Maaf ikut nimbrung.
Kira-kira jelang tahun lalu ada ulasan di media bahwa dinegeri kita cukup
banyak yang suka berupaya "membeli surga" dan "menyogok malaikat".  
Hebat kan?

Salam, bdg

  ----- Original Message ----- 
  From: Sunny 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, June 08, 2007 7:31 AM
  Subject: Re: [mediacare] Re: Para Pemimpin agar Lebih Banyak Berdoa



  Saya kira orang  boleh saja berdoa pakai kata-kata, berteriak, menyanyi atau 
berdiam diri membisu sejenak atau berjam-jam. Malah kalau mau sehari, seminggu 
suntuk pun boleh. Silahkan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Silahkan 
berdoa kepada  Allah, silahkan berdoa kepada pohon beringin, arwah nenek 
moyang, gunung merapi,  langit biru, langit penuh debu gurun pasir atau langit 
penuh asap pabrik etc.  Silahkan berdoa  seperti kambing mengembik untuk 
mendapat ilham dan kekuatan untuk  berbuat baik kepada sesama mahluk adalah 
sangat baik dan berguna, tetapi kalau setelah berdoa lantas kebiasaan buruk 
diulangi lagi, itu bukan berdoa tetapi bandit bermohon kepada bossnya untuk 
mendapat instruksi baru.

  Yang hebat ialah para petinggi Indonesia baik sipil maupun militer mereka 
bukan saja banyak berdoa, tetapi rajin berdoa dan rajin pula  melakukan segala 
ritual agama, rajin tiap hari ibadah muncul ditengah-tengah umat. Bukan itu 
saja, tetapi  juga pergi melakukan ibadah suci, setelah kembali bukan menjadi 
orang suci bebas dari perikelakuan buruk, tetapi kebiasaan lama tetap dilakukan 
seperti biasa. Jadi unsur agama untuk berbuat baik dan jujur itu tidak ada, 
agama dipakai sebagai alat mempopulerkan dirinya sendiri guna memiskinkan 
negara dan rakyat.


    ----- Original Message ----- 
    From: ati gustiati 
    To: [email protected] 
    Sent: Thursday, June 07, 2007 10:56 PM
    Subject: [mediacare] Re: Para Pemimpin agar Lebih Banyak Berdoa


    Berdo'a dan meminta ampun, saya ingat waktu kecil saya meminjam mainan 
salah satu teman yg bermain kerumah, karena dia bersikeras menolak sayapun 
merampasnya, lalu dia memukul saya, saya balas sampe dia jatuh, mainan pun ada 
ditangan saya, teman saya menangis, emak saya yg melihat langsung adegan ini 
serta merta menghampiri saya, menepuk keras pantat saya dan menghardik " 
berikan mainan itu kembali dan kamu segera masuk kamar, berdo'a dan minta ampun 
sama Tuhan !"
    Dgn kecewa saya kembalikan mainan kepada teman saya, setengah ngambek saya 
masuk kamar, mak mengikuti saya dari belakang, saya biasanya menghadap tembok 
dan mulai berdo'a, mak puas karena saya berdo'a dan berlalu meninggalkan saya.
    Makan malam tiba, mak menceritakan apa yg saya perbuat hari itu kepada 
ayah, ayah langsung menghentikan kunyahan nya dan menatap saya " siapa teman yg 
kau sakiti siang tadi ?" tanyanya, saya pura2 tak mendengar, mak membentak " 
ayo jawab omie, biar ayah kau tau betapa nakalnya kau ini !"
    saya langsung bela diri " tadi kan saya sudah berdo'a dan minta ampun sama 
Tuhan ?" saya tentu saja berharap perselisihan siang tadi tak perlu 
diperpanjang lagi karena saya sudah menebus kesalahan saya dengan berdo'a dan 
minta ampun kepada Tuhan.
    Ayah menyentuh pundak kecil saya " yg kau sakiti itu bukan Tuhan, tetapi 
teman kau itu, kau harus minta maaf sama teman kau bukan kepada Tuhan, Tuhan 
mungkin sudah memaafkan kau karena buktinya kau msh punya dua tangan, bukankah 
kau memukul temen kau dengan tangan ?"
    Setiap ucapan yg mengalir dari mulut ayah, itulah yg terpahat sepanjang 
malam dibenak saya, hingga hari ini....

    Pemerintah ataupun pemimpin Indonesia yg sudah melakukan tindakan2 yg 
merugikan rakyat dan negara, membuat ber juta2 rakyat Indonesia menderita, 
menjadi korban kebiadaban dan keserakahan mereka, meninggalkan rakyat indonesia 
dengan impian masa depan yg kering kerontang, mereka hanya sibuk menghidupi 
diri dan keluarga dan kerabat dengan uang rakyat dan negara yg dirampas secara 
licik, mereka tidak menyakiti Tuhan karena Tuhan tak bisa disakiti, mereka 
tidak mendurhakai Tuhan karena Tuhan tidak bisa didurhakai, Tuhan bukan manusia 
yg perasaan nya mudah di cabik2, para biadab ini harus menghentikan tindakan 
serakah dan zolim nya karena kesadaran mereka sebagai manusia, berhentilah 
membuat dosa, eling, sadar, kembali kepada naluri manusia, kepada jiwa yg 
beradab, milikilah rasa malu, lihatlah kedalam diri dan benahi akal yg sesat 
dan takabur, karena dalam realita yg ada do'a saja tidak akan merubah apa2, 
meminta ampun kepada Tuhan tidak akan berguna bila tidak disertai
    kesungguhan perubahan diri yg nyata.
    Berdialog dengan Tuhan tak perlu dengan kata2, tunjukan sikap dan niat yg 
baik, hanya itu yg akan merubah Indonesia kita yg tercinta ini.

