http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=138749

      Jumat, 15 Juni 2007

      Ketika Sains Bertemu Agama
      Oleh: Samsul Hidayat


      Sulit untuk dibantah jika selama ini hubungan antara sains dan agama 
ternyata tidak 'baik-baik saja', tapi banyak ketegangan dan variasi didalamnya. 
Posisi diametral itu terjadi mula-mula karena ilmuwan dan agamawan mendekati 
pertanyaan perihal eksistensi dari titik berangkat yang sama sekali berbeda. 
Sains mendekatinya dari observasi dan eksperimen, sedangkan agama dibangun 
berdasarkan wahyu yang turun dari langit. Pertentangan itu kian keras ketika 
ilmuwan menganggap dirinya rasional dan memandang kaum agamawan sebagai wakil 
dari sikap dan pandangan yang sebaliknya. 

      Sampai saat ini, wacana tentang hubungan sains dan agama terus mencari 
bentuk interaksinya yang tepat. Banyak tawaran yang menarik disodorkan, 
termasuk kalangan yang terjebak dalam pandangan "gampangan" ala (Maurice) 
Buchaillisme - yang cenderung mencari pembenaran atas teori ilmiah; contohnya 
Teori Dentuman Besar, dengan menyebutkan bahwa itu ada dalam kitab suci 
(al-Quran). Dalam hal ini teks-teks agama dicocok-cocokkan agar sesuai dengan 
temuan baru dalam sains. 

      Agama dan sains dalam hal ini seolah tidak memiliki ketegangan satu sama 
lain, karena dianggap bisa saling mengisi dalam menjelaskan dan memahami 
realitas. Hal ini tampak naif dan salah kaprah jika dihubungkan dengan 
ketegangan yang tak kunjung henti antara agama dan sains bahkan sejak abad 
ke-17, dimana ilmuwan Galileo Galilei yang mendukung teori bumi mengitari 
matahari ditentang Paus Gereja Vatikan yang memahami kosmos berdasarkan 
penafsiran literal kitab suci. 

      Contoh lain seperti masih kuatnya teologi lama yang mengangkat wacana 
tentang "God of the gaps", dimana Tuhan ditemukan dalam "gap" atau kotak-kotak 
hitam dalam teori ilmiah. Paham ini menyatakan bahwa ketika penjelasan atau 
teori ilmiah telah berada pada ambang batas atau jalan buntu, maka Tuhan 
dihadirkan sebagai satu-satunya penjelasan. (lihat kasus Newton dan William 
Paley, dimana Tuhan sebagai desainer kompleksitas). Celakanya, jika gaps 
tersebut menyusut, dengan kata lain sains semakin mampu menjelaskan rahasia 
alam semesta, maka ruang bagi Tuhan pasti akan makin berkurang. Akhirnya agama 
seperti dikatakan Zainal Abidin Bagir (2002) bak membuat kuburannya sendiri. 

      Dengan demikian, ketegangan antara sains dan agama tidak cukup memadai 
jika hanya diselesaikan dengan menggunakan pendekatan teologi normatif semata. 
Diperlukan gagasan dan pendekatan baru dalam mempertemukan agama dan sains 
sebagai wilayah yang saling mengisi pengetahuan manusia tentang realitas. 

      Saat ini di kalangan ilmuwan dan agamawan mulai tumbuh sikap untuk 
mencari "jalan berdialog" antara dua dunia yang terasa terpisah itu. Sebut saja 
misalnya peletak dasar wacana sains dan agama yang juga doktor dalam bidang 
fisika dan teologi, Ian G. Barbour (2000) dalam bukunya "When Science Meets 
Religion: Enemies, Strangers or Partners" membagi empat tipologi hubungan agama 
dan sains; Pertama, pendekatan konflik yang memandang agama sebagai musuh abadi 
sains. Tokoh-tokoh pendekatan materialisme ilmiah ini seperti Richard Dawkins, 
Peter Atkins, dan Carl Sagan. Kedua, pendekatan independensi yang menganggap 
tidak tepatnya suatu penghakiman (judgement) baik terhadap agama maupun sains. 
Perbedaan ini bisa saja disebabkan karena perbedaan metodologi yang digunakan 
oleh masing-masing wilayah, disamping ada pertimbangan pragmatis yang berupaya 
memisahkan keduanya demi menghindari konflik yang tak berujung. 

