Seorang teman saya mahasiswa semasih sekolah di Ozzy,
yang bekerja sehari-harinya di negeri asal (home
country) sebagai pegawai imigrasi negeri Cina pernah
nanya begini: "Worship to whom?" Lalu dijawabnya
sendiri: My girl-friend!





--- budiman hakim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Cinta itu pengorbanan? Hmm saya rasa bukan! 
>    
>   Misalnya, seorang perempuan kelibet utang yang
> luarbiasa besar. Pacarnya berusaha menolong. Dia
> menguras semua tabungannya, menjual mobil dan
> rumahnya untuk membantu melunasi hutang itu. Apakah
> itu pengorbanan? Belum tentu! Bagi si cowok,
> pacarnya adalah center of his universe, sehingga
> hal-hal lain tidak ada artinya di matanya. Uang dan
> harta menjadi semu, pokoknya dia hanya fokus
> bagaimana membahagiakan orang yang dicintainya.
> Cowok itu melakukan hal tersebut dengan rela, ga ada
> keterpaksaan bahkan dengan senang hati. 
>    
>   Lalu di mana pengorbanannya? Tidak ada! Itulah
> hakikat sebuah cinta. Bagi si cowo dia tidak merasa
> berkorban sama sekali. Karena itulah, saya
> berpendapat cinta tidak ada hubungannya dengan
> pengorbanan. 
>    
>   BH
> 
> Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Jiwaku-pun Rela Ku Korbankan Demi
> Cinta--Apalagi Cuma Agama !!!
> 
> Cinta kasih antara pria wanita atau orang tua dan
> anaknya, atau antara
> seorang dengan sahabatnya, telah menghasilkan banyak
> sekali cerita2
> berupa epic kepahlawanan, legend percintaan, maupun
> autobiografi2 yang
> sangat mengharukan.
> 
> Bisa jadi "cinta" itu tak bisa dilihat bentuknya dan
> dianggap hanyalah
> khayalan dari permainan perasaan seseorang seperti
> halnya agama
> ataupun kepercayaan, namun akan merupakan dorongan
> bagi seseorang
> untuk melakukan perbuatan2 akibat dorongan cinta
> tsb. Perbuatan yang
> bisa kita lihat akibat dorongan2 agama adalah teror
> jihad Islam yang
> biadab dan keji, demikian halnya dengan cinta yang
> juga bisa mendorong
> seseorang berbuat jahat atau malah berbuat kebaikan2
> bahkan bisa jadi
> mengorbankan jiwa untuk cintanya sementara teror
> jihad mengorbankan
> jiwa untuk kepercayaannya.
> 
> Demikianlah, ada kalanya "cinta" bisa menjadi racun
> seperti halnya
> agama yang meracuni seseorang. Kita akan mengutuk
> akibat cinta maupun
> akibat agama yang menyebabkan orang lain yang tidak
> bersalah dijadikan
> korbannya. Oleh karena itu, janganlah menjadikan
> "cinta" atau juga
> "agama" ini mengakibatkan jatuhnya korban. Perasaan
> Cinta maupun
> angan2 Agama haruslah digunakan untuk hanya
> membahagiakan,
> menghilangkan penderitaan, menghilangkan ketakutan,
> dan menyelamatkan
> kehidupan bukan malah sebaliknya !!!!
> 
> Secara filosofis, cinta kasih seorang pria terhadap
> wanita selalu
> dibuktikan melalui pengorbanan, baik pengorbanan
> fisik dalam bentuk
> melindungi keamanan si wanita maupun melindungi
> secara financial
> dengan mengorbankan seberapa besar hartapun yang
> dimilikinya, bahkan
> tidak jarang sang pria malah mengorbankan jiwanya
> demi cinta kasihnya
> kepada seorang wanita. Beginilah biasanya realisasi
> cinta yang ideal
> pada umumnya disampaikan oleh nenek moyang kita dari
> generasi ke generasi.
> 
> Tapi dalam agama Islam, kita sering mendengar dimana
> seorang laki2
> Islam yang mencintai gadis yang bukan Islam
> mempersyaratkan wanita
> yang dicintainya itu mengorbankan kepercayaan atau
> agama orang tuanya
> agar di laki2 itu bisa menikahinya !!! Alasannya
> katanya itulah ajaran
> Islam yang menjadi kewajiban umatnya. Jelas ini
> adalah ajaran sesat,
> wong yang jatuh cinta itu pihak laki2, koq malah si
> wanita yang
> disuruh berkorban ??? Tidak beda kalo hal sebaliknya
> dimana si wanita
> itu seorang muslimah, dan laki2 yang dicintainya itu
> adalah seorang
> yang bukan muslim, maka si wanita itu
> mempersyaratkan si laki2 untuk
> masuk Islam kalo tidak maka tidak bisa menikah !!!
