http://www.indomedia.com/poskup/2007/06/19/edisi19/opini.htm

Mengenang Abilio Jose Osorio Soares 
Telah pergi pahlawanku

Oleh Basilio Dias Araujo, MA *



PADA pukul 22.00 waktu Lisabon (atau pukul 05.00 WITA), Sabtu (16/6/2007), 
ketika saya sedang duduk untuk makan malam bersama seorang teman bernama Julio 
Bobo, mantan pemain Bank Suma di Timor Timur, secara tiba-tiba tangan kiri saya 
menyentuh gelas bir saya dan seketika itu seisi gelas bir saya tumpah. Saya 
tidak menghiraukan kejadian itu karena lumrah minuman dalam sebuah gelas tumpah 
karena tersentuh tangan. Namun pada pukul 03.30 waktu Lisabon (atau pukul 10.30 
WITA) subuh ketika baru habis menuangkan Whiskey Jack Daniel's ke dalam sebuah 
gelas plastik di dalam mobil diplomatik Indonesia bernomor 075.CD.408, secara 
tiba-tiba gelas yang sedang saya pegang dengan erat itu, terlepas dari tangan 
saya dan seisi gelasnya tumpah dari tangan saya. Ketika kejadian ini terjadi, 
saya langsung memandang Saudara Julio Bobo yang sedang duduk di sebelah kanan 
saya dan mengatakan bahwa sepertinya pertanda akan terjadi sesuatu pada saya.

Demikian kejadiannya, maka pada pukul 06.00 waktu Lisabon (13.00 WITA), Minggu 
(17/6/2007), ketika kami baru habis dari pesta dansa Mahasiswa Timor Leste di 
Universidade Nova Lisboa, saya menerima SMS bertubi-tubi dari teman, kerabat 
dan sanak saudara di Kupang dan di Jakarta, bahwa Bapak Abilio Soares telah 
berpulang kepada pangkuan Sang Pencipta pada pukul 11.30 WITA. Seketika itu 
menetes air mataku mengenang mendiang Abilio Jose Osorio Soares sang 
pahlawanbagi ribuan rakyat Timor Timur dan ribuan kerabat Tentara Nasional 
Republik Indonesia dan Polisi RI yang pernah diselamatkan beliau pada masa-masa 
sulit perjuangan Timor Timur antara tahun 1975 sampai dengan dekade 1980-an.

Segelintir orang mungkin memandang mediang Abilio Soares sebagai pengkhianat 
bangsa. Sebagai si kepala dua yang harus disiksa oleh Tentara Nasional 
Indonesia sendiri dengan cara menginjakkan jempol kakinya dengan satu kaki 
kursi yang diduki seseorang pada tahun 1980-an. Dan mungkin bangsa Indonesia 
memandangnya sebagai seorang pengkhianat bangsa yang melanggar Hak Asasi 
Manusia di Timor Timur sehingga dia harus dikorbankan dan dihukum untuk suatu 
perbuatan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pihak lain yang menangani 
keamanan di Timor Timur pada waktu itu. Namun bagi ribuan rakyat Timor Timur, 
baik yang sekarang berdiam di wilayah Indonesia, maupun berada di Timor Leste 
atau bahkan di luar negeri, Abilio adalah seorang pahlawan, seorang ayah dan 
seorang dewa penolong.

Antara tahun 1975 sampai dengan dekade 1980-an, Abilio Jose Osorio Soares 
banyak menyelamatkan orang-orang Fretilin yang turun dari hutan dan menampung 
semuanya di Dinas Pekerjaan Umum karena ketika itu mendiang menjabat sebagai 
kepala dinasnya. Mendiang banyak menyelamatkan nyawa ribuan orang Fretilin yang 
saling menuduh dan melaporkan teman seperjuangannya kepada TNI untuk "dibasmi" 
atau pada waktu itu dikenal dengan istilah "dimandikan". Mendiang banyak 
menyelamatkan orang-orang pro-integrasi yang dituduh TNI sebagai "bermuka dua" 
atau "berkepala dua" yang juga harus "dimandikan" hanya karena ada seorang 
anggota TNI yang ingin menjadi calon bupati atau calon Ketua DPRD pada suatu 
tempat di Timor Timur antara dekade 1980-1990-an.

Abilio Jose Osorio Soares adalah seorang bapak yang tidak pernah berpikir jahat 
apa pun pada rakyat yang pernah dipimpinnya sebagai gubernur. Pada tahun 1992, 
ketika situasi Timor Timur semakin mengarah ke situasi yang buruk dan 
terindikasi semakin menjauhkan diri dari Indonesia, maka dengan beraninya 
Abilio Jose Osorio Soares memasang kepala dan mengajak Uskup Belo untuk 
menghadap Presiden Soeharto untuk mengajukan suatu permintaan yang pada zaman 
itu dianggap "tabu" bagi Timor Timur yaitu suatu status otonomi khusus bagi 
Timor Timur. Namun permintaan ini serta-merta ditolak oleh Presiden Soeharto.

