Markus Wolf - "The master spy",  jangan lupa dibaca.

  ----- Original Message ----- 
  From: Pandu Ganesa 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Sunday, June 17, 2007 4:40 AM
  Subject: [mediacare] buat yang senang intel-intelan


  Kiprah Spion Melayu: dari BRANI hingga BIN

  RUDY ADHARY

  Banyak sudah buku tentang kiprah badan intelijen top dunia, seperti CIA, 
  KGB, Mossad, dan MI6. Namun sangat sedikit buku tentang kiprah badan 
  intelijen dari negara berkembang. Entah karena reputasinya dianggap "kurang 
  mumpuni" atau karena minimnya sumber-sumber, baik lisan maupun tertulis, 
  tentang kiprah lembaga-lembaga tersebut. Faktanya, tak banyak buku yang 
  ditulis khusus mengenai intelijen dari negara berkembang.

  Buku yang ditulis Ken Conboy, seorang konsultan keamanan dari Risk 
  Management Advisory, ini bisa menjawab keingintahuan pembaca mengenai badan 
  intelijen Indonesia. Di dalam buku ini, Ken memaparkan dua hal penting, 
  yakni sejarah badan intelijen Indonesia dan operasi-operasi intelijen yang 
  dilakukan selama ini.

  Dalam istilah Ken, dia mencoba membuat kronik secara mendalam dan obyektif 
  atas kisah lengkap tentang Badan Intelijen Negara (BIN) dan badan-badan 
  pendahulunya (hal x). Dia juga menegaskan bahwa buku ini adalah sejarah tak 
  resmi dan tidak berarti mencerminkan pendapat-pendapat dari dalam tubuh BIN 
  (hal xi).

  Ken memulai buku ini dengan paparan tentang sejarah berdirinya Badan Rahasia 
  Negara Indonesia (BRANI), yang didirikan Zulkifli Lubis pada 7 Mei 1946, dan 
  menjadi cikal bakal badan intelijen Indonesia. Usia BRANI tidak berumur 
  panjang karena Zulkifli Lubis sendiri terlibat rivalitas dengan 
  petinggi-petinggi militer.

  BRANI sempat berganti nama menjadi Biro Informasi Staf Angkatan Perang 
  (BISAP). Dua belas tahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1958, rezim Soekarno 
  membentuk organisasi intelijen baru bernama Badan Koordinasi Intelijen 
  (BKI). Nama BKI kemudian berganti menjadi Badan Pusat Intelijen (BPI) pada 
  10 November 1959.

  BPI, yang dipimpin Menteri Luar Negeri Dr Subandrio, bertindak sebagai badan 
  koordinasi yang bertugas menampung semua informasi intelijen sukarela, yang 
  didapat dari jaringan yang telah ada dari Angkatan Darat, Angkatan Udara, 
  Angkatan Laut, kepolisian, dan Kejaksaan Agung.

  Dalam kiprahnya, BPI melakukan beberapa operasi intelijen dengan sasaran 
  negara tetangga yang terlibat konfrontasi dengan Indonesia serta infiltrasi 
  ke Irian Barat (Papua), Kalimantan Utara, dan Timor Portugis/Timor Timur 
  (sekarang Timor Leste).

  Jadi, niat "mencaplok" Timor Timur sudah ada sejak zaman Orde Lama. Menurut 
  Ken, pada pertengahan 1963, Subandrio mengizinkan BPI memulai suatu proyek 
  rahasia untuk membawa seluruh Timor ke dalam kekuasaan Jakarta (hal 30). 
  Namun operasi intelijen di Timor Timur ini tidak berlangsung lama karena BPI 
  memutuskan membatalkan "proyek Timor" dan membuka pos BPI di Kamboja.

  Dalam sejarahnya, badan intelijen Indonesia mengalami pasang surut seiring 
  dengan perubahan rezim. Runtuhnya rezim Orde Lama berdampak pula pada BPI. 
  Perubahan rezim ke Orde Baru menamatkan riwayat BPI. Rezim baru mulai menata 
  badan intelijen dan melakukan sejumlah pembersihan. Pada 22 Agustus 1966, 
  Soeharto membentuk suatu badan intelijen strategis yang disebut Komando 
  Intelijen Negara (KIN).

