Sungguh tidak layak jika ada ajaran yang memaksakan orang lain untuk pindah agama. Apalagi menggunakan label cinta, kesejahteraan dan segala sesuatu yang bersifat duniawi belaka. Lebih menggelikan lagi kalau kekerasan digunakan untuk memaksa umat berpindah agama. Semua itu hanya membuat orang beragama karena ketakutan, uang dan cinta.
Apakah Islam mengajarkan pemaksaan untuk pindah agama? Apakah hakikat jihad yang sebenarnya? Lakukan analisa terhadap Qur'an dan Hadist. Bacalah buku-buku tulisan para ilmuwan. Lakukan perjalanan di muka bumi dan lihat kenyataan yang ada. Jangan mengandalkan fatwa ulama, sabda ustadz, apalagi sekedar gosip dan omong-omong di warung kopi. Namun perlu disadari, orang tidak bisa berdiam diri manakala jiwa dan rumahnya terancam. Apalagi ketika ancaman itu sudah nyata di depan mata. Terkadang perang terpaksa dilakukan untuk membela diri karena harapan untuk damai telah pupus. Dengan maju melawan, maka diharapkan para pengancam akan gentar dan tidak bertindak semena2 di masa depan. Oleh karenanya, ancaman perlu diwaspadai dan dimitigasi sejak dini. Waspada bukan berarti paranoid, tapi lebih cenderung kepada analisa terhadap setiap kejadian dan mengutamakan berfikir sebelum bertindak. ----------------- Jiwaku-pun Rela Ku Korbankan Demi Cinta--Apalagi Cuma Agama !!! Posted by: "Hafsah Salim" [EMAIL PROTECTED] muskitawati Date: Thu Jun 14, 2007 7:12 pm ((PDT)) Jiwaku-pun Rela Ku Korbankan Demi Cinta--Apalagi Cuma Agama !!! Cinta kasih antara pria wanita atau orang tua dan anaknya, atau antara seorang dengan sahabatnya, telah menghasilkan banyak sekali cerita2 berupa epic kepahlawanan, legend percintaan, maupun autobiografi2 yang sangat mengharukan. Bisa jadi "cinta" itu tak bisa dilihat bentuknya dan dianggap hanyalah khayalan dari permainan perasaan seseorang seperti halnya agama ataupun kepercayaan, namun akan merupakan dorongan bagi seseorang untuk melakukan perbuatan2 akibat dorongan cinta tsb. Perbuatan yang bisa kita lihat akibat dorongan2 agama adalah teror jihad Islam yang biadab dan keji, demikian halnya dengan cinta yang juga bisa mendorong seseorang berbuat jahat atau malah berbuat kebaikan2 bahkan bisa jadi mengorbankan jiwa untuk cintanya sementara teror jihad mengorbankan jiwa untuk kepercayaannya. Demikianlah, ada kalanya "cinta" bisa menjadi racun seperti halnya agama yang meracuni seseorang. Kita akan mengutuk akibat cinta maupun akibat agama yang menyebabkan orang lain yang tidak bersalah dijadikan korbannya. Oleh karena itu, janganlah menjadikan "cinta" atau juga "agama" ini mengakibatkan jatuhnya korban. Perasaan Cinta maupun angan2 Agama haruslah digunakan untuk hanya membahagiakan, menghilangkan penderitaan, menghilangkan ketakutan, dan menyelamatkan kehidupan bukan malah sebaliknya !!!! Secara filosofis, cinta kasih seorang pria terhadap wanita selalu dibuktikan melalui pengorbanan, baik pengorbanan fisik dalam bentuk melindungi keamanan si wanita maupun melindungi secara financial dengan mengorbankan seberapa besar hartapun yang dimilikinya, bahkan tidak jarang sang pria malah mengorbankan jiwanya demi cinta kasihnya kepada seorang wanita. Beginilah biasanya realisasi cinta yang ideal pada umumnya disampaikan oleh nenek moyang kita dari generasi ke generasi. Tapi dalam agama Islam, kita sering mendengar dimana seorang laki2 Islam yang mencintai gadis yang bukan Islam mempersyaratkan wanita yang dicintainya itu mengorbankan kepercayaan atau agama orang tuanya agar di laki2 itu bisa menikahinya !!! Alasannya katanya itulah ajaran Islam yang menjadi kewajiban