Waduh Bung Saragih, cerita anda ini membuat semangat di diri ini semakin
menggelora. Benar Bung. tentang latar belakang masalah ini memang agak beragam.
Tentu karena diceritakan oleh dua pihak yang berseberangan. Dan itu bukan suatu
hal yang luar biasa. Itu biasa. Untuk itulah, demi menguak siapa sesungguhnya
yang benar, diperlukan lembaga lain yang lebih resmi. Lembaga itu adalah
peradilan. Makanya kasus ini mesti dibawa ke pengadilan. Tujuannya biar seluruh
publik, yang membutuhkan, mengetahui bagaimana sepak terjang Priyono dalam
memandaatkan FORUM untuk kepentingannya sendiri.
memang, saya dan beberapa rekan lainnya tahu persis resiko yang dihadapi.
Kita jadi kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Tapi, kita juga sadar pekerjaan
dan pendapatan tidak hanya bisa didapatkan di FORUM. ada pepatah, kalau emas
diletakkan di selokanpun akan tetap emas. bukan berarti saya ingin angkuh
lhoo.....
Dan saya juga bukan wartawan yang hebat-hebat benar. Mungkin usia kita juga
tidak terlampau berbeda. Sebagai wartawan, saya juga belum kawakan. Tapi,
selagi masih muda, ada baiknya kita selalu berprinsip untuk selalu memegang
teguh idealisme. Bila dirasakan kita menghadapi sesuatu yang tidak benar, masak
sih dibiarkan. begitulah kira-kira.
Lain hal, saya juga mahfum dan salut dengan Bung karena sudah berniat untuk
menaikkan berita itu di MI. Sewaktu di Polda, saya sempat katakan bahwa Priyono
itu temennya Saur. Artinya sesama Pemred mereka berteman. Dan pertemanan itu
saling menjaga masing-masing. Jadi, ya pastilah kita-kita ini kalah dengan
mereka. Karena dari sisi usia mereka lebih dulu menjalin pertemanan dan
keamanan masing-masing. jadi sangat wajar bila berita ini tidak banyak diekspos
berbagai media. Karena, seperti yang Bung bilang, ada hubungan di tingkat atas.
nah, dengan kondisi itu, bagaimana lagi agar bisa mengangkat kasus ini?
Disinilah diperlukan lembaga peradilan.
Satu hal lagi, Bung adalah wartawan yang sudah berkomunikasi dengan saya dan
Priyono. Bung berarti mendapatkan dua informasi yang berbeda tentang satu
masalah yang sama. Dan, saya yakin hati kecil Bung langsung bisa mengatakan
siapa sebenarnya yang tengah berjuang.
Jujur saja, saya berani katakan, Priyono ini bukanlah sosok pemimpin redaksi
yang bisa bertanggungjawab. Walaupun dia mengaku sebagai alumni TEMPO, tapi
sama sekali tak membekas idealisme dalam dirinya. Biar tahu saja, nyawa saya
hampir terenggut karena ulah dia. Saya bisa contohkan tentang kisah saya
sewaktu menjadi koresponden FORUM di Medan, tahun 2005 lalu.
Kala itu, saya dititahkan untuk meliput Olo Panggabean. tapi bukan dari sudut
pandang Olo sebagai sosok dermawan dan yang rajin menyumbang. Melainkan sosok
Olo yang 'sebenarnya'. Karena perintah pemred, sebagai wartawan di daerah,
tentu saya senang bukan kepalang. Saya pun liputan seperti yang diperintahkan.
Data dan bahan saya dapatkan dari beragam nara sumber 'keras'. Tentang Olo
sendiri, tak banyak media yang "berani" menuliskannya secara fulgar. Padahal
tukang becak di Medan pun tahu siapa dia sebenarnya. Jadi, liputan ini sedari
awal saya sadari penuh resiko. Nyawa pun bisa melayang bila tak hati-hati. Dan,
sewaktu Priyono memberi perintah, saya langsung balik bertanya : "Bagaimana
jaminan keselamatan saya?" Dia jawab, "Kalau ada apa-apa kamu ke Jakarta
saja.". Mendengar itu, saya pun jadi lega dan tenang.
Alhasil, liputan saya jalankan. Konfirmasi kedua belah pihak dilakukan. Hanya
wawancara Olo tidak bisa didapat. Karena tidak ada satu wartawanpun yang bisa
mewawancarai dia sebelumnya. Dalam tulisan, saya menceritakan kisah sukses Olo
membentuk IPK dan sejarahnya. Lengkap dengan segala kiprah organisasinya itu.
Begitu terbit di FORUM, rasa tak tenang mulai menghampiri. Beberapa wartawan
di Medan langsung memerintahkan saya untuk segera "menghilang" dari Medan.
Anehnya, yang memberi info itu adalah wartawan Mediator (alm), koran milik Olo
sendiri. sebabnya karena pihak Olo merasa belingsatan dengan tulisan itu. Hal
ini sudah diduga sebelumnya.
Lalu saya ceritakan masalah ini ke Priyono. Saya sms dan telpon dia. Tahu apa
jawabnya, "Kamu datang saja ke Poltabes Medan, disitu ada temen saya
namanya......". Begitu mendengar itu, saya langsung bingung. Hah, datang ke
Poltabes Medan? Nama yang disodorkan dia juga pangkatnya tidak tinggi-tinggi
amat. Dan dia tidak tahu tentang sosok yang satu ini. Seorang Kapolda pun,
kabarnya, bisa dipindahkan. Apalagi kalau cuma tingkat Poltabes?? Cukup rendah
sekali pengetahuan dia bagi wartawan setingkat Pemred.