  Meski sudah ada KIN, Soeharto tetap mempertahankan unit Operasi Khusus 
  (Opsus) yang dipimpin Ali Moertopo. Opsus sudah berkiprah sejak masa 
  konfrontasi dengan Malaysia pada dekade 60-an, dan Soeharto puas dengan 
  kinerjanya karena banyak penugasan yang berhasil. Kelak riwayat Opsus pudar 
  setelah Ali Moertopo tidak lagi menjadi Wakil Kepala Bakin dan diangkat 
  menjadi Menteri Penerangan pada 1978.

  Ada satu hal menarik dari kiprah Opsus. Ternyata intelijen Indonesia sudah 
  memanfaatkan flag carrier Garuda Indonesia untuk operasi intelijen sejak 
  dekade 60-an, atau empat dekade sebelum terbunuhnya aktivis HAM Munir dalam 
  penerbangan Garuda Jakarta-Amsterdam pada 2004, yang konon melibatkan 
  tangan-tangan intelijen.

  Ceritanya, ketika itu agen-agen Opsus menyamar sebagai eksekutif Garuda yang 
  bertugas di Bangkok dan Hongkong. Tujuan operasi ini adalah untuk menyerang 
  Malaysia dari arah tak terduga, walau kemudian setelah mencoba selama lebih 
  dari satu tahun operasi ini tidak menunjukkan hasil (hal 44).

  Nama KIN berganti menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) pada 22 
  Mei 1967. Badan tersebut dipimpin Mayor Jenderal Soedirgo, yang bertanggung 
  jawab langsung kepada Soeharto.

  Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto beberapa kali mengganti Kepala Bakin. 
  Soedirgo hanya berkuasa satu tahun. Pada 21 November 1968, dia dicopot 
  dengan tuduhan bersimpati kepada Soekarno. Pengganti Soedirgo adalah Mayor 
  Jenderal Sutopo Juwono. Pada era Sutopo, Bakin melakukan beberapa operasi 
  intelijen dengan sasaran kedutaan besar negara-negara komunis di Jakarta.

  Setelah peristiwa Malari pada Januari 1974, Soeharto kembali mengganti 
  Kepala Bakin. Kali ini yang ditunjuk adalah Mayor Jenderal Yoga Sugama. Pada 
  masa Yoga, operasi intelijen terhadap kedutaan besar negara-negara komunis 
  tetap berlangsung. Bahkan, pada 1982 Bakin berhasil membongkar jaringan 
  mata-mata Uni Soviet yang memperalat seorang perwira menengah TNI Angkatan 
  Laut.

  Yoga Sugama dan Bakin tak kuasa menghadapi berbagai perubahan. Naiknya Benny 
  Moerdani sebagai Panglima ABRI pada tahun 1983 sedikit banyak berpengaruh 
  pada pamor Bakin. Benny lebih banyak memberi perhatian pada intelijen 
  militer, Badan Intelijen Strategis (Bais).

  Sesudah lebih dari 15 tahun berkuasa, Yoga harus lengser pada 2 Juni 1989. 
  Dia digantikan oleh Mayor Jenderal Sudibyo. Kedekatan hubungan Sudibyo 
  dengan para petinggi di Bais dapat meredam persaingan di antara kedua badan 
  intelijen tersebut (hal 197). Estafet kepemimpinan terjadi lagi pada April 
  1996. Setelah memimpin selama tujuh tahun, Sudibyo menyerahkan tampuk 
  kepemimpinan Bakin kepada Letnan Jenderal Moetojib.

  Tumbangnya Soeharto membuat Moetojib tumbang pula. Presiden baru, BJ 
  Habibie, memercayakan Bakin dipimpin oleh ZA Maulani. Maulani juga tidak 
  bertahan lama karena setelah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) naik menjadi 
  presiden pada 1999, pria asal Kalimantan Selatan itu diganti Arie Kumaat. Di 
  masa Arie Kumaat inilah Bakin berganti nama menjadi Badan Intelijen Negara 
  (BIN).

