--- In [email protected], Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Roslina:
> Tidak benar kalau Agama tdk diatur dalam sistem pemerintahan. 
> Negara-negara Eropa adalah berlatarbelakang Katholik dan Protestan.
Pada 
> umumnya setiap penduduk asli telah terdaftar langsung di kantor lurah 
> apakah orang itu Katholik atau protestan. Akte kelahiran itu akan 
> tersimpan rapi shg pada saat seorang mulai berpenghasilan. Gaji 
> bruttonya akan langsung dipotong untuk membayar pajak Gereja. Uang itu 
> tersalur sesuai dengan tujuannya masing-masing.

Ada yang saya sepakati Bu Roslina. 

Memang pajak gereja masih ada di beberapa negara Eropa, jumlahnya pun
cukup lumayan. Tapi itu juga barangkali yang menyebabkan sekarang
semakin banyak orang yang tidak hanya meninggalkan Kristen/Katolik
secara ritual (gereja pada kosong di Eropa, we know it already), tapi
juga mereka keluar secara legal formal, sehingga mereka tidak perlu
lagi bayar pajak gereja. Pikiran mereka, ngapain juga bayar pajak
gereja, wong gerejanya aja nggak pernah dipakai, bahkan sampai defisit
imam/pendeta segala. Saat ini bahkan di Eropa sana, banyak mengimpor
tenaga pendeta/penyuluh dari negara lain.

Yang terjadi akhirnya pajak gereja tersebut disalurkan ke
negara-negara di luar Eropa, yang kata Times Europe, daerah
kebangkitan Kristus, karena memang tidak banyak yang bisa diharapkan
dari Eropa oleh Kristen sekarang ini. 

Barangkali sebagian ada yang masuk ke program Kristenisasi, termasuk
yang marak di berbagai tempat di Indonesia.
 
> Roslina:
> Di sini banyak yg tersirat yg tdk anda terangkan. Sistem pemotongan 
> pajak juga berbeda-beda. Mulai dari kelas menegah keatas, harus bayar 
> pajak jauh lebih tinggi. Tentu mayoritas High level itu adalah penduduk 
> asli. Anda sendiri berkata bahwa imigran cari kerjaan di sana karena 
> penduduk asli sdh enggan kerja di low level.

Itu tentu umum terjadi. Meskipun tidak sedikit pula imigran yang
sukses di negeri orang. Bahkan ada yang memiliki perusahaan yang
justru memberi lapangan kerja bagi tenaga lokal.
 
> Back to the begining:
> Inilah sistem masyarakat sekuler yg dilatarbelakangi kekristenan. Lalu 
> para migran yg sdh enak dibantu dan diselaraskan dgn penduduk asli, 
> diberi hak menjalankan ibadahnya bahkan fasilitas disediakan untuk itu, 
> tapi malah menuntut hukum agamanya yg diberlakukan menyamai hukum 
> pemerintah setempat. Ini namanya dikasih hati mau jantung.

Nah ini pernyataan perlu dikaji lagi. Karena bisa jadi yang dimaksud
Bu Roslina ini adalah orang Islam. Sebenarnya tidak pernah ada usaha
untuk meng-Islami-sasi hukum yang ada di Eropa sana. Yang ada adalah
permintaan untuk menghormati hak asasi manusia untuk bisa menjalankan
ibadah dengan tenang. Untuk sholat dan puasa, orang Eropa sudah pada
ngerti semua. Mereka, terutama yang agnostik, akan dengan senang hati
mempersilakan kita untuk beribadah, mau sholat, mau bermeditasi, dll.

Kalaupun ada yang ekstrem, itu umumnya bukan mainstream orang Islam
disana, seperti halnya JI juga bukan mainstream orang Islam di Indonesia.

Tapi kadang, ada permainan para politikus, misalnya masalah jilbab.
Persepsi orang Eropa, jilbab yang dikenakan perempuan itu karena
perempuan dipaksa menggunakannya oleh suami/bapak. Memang ada yang
demikian, tapi sebagian besar tentu karena keinginan sendiri. Justru
perempuan itu yang akan menolak, bahkan marah, kalau jilbabnya dilepas
dengan paksa.

Pernah ada teman saya yang perempuan ditanya oleh orang Eropa, "Di
negara ini kamu sudah bebas khan? Kenapa tidak kau lepas saja
jilbabmu?". Tentu teman saya akan menjelaskan dengan baik, bahwa
jilbab itu adalah kewajiban. Memang ada yang ngikut, dan akhirnya
lepas jilbab. But that's their choice.

Saat ini Eropa sudah mengalami kemajuan. Hari raya Islam sudah mau
diakomodasi menjadi hari libur nasional, atau setidaknya bagi umat
Islam. Berbeda dengan di Indonesia, yang mayoritas Islam, tapi umat
lain diberi hari libur tanpa kesulitan.

Kirim email ke