    Salam hangat
    omie









    Liquid Google <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Mereka rajin berdoa cuma untuk diri sendiri, biar banyak rejeki, dikasih 
    bini lagi, supaya kalo korupsi atau disuap ga ketauan KPK, jadi mereka 
    berdoa itu ada manfaatnye, untuk dirinye sendiri....

    ----- Original Message ----- 
    From: "Danardono HADINOTO" 
    To: 
    Sent: Thursday, 07 June, 2007 09:50
    Subject: RE: [RumahKita] : Para Pemimpin agar Lebih Banyak Berdoa

    > Mas, kalau soal berdoa, bangsa kita adalah jagoan, dari rakyat kecil 
    > sampai semua presiden. Minta ampun, juga. Tetapi, mas, apakah sesuatu itu 
    > akan mendapat berkah dari sang pencipta, yang berdoa harus bersih, 
    > dan...banyak berbuat yang baik dan nyata, ber-dharma. Hukum kharma lebih 
    > kuat dari doa..
    >
    > Yang lain, mas, for nothing..
    >
    > Salam
    >
    > Danardono
    >
    > sumarsastrowardoyo schrieb:
    >
    >
    >
    > Para pemimpin diharapkan lebih banyak berdoa tanpa henti dan mohon
    > ampun dari Tuhan.
    >
    >
    >
    > BALI POST
    >
    >
    > Kamis Kliwon, 7 Juni 2007
    >
    > Surat Pembaca
    >
    >
    >
    > Para Pemimpin agar Lebih Banyak Berdoa
    >
    > Pada saat ini bangsa Indonesia termasuk para elite
    > pimpinannya sedang dirundung kemelut dalam pola pikir dan perasaan
    > juga dalam menghadapi kondisi bangsanya yang rupanya sulit
    > diprediksi sebelumnya, bertubi-tubi mengalami bencana alam bahkan
    > kemungkinan bencana sosial politik. Mungkinkah semuanya ini terjadi
    > karena kurangnya kemampuan kita dalam menerapkan hakikat ajaran
    > dharma bahkan adharma, sehingga semakin jauh dari kebenaran sesuai
    > sabda Tuhan dengan segala hukum mutlaknya yang pasti terjadi (Sat
    > dan Rta)?
    >
    > Kita sebagai manusia diharapkan selalu waspada dan
    > mengendalikan diri dalam pikiran, kata-kata dan perbuatan dengan
    > hati yang bersih (Tapa dan Diksa), siap melakukan atau menerima
    > segala apa pun yang terjadi dengan rasa syukur dan ikhlas (Brahma
    > dan Yadnya). Semuanya ini adalah dharayanti atau penopang alam
    > semesta. Karena itulah kepada para negarawan diharapkan agar
    > memahaminya dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Terlebih
    > masalah pengendalian diri terhadap sasaran Tri Guna, khususnya rajas
    > dan tamas. Kalau rajas dan tamas ini lepas kendali muncullah
    > perilaku Sadripu, yaitu enam musuh besar kemanusiaan yang dapat
    > menjatuhkan martabat manusia yang dapat menimbulkan penderitaan
    > tiada tara. Keenam musuh besar itu adalah amarah besar (krodha),
    > dendam dan iri hati (moha), tamak dan rakus (lobha), angkuh dan
    > sombong (mona), mabuk lupa diri (mada) dan suka berfoya-hoya (harsa).
    >
    > Para pemimpin bangsa diharapkan dalam menghadapi
    > masa sulit seperti sekarang, lebih banyak berdoa dalam hati tanpa
    > henti, mohon ampun dari Tuhan atau setidaknya melakukan
    > trancendental meditation, sehingga emosi menjadi tenang, pola pikir
    > menjadi jernih, lebih bersabar hati, tidak mudah tersinggung.
    > Bersyukur jika muncul sifat pemaaf dan mengampuni. Mungkin harapan
    > seperti itu akan dianggap naif pada saat ini, tetapi bukan berarti
    > tidak mungkin.
    >
    > Dr. I Dewa Ketut Wisnu Putra
    > Br. Sembung Kumpi Kerambitan, Tabanan




----------------------------------------------------------------------------


    No virus found in this incoming message.
    Checked by AVG Free Edition. 
    Version: 7.5.472 / Virus Database: 269.8.11/837 - Release Date: 6/6/2007 
2:03 PM


   

Kirim email ke