebih teliti lagi, masyarakat dari etnis yang 
disebutkan itu memang benar banyak sekali menebar permasalahan di banyak 
tempat. Dan sebagian besar adalah masalah tanah, batas tanah, dan rumah tempat 
tinggal. Dan sebagian besar adalah masalah pendudukan tanah atau rumah milik 
orang lain dengan tidak sah. Coba saja cek. 
Sebut saya rasis, dalam kasus ini saya tidak keberatan. Tapi coba lakukan 
riset, segala kriminalitas dan semua perselisihan yang terjadi. Dan buat 
statistic berdasarkan asal daerah pihak yang terlibat.

Regards. 
Paulus T

  On 6/6/07, Sociopathos Limited <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  1. Siapa Ruhut 
itu? (pernah miskin gak dia?)
2. Kalau 'dikompori' etnis lain, nanti etnis itu bukannya malah marah di tempat 
lain lalu rusuh di mana-mana, kemudian isu permasalahan tidak lagi di masalah 
utama "RAKYAT MATI TERTEMBAK MARINIR" 
3. Ini standar divide et impera, bukan?

Apapun alasannya, faktanya adalah:
1. korban telah jatuh
2. marinir yang membunuh itu tidak berada di daerah operasi militer

Selain itu, lihatlah TV, para tersangka itu masih muda. Anak lelaki muda 
dikasih senapan, ibarat diberikan alat vital oleh Yang Maha Kuasa agar dipakai 
untuk tunjukkan ke-macho-annya. Boys will be boys. 

Jangan perlebar masalah, Pak. Mari kita betulkan bersama, misalnya:
1. beri kadet TNI kita mata pelajaran HAM
2. ajari mereka main komputer (ada game tembak-tembakan SIMS yang lebih 
konstruktif strategis daripada nembak beneran) 
3. latih kesabaran mereka dengan konsisten, banyak metode untuk latih kesabaran

Jangan perlebar masalah, Pak Ruhut.
Rakyat sudah sengsara nih...

Indra



  

         

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

Kirim email ke