      Pendekatan yang ketiga adalah dialog, yaitu pendekatan yang berupaya 
melihat adanya kesamaan dan perbedaan diantara sains dan agama. Bagi Barbour, 
pendekatan ini lebih konstruktif ketimbang pendekatan independensi karena 
bagaimanapun, sains dan agama merupakan sarana memahami realitas sebagai sumber 
pengetahuan manusia. Keempat, pendekatan integrasi, yaitu pendekatan yang 
menurut Barbour lebih menjanjikan dalam menyelesaikan sejumlah persoalan 
hubungan agama dan sains. Pendekatan ini merupakan tuntutan alamiah dari 
pendekatan dialog yang membutuhkan penjelasan lebih sistematis interaksi yang 
konstruktif dan integratif antara sains dan agama. 

      Dalam dunia Islam kontemporer, seorang ilmuwan keturunan Iran, Mehdi 
Golshani, memperkenalkan gagasan tentang Sains Sakral yang kemudian 
dikembangkannya menjadi "Sains Islam." Apa yang dimaksudkan sebagai sains 
islami adalah sains yang berkerangka world view Islam, dimana ciri-cirinya 
dapat dilihat pada bagaimana posisi eksistensi pencipta tetap terjaga, tidak 
membatasi alam semesta hanya pada ranah materi saja (materialis), atau ruang 
saja (parmenides), atau data indra saja (positivis), atau sebatas angka-angka 
saja (pythagorean). Di samping itu tujuan tetap dinisbatkan pada alam semesta, 
serta menerima tertib moral bagi alam semesta. 

      Di dalam bukunya Issues in Islam and Science (2004) Gholshani menyatakan 
bahwa sains tidak bebas nilai, netral dan objektif karena semua teori sains, 
khususnya teori-teori fundamental, melibatkan praanggapan-praanggapan 
metafisika yang berakar pada world view para saintis bersangkutan. Artinya 
sains tidak bisa dipisahkan dari seperangkat nilai yang mengitarinya. Walaupun 
sains merupakan fakta saintifik yang berakar pada realitas obyektif, dan 
memiliki metode universal yang khas, terdiri dari eksperimen, observasi dan 
kerja teoretis, namun kerja saintifik sangat sarat dengan praduga-praduga 
filosofis dan keagamaan. Sementara metafisika memainkan peran penting pada 
segenap tahapan aktivitas saintifik, meskipun bisa saja semua itu berlangsung 
tanpa disadari. Biasanya praduga-praduga metafisika terjadi pada saat aktifitas 
saintik dilakukan, terutama pada saat penalaran teoritis dan penafsiran data 
(selain pengumpulan dan penyusunan fakta). Pada titik ini, seorang ilmuwan 
teistik melihat pada fakta dan mengasimilasikannya dalam konteks teistik, 
sementara ilmuwan ateis juga akan menafsirkan fakta dengan mengikuti 
kecenderungan ateistiknya 

      Membicarakan hubugan antara sains dan agama kerapkali diartikan sebagai 
pihak sains menolak paham agama, atau pihak agama menolak pandangan sains. 
Padahal bisa jadi yang terjadi adalah perlawanan masing-masing fundamentalis 
baik dari kalangan sains maupun agama yang ngotot dengan jalan yang mereka 
tempuh. Kalangan agama merasa benar karena telah mengikuti dan didukung oleh 
ayat-ayat suci, sementara kalangan sains merasa didukung oleh teori ilmiah. 

      Yang jelas, tanpa mengabaikan persoalan internal yang dihadapi baik oleh 
sains maupun agama, keduanya masih memiliki tanggung jawab kolektif yang patut 
dicarikan penyelesaiannya secara bijak dan akurat. Persoalan yang dihadapi 
seperti bencana yang terjadi pada masa kini dan mendatang: kemiskinan penduduk, 
perubahan iklim, erosi dan kekeringan, penebangan hutan, limbah, bahaya nuklir 
dan senjata pemusnah, kriminalitas, degradasi moral, dan masalah-masalah 
lainnya menuntut jawaban dan solusi yang tepat dalam rangka mengejawantahkan 
peran sains dan agama sebagai pro kelestarian alam dan kemanusiaan. Bumi dan 
seisinya masih membutuhkan campur tangan sains dan agama guna memberikan rasa 
aman bagi semesta sehingga kesinambungan dan keselarasan dapat terjalin dan 
tertata, sampai semua akhirnya menyadari bahwa alam semesta dan seisinya adalah 
hadiah terindah dari Sang Pencipta. 



      Penulis adalah, Mahasiswa S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
     

     

Kirim email ke