Pada dekade tahun 1990-an, ketika menyadari bahwa Timor Timur sulit menarik 
investor nasional dan asing untuk menanamkan modalnya di Timor Timur, maka 
Abilio Soares secara diam-diam dengan caranya sendiri berusaha membuka peluang 
kerja bagi para pemuda-pemudi dan lulusan di Timor Timur. Dengan cara ini, 
Abilio Soares membangun sebuah pabrik garam di Manatutu, sebuah pabrik aqua di 
Dili dan sebuah pabrik tekstil di Dili.

Ketika pada tahun 1998-1999 Timor Timur hampir masuk lagi pada suatu situasi 
politik yang semakin mengarah terulangnya suatu perang saudara, maka Abilio 
Soares tak pernah terhenti-hentinya mengupayakan suatu perdamaian bagi para 
kelompok yang bertikai (pro-kemerdekaan vs pro-integrasi). Kediaman resminya 
dijadikannya tempat rapat umum bagi semua pihak yang bertikai untuk 
mengusahakan suatu perdamaian apabila ada yang menang dan ada yang kalah dalam 
Jajak Pendapat 1999. Namun dari semua usaha itu, sang mendiang berkesimpulan 
bahwa kesepakatan tidak akan pernah bisa tercapai antara orang Timor Timur 
karena Perserikatan Bangsa-Babgsa (PBB) telah menghantar rakyat kepada suatu 
jajak pendapat dimana akan ada pihak yang "menang" dan "kalah.

Sebagai salah satu upaya untuk menghentikan kehendak PBB untuk memberikan jajak 
pendapat kepada Timor Timur pada tahun 1999, maka tak henti-hentinya Abilio 
Soares meminta perhatian kepada semua duta besar yang pernah mengunjunginya di 
ruang kerjanya untuk mempertimbangkan ulang jajak pendapat karena menurut 
mendiang, orang Timor Timur tidak punya budaya menerima kekalahan. Namun usulan 
ini tidak pernah dihiraukan PBB.

Abilio Jose Osorio Soares bukan tipe seorang pengkhianat bangsa. Dia bukan tipe 
seorang berkepala dua. Selama dua tahun mendampingi beliau sebagai penerjemah 
resminya antara tahun 1997-1999, saya tidak pernah mendengar mendiang 
mengeluhkan suatu perbuatan buruk Pemerintah Indonesia kepada siapa pun duta 
besar negara asing yang pernah menemuinya di Timor Timur. Satu-satunya 
permintaan yang selalu terulang-ulang beliau ucapkan ketika bertemu dengan para 
diplomat asing ialah "Bantulah kami rakyat Timor untuk menjauhkan diri dari 
suatu bentuk jajak pendapat atau referendum atau sejenisnya, karena pasti akan 
terjadi perang saudara". Namun, bagaikan kerbau yang telah tercocok hidungnya, 
atau bagaikan kambing congek yang tuli, tidak pernah ada negara asing satu pun 
yang mendengarkan seruan keprihatinan beliau. Maka, membaralah Timor Timurku, 
ludes lenyaplah semua jerih payah dan hasil keringat yang telah ditanam selama 
24 tahun Timor Timur berada di bawah Indonesia. PBB telah membagi rakyat Timor 
Timur dengan jelas dalam dua kelompok. PBB telah menyebabkan terjadinya 
pengungsian rakyat Timor Timur dan telah menciptakan 200.000 orang lebih Timor 
Timur yang sekarang ini terpaksa hidup merantau di tanah orang. Abilio Soares 
dipenjarakan dengan tuduhan telah melakukan pelanggaran HAM berat di Timor 
Timur karena membiarkan terjadinya aksi pembumihangusan Timor Timor. Namun 
suatu hal yang jelas, Abilio Jose Osorio Soares adalah seorang pahlawan bagi 
semua rakyat Timor Timur yang pernah dibantunya. Mendiang adalah pahlawan bagi 
ribuan rakyatnya yang terpaksa hidup terlantar di perantauan bersamanya karena 
ulah organisasi PBB yang seharusnya dibentuk untuk memberikan perdamaian dan 
menjamin tali persaudaraan, dan bukan organisasi yang bertugas mencari jalan 
keluar untuk mencabut manusia dari akarnya dan membuangnya sebagai perantau di 
tanah orang.

Gajah mati meninggalkan belalainya, namun kepergian Abilio Soares telah 
meninggalkan namanya yang akan selalu dikenang sebagai seorang pahlawan 
pro-integrasi yang telah membela integrasi dari ujung jempol yang diinjak 
dengan kaki kursi sampai pada ruang 2 x 3 di Cipinang. Selamat jalan sang 
pahlawanku. Perjuanganmu dan perjuangan kakakmu mendiang Fernando Osorio Soares 
akan tetap kami pertahankan walau harus seribu tahun lamanya. Semoga jerih 
payahmu diterima oleh Sang Khalik.

* Penulis, staf KBRI Lisabon, Portugal. Tulisan ini adalah pendapat penulis 
pribadi

dan tidak mewakili KBRI Lisabon

Kirim email ke