Salam,

Di tayangan berita kriminal teve-teve swasta tiap hari kita lihat 
penjahat yang terpincang-pincang karena ditembak kakinya. Kok nggak 
dipersoalkan? Karena mereka penjahat dan merugikan masyarakat? Apa 
bedanya dengan teroris yang mengancurkan bisnis pariwisisata dan 
membunuh pelintas, warga tak bersalah, yang kebetulan sedang di 
lokasi kejadian?

Menembak di depan anak-anak? Kita tak tahu bagaimana keadaan 
lapangannya. Menurut polisi, posisinya di tempat terbuka, dan satu 
lawan satu. Apakah Abu Bujana bersenjata atau tidak berjentata polisi 
yang menyergap itu tak tahu pasti. Tapi berurusan dengan teroris, 
yang militan dan terlatih di Afganistan, sudah pasti. Jadi soalnya 
memang antara siapa yang mendahului. 

Apes saja Abu Dujana sedang tak bersenjata. Dan beruntung, karena 
dengan begitu, sekarang dibela di mana-mana?!

Anak jadi trauma karena bapaknya ditembak di depan mata? Kok mikirin 
anak teroris. Pikirkan dong ratusan anak yang jadi korban dari bom 
yang diledakkan oleh gerombolan Abu Dujana...

Wassalam,


Dimas. 






