Huehehehe...
saya tidak di pihak siapa2 kok bung. Sekalipun seribu orang bilang Priyono 
bandit, bukan berarti trus saya ada di pihak musuhnya Priyono. Demikian juga 
sebaliknya bila si Priyono bilang seribu kali bhw Irawan cs lah yang tidak 
beres, bukan berarti trus saya jadi moncongnya Priyono seperti yg dibilang bang 
Bonar.
Kalo ada kata2 saya yg meminta supaya lebih bijak dalam menanggapi bukan serta 
merta saya jd moncongnya Priyono kan? dalam konflik apapun tentu kita perlu 
bijak, meskipun kita jd bagian sengketa itu, bukan bermaksud menggurui lho, 
hanya klarifikasi apa yang saya maksudkan dlm 'catatan penulis' itu.
So saya harap bung Irawan jangan underestimate dulu thd saya. Soal idealisme 
wartawan, saya jangan diragukan lagi, secara pribadi (jangan lihat media saya) 
saya dukung sepenuhnya. Hanya masalahnya saya baru kenal Anda dan Priyono satu 
hari, jd sangat dini bagi saya untuk benar2 paham 'medan' dan peta konfliknya.
Saya sendiri terus terang njelimet dg cerita kasus di Forum. Informasi2 yg 
rekan Irawan ceritakan plus Priyono ceritakan ke saya sangat panjang. Dalam 
berita yg saya ketik dan tidak dimuat itu, saya berusaha utk batasi pada fakta 
yg saya dapat saja, yaitu bahwa Irawan cs laporkan Priyono ke Polda soal 
fitnah. dan saya konfirmasikan apa yg dituduhkan sebagai fitnah itu kepada 
Priyono.
Wah, kalau mau melebar soal latar belakangnya bisa nggak cukup satu koran, 
apalagi semuanya hanya cerita yang disampaikan kepada saya. Soal 
ketidaksepakatan dalam membuat edisi khusus dan soal tuduhan Priyono yg 
mengatakan Anda mau buat Forum tandingan, belum lagi soal 'bencong' Makindo dan 
Gunawan Jusuf. Namun itu semua sebatas apa yang diceritakan kepada saya, dan 
saya tidak berani gegabah. Maaf, bukan saya tidak percaya lho, tapi tentu kita 
jurnalis dituntut untuk selalu skeptis bukan?
Saya tahu diri, saya bukanlah wartawan kelas kakap seperti bung Irawan, saya 
baru 9 bulan di MI. Jadi soal banyak cerita yang melatarbelakangi konflik ini 
tentu saya banyak tidak tahu selain hanya dari apa yg diceritakan dan ditulis 
di milis ini.
Jadi apa yang saya utarakan dalam 'Catatan Penulis' di akhir berita saya itu 
sama sekali tidak tendensius. Buktinya, dengan saya post berita itu di milis 
dan di sistem listing kami, itu tanda bahwa saya ingin agar banyak orang tahu 
tentang hal ini dan membuka mata, bahwa masih ada wartawan2 idealis yang 
berani. just FYI, setelah berita itu saya listing, beberapa teman di MI bilang 
ke saya "Lu gila Gus, berita begitu lu naikin juga"
Saya angkat topi dengan wartawan2 berani seperti Anda bung Irawan, yang berani 
melawan para kapitalis pers yang merusak dan mencoreng citra profesi jurnalis 
di Indonesia.
Jujur, di MI bobroknya mirip-mirip lah. Dan saya rasa banyak juga terjadi di 
media lainnya. Sepakat dg lae Bonar, bahwa hal semacam ini mungkin dan sangat 
mungkin juga terjadi di media kita. Perjuangan bung Irawan (terlepas dr apa 
percaya tidaknya kita tentang apa yg melatarbelakangi) tentu mjd hal yg positif 
bagi rekan2 wartawan lain yg merasa tertindas.
Bung Irawan dan rekan2, mudah2an kita bisa ketemu lagi dan cerita2 ok? bagi2 
lah pengalaman dan petuahnya untuk wartawan yang masih hijau seperti saya.. hehe

Bagus BT. Saragih
Media Indonesia

Kirim email ke