--- In [email protected], ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Untuk pak/bu hadingrh, menyesal sekali saya tdk pernah mendengar perusahaan Maleo > salam > omie >Selasa, 23 Oktober 2001
Ibu Omie, berikut saya copykan sebuah artikel dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0110/23/iptek/proy35.htm. Maleo yang waktu itu punya prospek yang sangat bagus diganjal oleh Tommy Soeharto. Dan sesudahnya diganjal lagi oleh IMF yang tidak senang ada kemajuan di IPTN. Proyek Maleo: Tinggal Sejarah Jody Tassno PADA tahun 1993, Pemerintah Indonesia berkeinginan untuk memiliki Mobil Nasional, dalam artian suatu rancangan mobil yang dikembangkan dan diproduksi oleh rakyat Indonesia. Dengan jumlah penduduk sebanyak 200 juta jiwa, keinginan itu tidaklah berlebihan. Keinginan itu kemudian dirumuskan oleh suatu tim, dan selanjutnya diwadahi dalam Proyek Maleo.Pada awal perkembangan proyek, trend mobil Indonesia dibahas bersama badan dan masyarakat yang berkecimpung dalam bidang otomotif. Dari sana banyak masukan yang diterima dan kemudian diolah sebagai bahan rancangan mobil Maleo. Sebagai salah satu perusahaan yang memiliki sumber daya dalam bidang perancangan, saat itu, PT IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia/DI) ikut terlibat dalam perancangan mobil Maleo. Kerja sama pertama PADA tahun 1993, Indonesia memiliki kesepakatan kerja sama dengan Pemerintah Inggris, salah satu bagian kerja sama tersebut adalah pengembangan kendaraan (vehicle development project). Dari dana kerja sama itu direncanakan akan digunakan untuk pengembangan Mobil Indonesia. Pemerintah Inggris menunjuk Rover sebagai mitra-kerja untuk proyek tersebut, sedangkan dari Indonesia diwakili oleh BPIS untuk bersama-sama mengembangkan Mobil Indonesia. Karena waktu yang sangat singkat, maka Rover menawarkan untuk menggunakan salah satu platform mobilnya (Gambar 1) untuk digunakan sebagai dasar pengembangan membuat Mobil Indonesia. Dengan mengutak-atik platform tersebut, maka disepakati bentuk dasar Mobil Indonesia saat itu adalah seperti pada Gambar 2. Dari platform yang ada tersebut agak sulit untuk mendapatkan mobil seperti yang kita kehendaki, misalnya kita ingin memasukan styling trend yang mutakhir. Dari kerja sama antara BPIS dengan Rover tersebut, ternyata ada kendala yang tidak dapat disepakati, yang berakibat pada kerja sama antara Rover (Inggris) dan BPIS (Indonesia) tidak berkelanjutan. Kerja sama kedua Guna melanjutkan proyek tersebut BPIS mencari mitra-kerja baru yang dapat menerima kondisi proyek seperti apa adanya dan melanjutkannya. Akhirnya diputuskan untuk melanjutkan Proyek Maleo dengan kerja sama antara BPIS dengan sebuah rumah desain dari Australia, yaitu Millard Design Australia (MDA). Medio 1995 kerja sama dijajaki dan akhirnya pada bulan Desember 1995 disepakati kerja sama yang mencakup perancangan sampai dengan pembuatan prototipe, dan direncanakan selesai bulan September 1997. Kerja sama ini lebih baik dibandingkan kerja sama sebelumnya karena Indonesia memiliki kebebasan untuk memilih platform yang akan digunakan, sehingga segala kemungkinan dapat dimasukkan ke dalam rancangan. Dalam mengembangkan rancangan dan rekayasanya BPIS mempercayakan kepada PT DI untuk melakukannya bersama MDA. Guna mengimbangi kemampuan Australia dan mengejar waktu, maka PT DI telah mengerahkan 80 engineer-nya untuk mengerjakan Proyek Maleo. Penugasan ini dilakukan dengan jadwal yang ketat, artinya selain pencapaian Proyek Maleo, kegiatan-kegiatan utama di PT DI tidak boleh terganggu, (CN-235, N-250, dan N-2130). Dengan cara kerja seperti itu semua jadwal yang direncanakan dapat terpenuhi, dan dengan cara itu juga kita dapat membuktikan bahwa kapabilitas orang Indonesia mampu sejajar dengan rekan-rekannya dari Australia. Perancangan Maleo Bagi PT DI membuat rancangan produk bukan sesuatu yang baru, apalagi antara mobil dan pesawat terbang mempunyai karakteristik yang sama dalam penerapan teknologi. Oleh karena itu, suatu hal yang biasa jika engineer dari industri pesawat terbang dapat beralih ke industri otomotif, dan kemungkinan ini sudah mulai dikhawatirkan oleh industri-industri pesawat terbang dunia (Air Transport World, Agustus 1998). Dalam tahap-tahap rancangan, tidak banyak berbeda antara pesawat terbang dengan mobil, karena