--- In [email protected], "Serikat Tani Nasional" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> nggak pantas kalau nembaknya di depan anak-anak(nya) yang masih di
> bawah umur. itu bagian dari kekerasan psikologis terhadap anak.
> seperti halnya pemukulan (KDRT) suami terhadap istri tidak boleh di
> depan anak, karena itu akan mengganngu psikologisnya. negara ini
> semakin bobrok dengan melakukan kekerasan terhadap siapapun tidak
> pandang umur dan kekerasan dalam bentuk apapun terus dilakukan oleh
> negara.
> 
> On 6/20/07, Handy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Adalah pantas apabila Teroris sekelas Abu Dujana Ditembak.
> >
> > Tim Pengacara Muslim yang menuntut Den 88 tidak beralasan. 
Keterangan yang mengatakan bahwa Den 88 menembak Abu Dujana dihadapan 
anak2 nya adalah melanggar HAM terutama perlindungan anak.
> >
> > Yang seharusnya dituntut ke Komisi Perlindungan Anak adalah Abu 
Dujana sendiri.
> >
> > Dengan otak serangkaian pengeboman seperti di Bali dan  Hotel JW 
Marriot. Berapa banyak anak-anak2 yang kehilangan ayahnya yang 
menjadi korban pengeboman biadab ???
> >
> > Berapa banyak anak2 yang meringis melihat ayahnya kehilangan 
kakinya yang dia ketahui pergi untuk bekerja namun, ketika pulang 
dengan tubuh yang cacat ??
> >
> >
> > Ayolah Tim Pengacara Muslim, kalian juga semua berfikir jangan 
cuma ngomong tapi otak gak ada.
> >
> >
> > Salam, Handy
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: rahmad budi <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [email protected]
> > Sent: Tuesday, June 19, 2007 8:50:48 PM
> > Subject: Re: [mediacare] Abu Dujana - 'Bapak Disuruh Jongkok, 
Terus Ditembak'
> >
> > Itu praktik yang biasa
> >
> > Di tayangan program kriminal televisi Anda pasi sering melihat 
penjahat berhasil ditembak polisi
> > setelah mencoba usaha melarikan diri.
> > Bagaimana cerita sebenarnya?
> > Sungguh polisi-polisi kita adalah para penembak jitu bagaikan 
Hunter di serial televisi tahun 80-an.
> >
> > Banyak penjahat yang ditangkap, lalu dibawa untuk menunjukkan di 
mana rumah teman-temannya,
> > lalu di tengah jalan para penjahat itu entah bagaimana bisa kabur.
> > Lalu tiba-tiba muncul di televisi berjalan pincang karena pahanya 
tertembus mimis.
> > Polisi bilang, penjahat ini mencoba melarikan diri.
> >
> > Kepada pers, polisi mengatakan mereka telah memberi dua kali 
tembakan peringatan.
> > tembakan ketiga baru ditujukan ke kaki penjahat yang sedang 
belari!
> >
> > Bayangkan betapa hebatnya bisa menembak kaki yang sedang bergerak 
cepat itu.
> >
> > Atau mungkin urutannya berubah?
> > Penjahat disuruh telungkup.
> > Lalu tembakan pertama ke kaki
> > tembakan kedua dan ketiga baru ke udara.
> >
> > Atau jangan-jangan ada tarifnya juga
> > Mau bayar berapa?
> > Dua juta untuk peluru di betis
> > Satu juta untuk peluru di paha
> > Kalo cuma Rp 500 ribu peluru di lutut
> > Makin mahal sakitnya makin berkurang
> >
> > Yang pernah liputan metropolitan pasti tahu cerita-cerita seperti 
itu.
> > Kata polisi, yah, residivis kagak kapok-kapok.
> > Biar kapok perlu ditembak.
> > Kalo sudah bosan, matiin saja.
> > Tokh mereka beban masyarakat.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > On 6/19/07, edi santoso <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
> > Kutipan dari Republika, kita bisa membayangkan trauma istri dan 
anak dari Abu Dujana.
> >
> > salam jujur
> > santo
> >
> >
> >
> > 19 Juni 2007
> > 'Bapak Disuruh Jongkok, Terus Ditembak'
> > dri
> >
> > JAKARTA -- Perjalanan bersama ayah dan dua adiknya, Sabtu (9/6) 
siang itu, tampaknya menjadi pengalaman paling traumatis dalam hidup 
Sidiq Abdullah Yusuf (8 tahun). Sidiq melihat sang ayah --Yusron 
Mahmudi alias Abu Dujana yang ditetapkan Polri sebagai tersangka 
teroris-- ditembak dari jarak dekat oleh anggota Detasemen Khusus 88 
(Antiteror) Mabes Polri.
> > ''Bapak disuruh turun dari motor, disuruh jongkok, terus ditembak 
dari belakang,'' ujar Sidiq pelan, ketika datang ke Mabes Polri 
bersama ibunya, Sri Mardiyati (35 tahun), dan rombongan keluarga, 
Senin (18/6).
> > Sidiq berkisah, siang itu Yusron bersama dia serta dua adiknya, 
Salman Faris Abdul Rahman (6 tahun) dan Hilma Sofia (2,5 tahun), 
pergi untuk menonton pemilihan kepala desa di lapangan Desa 
Kebarongan, Kec Kemrajen, Kab Banyumas, Jateng. Sekitar 100 meter 
dari rumah, di suatu perempatan, kata Sidiq, sepeda motor ayahnya 
tiba-tiba dipepet pengendara sepeda motor lainnya.
> > Ketiganya pun secara bersamaan terjatuh dari motor. Bahkan, Hilma 
yang saat itu membonceng di depan Yusron, sempat tertindih 
motor. ''Habis itu, aku dipegangi oleh orang itu,'' ujar Sidiq yang 
tampang polosnya menyiratkan trauma belum hilang darinya. Hanya 
kalimat-kalimat pendek yang bisa dikutip wartawan dari mulut Sidiq.
> > Pengakuan Sidiq kepada Tim Pengacara Muslim (TPM) tak kalah 
mencengangkan. Menurut Qadhar Faisal, salah satu kuasa hukum keluarga 
Yusron, tidak hanya Sidiq yang melihat ayahnya ditembak dari jarak 
dekat. Dua adik Sidiq, kata Qadhar, juga ikut melihat ayah mereka tak 
berdaya ditembus timah panas, sebelum akhirnya mereka masuk kembali 
ke rumah. ''Saat lari, Sidiq mendengar empat kali tembakan, Salman 
tiga kali,'' kata Qadhar.
> > Sri Mardiyati yang kemarin datang ke Mabes Polri sambil 
menggendong Hilma, menambahkan, tak lama setelah tiga anaknya sampai 
di rumah, beberapa petugas menjemput keluarganya. Lalu, mereka dibawa 
ke sebuah hotel di Yogyakarta. Sejak saat itu, Mardiyati dan anak-
anaknya tidak pernah lagi bertemu Yusron.
> > ''Saya tidak kenal Abu Dujana, suami saya bernama Yusron atau 
dikenal Ainul Bahri,'' tegas Mardiyati ketika wartawan menanyakan 
sejauh mana kedekatannya dengan Abu Dujana.
> > Dia yakin, proses penangkapan polisi terhadap suaminya yang 
dianggap tersangka teroris, hanyalah rekayasa untuk memuaskan dunia 
Barat. Suaminya, kata Mardiyati, hanyalah pengrajin tas biasa. ''Saya 
menyangkal semua yang diekspose media.''
> > Merasa proses penangkapan Yusron melanggar HAM, Qadhar akan 
mempraperadilankan Kapolri, Jenderal Sutanto, ke Pengadilan Negeri 
Jakarta Selatan. Surat gugatan praperadilan akan didaftarkan pada 
Rabu (20/6).
> > Pelanggaran HAM, katanya, terjadi karena ketika ditembak, Yusron 
tidak memegang senjata, tak mencoba melarikan diri, tidak melawan, 
dan bukan pelaku tindak pidana. Terlebih, penembakan Yusron 
disaksikan langsung ketiga anaknya.
> > Sebelumnya, Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Bambang Hendarso 
Danuri, menegaskan tidak ada rekayasa dalam proses penangkapan 
teroris. Bambang mengatakan, bisa mempertanggungjawab kan aksi 
penggerebekan teroris secara hukum.
> >
> >
> > Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republik 
a.co.id
> > Berita bisa dilihat di : http://www.republik a.co.id/Cetak_ 
detail.asp? id=297115&kat_id=3
> >
> >
> >
> >
> >
> > Web:
> > http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
> >
> > Klik:
> >
> > http://mediacare.blogspot.com
> >
> > atau
> >
> > www.mediacare.biz
> >
> > ====================
> > Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
> > [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> 
> 
> -- 
> -------
> Komite Pimpinan Pusat - Serikat Tani Nasional
> [Sementara] Jl. Bogin A 2 Perumahan Budi Agung Bogor 16133
> Mobile +62 856 807 5066
> Email : [EMAIL PROTECTED]
> Blog : http://serikat-tani-nasional.blogspot.com/
> -------
>


Kirim email ke