  BIN harus menghadapi tugas-tugas berat dalam membongkar jaringan terorisme 
  di Indonesia, yang melakukan berbagai aksi peledakan. Perang melawan 
  terorisme ini terus diemban para pengganti Arie, yakni Hendro Priyono dan 
  Syamsir Siregar. Namun dalam buku ini hanya kiprah Hendro yang ditulis. 
  Mungkin karena Syamsir masih menjabat, banyak rahasia intelijen yang belum 
  bisa diungkap sehingga kiprah BIN selama dia pimpin tidak ditulis.

  Mereka yang suka kisah-kisah spionase/intelijen perlu membaca buku ini. 
  Operasi intelijen yang ditulis Ken Conboy bersumber dari sumber-sumber 
  tertulis dan wawancara lisan dengan para pelaku di lapangan. Jadi bukanlah 
  kisah spionase fiktif seperti dalam novel-novel detektif.

  Namun, pembaca yang ingin tahu lebih banyak kiprah intelijen memburu duo 
  teroris Malaysia, Dr Azahari dan Noordin M Top, tidak akan mendapatkannya 
  dalam buku ini. Mungkin karena tugas intel belum tuntas mengingat Noordin 
  belum tertangkap atau bisa jadi karena pertimbangan keamanan penulisnya 
  sendiri.

  Alasan terakhir ini cukup masuk akal karena Ken Conboy sendiri merahasiakan 
  nama tertentu dengan alasan keamanan pribadi. Contohnya, dia tidak ragu 
  menyebut nama/identitas orang Indonesia yang direkrut CIA sebagai agen atau 
  nama dua kedutaan besar negara Timur Tengah yang jadi sasaran operasi 
  intelijen di Indonesia, yakni Iran dan Libya.

  Iran jadi sasaran operasi intelijen karena kekhawatiran pemerintah terhadap 
  ekspor revolusi Islam Iran. Sedangkan Libya dibidik karena selama dekade 
  70-an negara tersebut banyak memberi pelatihan kepada pemuda-pemuda 
  Indonesia, khususnya yang berasal dari Aceh. Sesudah mendapatkan konfirmasi 
  bahwa pelatihan tersebut bersifat paramiliter, pemerintah memerintahkan 
  penutupan Kedutaan Libya di Jakarta pada tahun 1975 (hal 151).

  Namun, ada satu negara Timur Tengah lainnya yang juga dibidik Bakin, yang 
  dirahasiakan Ken Conboy. Dia menggambarkan negara tersebut sebagai rezim 
  paling radikal di Timur Tengah, dan demi keselamatan dirinya dia tidak 
  menyebut nama negara tersebut.

  Pada tahun 1987 Bakin menugaskan seorang pejabatnya untuk membuka pos baru 
  di kedutaan Indonesia di ibu kota negara tersebut. Kiprah agen tersebut 
  cukup memuaskan. Dia berhasil memperoleh beberapa dokumen rahasia. Salah 
  satunya adalah laporan panjang bertanggal Desember 1988 yang dibuat kedutaan 
  negara tersebut di Jakarta, yang menggarisbawahi persepsi umum bahwa 
  Indonesia secara diam-diam bekerja sama dengan Israel (hal 206).

  Walhasil, membaca buku ini akan membuka wawasan pembaca tentang dunia 
  intelijen Indonesia. Beberapa istilah yang berhubungan erat dengan 
  intelijen, seperti Opsus, Komando Jihad, Al Qaeda, dan Jemaah Islamiyah, 
  sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Namun, bagaimana kiprah Opsus 
  menyusup ke Komando Jihad-untuk kemudian menggulungnya-atau bagaimana kisah 
  perburuan terhadap operator Al Qaeda dan Jemaah Islamiyah, yang dilakukan 
  BIN dengan bantuan informasi dari intelijen asing, itu yang belum banyak 
  diketahui masyarakat. Inilah arti penting kehadiran buku ini dalam membuka 
  tabir intelijen Indonesia.

  Rudy Adhary Peresensi; Tinggal di Jakarta

  sumber: Kompas Minggu, 17 Juni 2007



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.472 / Virus Database: 269.9.0/851 - Release Date: 6/16/2007 
12:50 PM

Kirim email ke