banyak kriteria yang sama dengan pesawat terbang, seperti tingkat ketelitian yang tinggi dan sangat ketat terhadap regulasi-regulasi yang harus dipenuhi. Kebiasaan ini memudahkan kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam menetapkan suatu rancangan. Dengan segala macam perbedaan dan berjalannya waktu, akhirnya didapatkan titik-titik temu yang dapat menghasilkan rancangan optimum. Nilai lebih yang dimiliki oleh Indonesia adalah dalam penggunaan perangkat-perangkat komputer dalam perancangan (CAD), kita lebih terampil, kekurangannya hanya karena kita belum pernah merancang mobil, jadi agak lambat pada awal-awalnya. Dengan berbagai merek kendaraan sekelas Maleo, dilakukan pengujian-pengujian untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan pada Maleo. Dari pengujian-pengujian statis dan dinamis tersebut diperoleh karakteristik rancangan Maleo. Secara lengkap kriteria tersebut tertuang pada suatu features list yang berisi tentang rincian rancangan (ada 258 butir). Dari kriteria-kriteria ini dikembangkan lagi styling-nya, sehingga diperoleh gambar rancangannya (rendering). Setelah kriteria-kriteria rancangan diperoleh maka langkah selanjutnya adalah melakukan reverse engineering, dengan cara ini maka proses perancangan dipersingkat tanpa mengurangi segi ketelitiannya. Hasil reverse engineering tersebut kemudian diolah dengan CAD untuk menjadi gambar awal rancangan. Berdasarkan gambar awal tersebut dibuat model tanah-liatnya untuk skala 1:1 (interior dan exterior) dan skala 30 persen untuk pengujian aerodinamika. Dari model-model tersebut styling diperhalus dan dicocokkan dengan kriteria-kriteria engineering-nya. Dengan optimisasi styling dan engineering, diperoleh hasil rancangan yang kemudian dibuat prototipenya. Bersamaan dengan itu dilakukan rincian-rincian rancangannya berupa gambar teknik dan dokumen teknik. Berlanjutkah Maleo? Pada awal dicanangkan Proyek Maleo, waktu itu pemerintah/BPIS menyatakan bahwa cita-cita yang diemban Maleo adalah menjadi pusat industri otomotif di ASEAN, tentu kita semua senang kalau kita mempunyai keinginan untuk menjadi industri otomotif yang unggul di kawasan ASEAN, tinggal kita mengukur kemampuannya. Kecuali dana dan niat yang sungguh-sungguh, kita memiliki sumber-sumbernya. Tetapi pada kondisi sekarang, kedua sumber itu rasanya sangat sulit untuk diperoleh. Dengan penduduk di atas 200 juta jiwa dan sumber daya yang ada rasanya terlalu sulit jika kita tidak memiliki optimisme. Jangankan kita, negara lain saja masih mempunyai optimisme terhadap kemampuan pasar di Indonesia, walaupun mereka masih khawatir kalau harus berinvestasi di Indonesia saat itu. Jika hal ini berlarut-larut, akan makin sulit mengembangkan kemampuan industri otomotif kita. Sudah bukan hal baru kalau kita membicarakan potensi pasar di belahan Pasifik, atau kalau kita persempit nilai optimisme tersebut pada kawasan ASEAN juga masih sangat potensial, dan jangan disia-siakan lobi kita di ASEAN. Dengan populasi penduduk ASEAN sejumlah 493 juta dan penjualan kendaraan pada tahun 1996 sebanyak 1,4 juta, tidak layak kalau kita masih tetap pesimis, belum lagi negara-negara yang baru bergabung dalam ASEAN (Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam) yang juga pasti berkeinginan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Oleh banyak kalangan mereka dianggap merupakan potensi pasar yang menjanjikan. Selain itu kita juga pernah mengenyam kenikmatan pasar dalam bidang otomotif, oleh karenanya harus ditata kembali pasar tersebut agar menjadi potensi yang menarik bagi para industrialis maupun investor. Maleo sebagai proyek telah berakhir dan berhasil membuat sepuluh prototipe (Gambar 3), tetapi karena kondisi pemerintah saat itu (akhir 1997), prototipe itu tidak berhasil ditampilkan kepada pemiliknya (rakyat Indonesia). Dengan terjadinya perubahan dalam sistem pemerintahan, status Maleo masih tetap belum jelas..., atau belum jelas siapa yang harus memperjelasnya? Dalam kondisi sekarang yang tampaknya semangat kemandirian sedang digalakkan kembali, mungkin Maleo bukan hanya sebagai proyek perancangan saja, tetapi dapat dilanjutkan seperti pada cita-cita awalnya, yaitu menjadi pendorong pertumbuhan industri otomotif di Indonesia, dan berjaya di kawasannya. * Jody Tassno, pengamat otomotif di Bandung.