umatnya. Jelas ini adalah ajaran sesat, wong yang jatuh cinta itu pihak laki2, koq malah si wanita yang disuruh berkorban ??? Tidak beda kalo hal sebaliknya dimana si wanita itu seorang muslimah, dan laki2 yang dicintainya itu adalah seorang yang bukan muslim, maka si wanita itu mempersyaratkan si laki2 untuk masuk Islam kalo tidak maka tidak bisa menikah !!! Secara tradisional, maka pihak laki2 dianggap pihak yang lebih kuat, pihak yang lebih dominan, dan pihak yang menjadi pelindung sementara pihak wanita menjadi pihak yang harus dilindungi. Oleh karena itu, apabila si wanita mempersyaratkan laki2 yang mencintainya untuk pindah agama menjadi Islam, maka si laki2 umumnya mau menurutinya demi melindungi perasaan si wanita terhadap keluarganya karena wanita tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap keluarganya dimana kalo sang suami menceraikan atau melakukan hal2 yang menyakiti si wanita, maka tempat pengaduan maupun tempat berlindung hanyalah keluarganya. Tetapi kalo kita hidup dizaman modern sekarang ini dimana peranan wanita maupun laki2 adalah sejajar dalam menuntut hak2nya, maka tradisi memaksakan agama satu pihak kepada pihak lain yang dicintainya ataupun mencintainya menjadi tidak lazim, tidak ethis, dan bisa dianggap amoral. Janganlah anda menikahi siapapun juga yang memaksakan anda pindah agama karena anda hanya boleh pindah agama tanpa syarat bukan karena disandera oleh cinta anda atau anda disandera oleh cinta untuk mengorbankan harga diri anda dan keluarga anda. Demikianlah, kesadaran dan penghargaan masing2 pihak didunia maju telah melahirkan jutaan pasangan dimana agamanya saling berbeda tanpa perlu terjadi percekcokan. Bahkan pasangan2 yang berbeda agama didunia ini telah melahirkan manusia2 yang bermutu atau berkualitas tinggi baik dibidang pengetahuan eksak maupun sosial. Sebaliknya, lebih banyak pasangan2 yang saling menekan agar pindah agama malah akhirnya bercerai dan bercekcok yang mengakibatkan anak2nya tidak bisa berkembang yang akhirnya hanya menjadi beban masyarakat yang mengisi penjara2 diseluruh dunia. Hal inilah yang telah menjadi bahan penelitian didunia psikology dalam membina keluarga untuk tujuan mengembangkan kualitas manusianya dalam sebuah negara. Marilah kita merenungkan, pantaskah anda mencintai seseorang dengan syarat bahwa orang itu harus pindah agamanya hanya karena anda mencintainya atau karena orang itu yang mencintai diri anda ??? Jelas ya, permintaan itu atau persyaratan seperti itu bukan cuma tidak sopan, tapi juga tidak etis, tidak bermoral, dan hal seperti itu tidak bisa dinamakan cinta karena cinta membutuhkan pengorbanan bukan cuma pengorbanan fisik, materi, tetapi juga jiwa maupun agama anda. Pada prinsipnya, beragama itu bertujuan membahagiakan semua orang, bukan cuma dirinya sendiri karena tidak pernah ada kebahagiaan yang hanya bisa dinikmati dirinya sendiri karena kita bisa merasa berbahagia apabila bisa menikmatinya bersama mereka yang kita cintai. Beragama tidak butuh pengorbanan, sebaliknya bercinta justru membutuhkan pengorbanan. Tapi ajaran Islam dan umat yang diracuninya justru sebaliknya, beragama dengan cara2 mengorbankan orang lain bahkan mengorbankan cinta orang lain maupun cintanya sendiri. Saya sering baca cersil tentang pendeta2 Buddha dari Shaolin, disana diceritakan ada seorang pemuda ganteng sekali yang karena penderitaan atau nasib keluarganya menyebabkan dia memutuskan untuk tidak menikah dan masuk biara menjadi pendeta Shaolin dengan mengorbankan semua kehidupannya se-mata2 untuk pengabdian kepada agamanya. Namun sang pemuda ini