Lalu saya menagih janji dia agar saya bisa ke Jakarta. Dia tak memberi
jawaban jelas. Lalu saya minta agar honor-honor tulisan saya dibayarkan, yang
sudah berbulan-bulan tidak dibayar, segera dikirimkan sekedar buat ongkos
kejakarta. Itu juga tidak dikirimkannya. Bayangkan bagaimana sedihnya.
Menghadapi orang sekaliber begitu dengan seorang diri. Sang pemred yang
diandalkan, ternyata tak punya kemampuan apa-apa.
Alhasil masalah itu saya selesaikan lewat jalur lain. Tidak mengandalkan
Priyono ataupun pihak Forum. Priyono seolah lepas tangan saja ketika
wartawannya tengah terancam nyawanya. jadi, bisa dibayangkan, ketidakmampuan
pemimpin diredaksi menjaga jalur aman buat wartawannya, sama saja dengan
mengantarkan nyawa. Tapi begitulah kejadian di Forum. Sangat berbeda dengan di
era Karni Ilyas. Priyono itu cuma memanfaatkan nama besar Forum saja.
Ironisnya, kini Forum malah dijadikan ajang mencari uang demi kepentingan
pribadinya.
Begitu Bung Saragih. jadi, ketidakrelaan saya Forum dipimpin Priyono itu
didasari banyak faktor. Dan bukan hanya saya pribadi, beberapa alumni Forum
yang ada di media lain juga senada dengan saya. Mereka tak sudi bila si Bandot
itu memanfaatkan Forum demi mencari keuntungannya sendiri saja.
"Bagus BT. Saragih" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Huehehehe...
saya tidak di pihak siapa2 kok bung. Sekalipun seribu orang bilang Priyono
bandit, bukan berarti trus saya ada di pihak musuhnya Priyono. Demikian juga
sebaliknya bila si Priyono bilang seribu kali bhw Irawan cs lah yang tidak
beres, bukan berarti trus saya jadi moncongnya Priyono seperti yg dibilang bang
Bonar.
Kalo ada kata2 saya yg meminta supaya lebih bijak dalam menanggapi bukan
serta merta saya jd moncongnya Priyono kan? dalam konflik apapun tentu kita
perlu bijak, meskipun kita jd bagian sengketa itu, bukan bermaksud menggurui
lho, hanya klarifikasi apa yang saya maksudkan dlm 'catatan penulis' itu.
So saya harap bung Irawan jangan underestimate dulu thd saya. Soal idealisme
wartawan, saya jangan diragukan lagi, secara pribadi (jangan lihat media saya)
saya dukung sepenuhnya. Hanya masalahnya saya baru kenal Anda dan Priyono satu
hari, jd sangat dini bagi saya untuk benar2 paham 'medan' dan peta konfliknya.
Saya sendiri terus terang njelimet dg cerita kasus di Forum. Informasi2 yg
rekan Irawan ceritakan plus Priyono ceritakan ke saya sangat panjang. Dalam
berita yg saya ketik dan tidak dimuat itu, saya berusaha utk batasi pada fakta
yg saya dapat saja, yaitu bahwa Irawan cs laporkan Priyono ke Polda soal
fitnah. dan saya konfirmasikan apa yg dituduhkan sebagai fitnah itu kepada
Priyono.
Wah, kalau mau melebar soal latar belakangnya bisa nggak cukup satu koran,
apalagi semuanya hanya cerita yang disampaikan kepada saya. Soal
ketidaksepakatan dalam membuat edisi khusus dan soal tuduhan Priyono yg
mengatakan Anda mau buat Forum tandingan, belum lagi soal 'bencong' Makindo dan
Gunawan Jusuf. Namun itu semua sebatas apa yang diceritakan kepada saya, dan
saya tidak berani gegabah. Maaf, bukan saya tidak percaya lho, tapi tentu kita
jurnalis dituntut untuk selalu skeptis bukan?
Saya tahu diri, saya bukanlah wartawan kelas kakap seperti bung Irawan, saya
baru 9 bulan di MI. Jadi soal banyak cerita yang melatarbelakangi konflik ini
tentu saya banyak tidak tahu selain hanya dari apa yg diceritakan dan ditulis
di milis ini.
Jadi apa yang saya utarakan dalam 'Catatan Penulis' di akhir berita saya itu
sama sekali tidak tendensius. Buktinya, dengan saya post berita itu di milis
dan di sistem listing kami, itu tanda bahwa saya ingin agar banyak orang tahu
tentang hal ini dan membuka mata, bahwa masih ada wartawan2 idealis yang
berani. just FYI, setelah berita itu saya listing, beberapa teman di MI bilang
ke saya "Lu gila Gus, berita begitu lu naikin juga"
Saya angkat topi dengan wartawan2 berani seperti Anda bung Irawan, yang
berani melawan para kapitalis pers yang merusak dan mencoreng citra profesi
jurnalis di Indonesia.
Jujur, di MI bobroknya mirip-mirip lah. Dan saya rasa banyak juga terjadi di
media lainnya. Sepakat dg lae Bonar, bahwa hal semacam ini mungkin dan sangat
mungkin juga terjadi di media kita. Perjuangan bung Irawan (terlepas dr apa
percaya tidaknya kita tentang apa yg melatarbelakangi) tentu mjd hal yg positif
bagi rekan2 wartawan lain yg merasa tertindas.
Bung Irawan dan rekan2, mudah2an kita bisa ketemu lagi dan cerita2 ok? bagi2
lah pengalaman dan petuahnya untuk wartawan yang masih hijau seperti saya.. hehe
Bagus BT. Saragih
Media Indonesia