> 
> Secara tradisional, maka pihak laki2 dianggap pihak
> yang lebih kuat,
> pihak yang lebih dominan, dan pihak yang menjadi
> pelindung sementara
> pihak wanita menjadi pihak yang harus dilindungi.
> Oleh karena itu,
> apabila si wanita mempersyaratkan laki2 yang
> mencintainya untuk pindah
> agama menjadi Islam, maka si laki2 umumnya mau
> menurutinya demi
> melindungi perasaan si wanita terhadap keluarganya
> karena wanita tidak
> bisa lepas dari ketergantungan terhadap keluarganya
> dimana kalo sang
> suami menceraikan atau melakukan hal2 yang menyakiti
> si wanita, maka
> tempat pengaduan maupun tempat berlindung hanyalah
> keluarganya.
> 
> Tetapi kalo kita hidup dizaman modern sekarang ini
> dimana peranan
> wanita maupun laki2 adalah sejajar dalam menuntut
> hak2nya, maka
> tradisi memaksakan agama satu pihak kepada pihak
> lain yang dicintainya
> ataupun mencintainya menjadi tidak lazim, tidak
> ethis, dan bisa
> dianggap amoral. Janganlah anda menikahi siapapun
> juga yang
> memaksakan anda pindah agama karena anda hanya boleh
> pindah agama
> tanpa syarat bukan karena disandera oleh cinta anda
> atau anda
> disandera oleh cinta untuk mengorbankan harga diri
> anda dan keluarga
> anda. Demikianlah, kesadaran dan penghargaan masing2
> pihak didunia
> maju telah melahirkan jutaan pasangan dimana
> agamanya saling berbeda
> tanpa perlu terjadi percekcokan. Bahkan pasangan2
> yang berbeda agama
> didunia ini telah melahirkan manusia2 yang bermutu
> atau berkualitas
> tinggi baik dibidang pengetahuan eksak maupun
> sosial. Sebaliknya,
> lebih banyak pasangan2 yang saling menekan agar
> pindah agama malah
> akhirnya bercerai dan bercekcok yang mengakibatkan
> anak2nya tidak bisa
> berkembang yang akhirnya hanya menjadi beban
> masyarakat yang mengisi
> penjara2 diseluruh dunia. Hal inilah yang telah
> menjadi bahan
> penelitian didunia psikology dalam membina keluarga
> untuk tujuan
> mengembangkan kualitas manusianya dalam sebuah
> negara.
> 
> Marilah kita merenungkan, pantaskah anda mencintai
> seseorang dengan
> syarat bahwa orang itu harus pindah agamanya hanya
> karena anda
> mencintainya atau karena orang itu yang mencintai
> diri anda ??? Jelas
> ya, permintaan itu atau persyaratan seperti itu
> bukan cuma tidak
> sopan, tapi juga tidak etis, tidak bermoral, dan hal
> seperti itu tidak
> bisa dinamakan cinta karena cinta membutuhkan
> pengorbanan bukan cuma
> pengorbanan fisik, materi, tetapi juga jiwa maupun
> agama anda.
> 
> Pada prinsipnya, beragama itu bertujuan
> membahagiakan semua orang,
> bukan cuma dirinya sendiri karena tidak pernah ada
> kebahagiaan yang
> hanya bisa dinikmati dirinya sendiri karena kita
> bisa merasa
> berbahagia apabila bisa menikmatinya bersama mereka
> yang kita cintai.
> 
> Beragama tidak butuh pengorbanan, sebaliknya
> bercinta justru
> membutuhkan pengorbanan. Tapi ajaran Islam dan umat
> yang diracuninya
> justru sebaliknya, beragama dengan cara2
> mengorbankan orang lain
> bahkan mengorbankan cinta orang lain maupun cintanya
> sendiri.
> 
> Saya sering baca cersil tentang pendeta2 Buddha dari
> Shaolin, disana
> diceritakan ada seorang pemuda ganteng sekali yang
> karena penderitaan
> atau nasib keluarganya menyebabkan dia memutuskan
> untuk tidak menikah
> dan masuk biara menjadi pendeta Shaolin dengan
> mengorbankan 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Get your own web address.  
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

Kirim email ke