memiliki kekasih dimana dia sangat mencintai wanita ini dan sebaliknya si wanita juga mencintai pemuda ini dan keduanya bersedia berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Demikianlah ceritanya sang pemuda sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih meninggalkan sang kekasih dan menjadi seorang bhiku untuk mengabdi sang Buddha. Sewaktu dia mendaftarkan ke kuil Shaolin ingin menjadi bhiku, maka ketua kuil harus meneliti dulu alasan2nya dan riwayat hidupnya dan juga mengenal siapa2 orang2 yang dicintainya dan juga yang mencintainya. Setelah sang ketua kuil menemukan bahwa sang pemuda mengorbankan cintanya maupun cinta kasih si pemudi yang sangat mencintainya, maka permintaan sang pemuda untuk menjadi bhikku buddha ditolak karena AGAMA BUDDHA BUKAN UNTUK MENGORBANKAN CINTA DIRI SENDIRI ATAUPUN MENGORBANKAN CINTA KASIH ORANG LAIN. AJARAN BUDDHA MENGAJARKAN UNTUK MEMBAHAGIAKAN SEMUA BUKAN MENGORBANKAN KEBAHAGIAAN SIAPAPUN JUGA. Saya yang bukan beragama Buddha sangat terkesan kepada ajaran sang Buddha ini dan saya menyetujui ajaran ini sangat baik untuk dijadikan teladan tanpa perlu saya harus beragama Buddha. Beragama atau percaya agama sebenarnya merusak dan membuat umatnya kehilangan untuk berpikir secara rasional, kehilangan rasa cinta, kehilangan rasa kemanusiaan, bahkan agama Islam telah membuat umatnya bertindak melanggar nilai2 kemanusiaan dengan memaksakan umatnya menyembah yang satu dan menista yang lainnya. Kenapa tidak ada ajaran agama yang menghargai atau menyembah semuanya ???? Hidup didunia modern sekarang menjadi tidak etis apabila harus menyembah siapapun juga karena dengan menyembah kita merendahkan diri dan meninggikan yang kita sembah yang kalo alasannya adalah agama, maka sikap tsb sangatlah tidak rasional. Saya tidak akan bersimpati atau menolong siapapun hanya karena mereka menyembah diri saya, bersikaplah yang wajar saling menghargai bukan saling menyembah atau disembah, apalagi dalam menyembah itu disyaratkan menghancurkan sembahan umat yang lainnya. Saling menghargai tidak dikenal dalam ajaran agama, yang ada hanyalah kewajiban menjunjung yang satu dan merendahkan yang lainnya. Islam contohnya, mewajibkan umatnya menyembah Allah dengan segala pengorbanan dan melarang menyembah yang lainnya dengan berbagai ancaman hukumannya. Akibatnya, cinta kasih sekalipun disalah gunakan untuk menjual kepercayaan agamanya kepada yang lainnya. Arman seorang sarjana ITB beragama Kristen dari suku Batak berkenalan dengan Geulis seorang gadis priangan beragama Islam yang bekerja di ASTRA Motor di Jakarta, keduanya jatuh cinta, dan keduanya dari keluarga yang fanatik agama yang saling berlawanan. Kedua pihak keluarga mempersyaratkan calon menantunya pindah agama. Karena Arman bekerja diperusahaan asing yang bergaji besar untuk ukuran rata2 orang Indonesia dan Geulis juga bergaji besar dari sebuah pabrik automotive terbesar di Indonesia, maka percintaan mereka berdua tidak banyak halangannya dalam saling membahagiakan kedua pihak keluarga yang sama2 fanatis agama. Arman melamar Geulis kepada orang tuanya di Bandung, dan Arman masuk Islam sehingga mereka bisa menikah resmi di Bandung bersama keluarga Geulis. Kemudian Arman dan Geulis balik ke Jakarta dan mereka menikah lagi di Gereja Batak HKBP disaksikan kedua orang tua Arman besarta keluarganya dan saya menjadi wali Geulis dalam upacara pernikahannya. Sebelumnya Geulis sudah dibaptis digereja Batak menjadi anggauta Gereja HKBP. Pesta pernikahan dikedua tempat baik di Bandung maupun di Jakarta berlangsung meriah, kalo pesta di Bandung dihadiri oleh pembesar2 Bandung yang dekat dengan keluarga Geulis, maka pesta di Jakarta dihadiri oleh professional2 asing dari perusahaan si Arman maupun teman2 dari orang si Arman. Kedua keluarga meskipun masing2 berbeda agamanya, tetapi mereka merasa dihargai karena masing2 menganggap menantunya telah pindah ke agama mereka. Apa yang saya ceritakan ini memang kejadian sungguhan yang saya kira banyak dilakukan para pemuda pemudi dari keluarga yang cukup berada maupun berpendidikan tinggi. Pada prinsipnya mereka berdua tidak ingin menyakiti pihak manapun juga sehubungan kepercayaan agama mereka, mereka memberi kebanggaan kepada masing2 orang tua pihak lainnya. Tetapi inipun menjadi dilemma, keduanya merasa bersalah karena membohongi orang tuanya masing2 meskipun bukan bermaksud menyakitinya melainkan bertujuan untuk menghargainya. Demikianlah kejadian diatas menjadi dilema karena disatu pihak kita ingin menghargai orang tua kita namun dilain pihak karena diracuni kepercayaan agamanya maka orang tua kita tidak bisa menghargai kita. Kita menghargai kepercayaan agama orang tua kita, sebaliknya orang tua kita tidak bisa menghargai cinta kasih anaknya kepada yang lain dengan mengikatkan kebahagiaan anaknya dengan kepentingan kepercayaan agamanya yang diyakini akan membawanya kesorga. Demikianlah, Arman dan Geulis dilanda perasaan yang sama yaitu merasa takut kalo nantinya kedua belah pihak menyadari apa yang terjadi sebenarnya. Orang tua yang bijaksana tentu tidak akan marah, mungkin malah tertawa ter-bahak2 apalagi anak dan menantunya merupakan orang2 yang sukses dalam urusan mencari nafkah maupun dalam urusan pendidikan. Situasi di Indonesia memang bisa menjadi bumerang, orang tua yang menerima kenyataan ini bisa jadi korban dari masyarakat sekelilingnya. Akhirnya Arman dan Geulis berhasil diterima lamarannya untuk tinggal dan bekerja di Australia, mereka berdua pindah 25 tahun yang lalu, dan sekarang sudah menjadi warganegara Australia yang setiap lebaran atau hari natal keduanya berkunjung ke Indonesia sambil membawa berbagai oleh2 yang menjadi kebutuhan kedua pihak orang tuanya masing2. Dan kedua orang tua masing2 tidak banyak tanya mengenai urusan masing2 dalam beragama karena kedatangan mereka membuat semua pihak menjadi sibuk mengagumi oleh2 yang dibawanya. Renungkanlah kita masing2, masihkan agama menjadi belenggu penyiksaan kita semua baik yang percaya maupun yang tidak percaya ??? Kita sendiri akan tersiksa perasaannya kalo agama kepercayaan kita tidak dipercaya orang lainnya, haruskah kita memaksakan kepercayaan kita kepada orang lain agar kita bisa berbahagia ??? Seharusnya kita menyadari, saya sebagai umat Islam merasa tidak berbahagia dengan pembakaran mesjid2 Ahmadiah dan dijarahi harta benda umat Ahmadiah meskipun saya bukan penganut aliran Ahmadiah. Saya merasa sangat sakit hati saya akibat terjadinya pemerkosaan amoy2 oleh umat yang diracuni agama Islam. Saya menangis melihat korban2 teror jihad Islam dalam memaksakan agama Islam kepada yang bukan Islam dengan mengorbankan juga sesama umat Islam lainnya. Apakah ajaran Islam yang melarang umatnya menyembah atau menghargai Tuhan yang lain bisa dianggap sebagai bermoral ??? Padahal kita menyadari bahwa agama adalah pilihan pribadi yang tidak boleh dipaksakan. Jadi tidak pada tempatnya kalo Kapten Sitorus yang beragama Kristen ditolak jadi kepala polisi di Cirebon hanya karena dia beragama Kristen. Kalo saja nurani anda bisa berkata jujur, "inilah ajaran agama yang biadab yang tidak seharusnya menjerumuskan umatnya". Ny. Muslim binti Muskitawati.
