Sama dengan Pak Ibnu saya juga harus berpindah-pindah media untuk
mencari penghasilan yang lebih baik. Memang sampai sekarang belum ketemu
jawabannya kenapa gaji waratwan begitu rendahnya di negeri ini. Bahkan
sudah ada nasihat kalau mau kaya jangan jadi wartawan. Lho memang
wartawan nggak boleh kaya? Yang boleh kaya pemilik medianya saja ya...
Soal cerita per laporan 15.000 saya juga sudah dengar dan itu memang
sangat memprihatinkan. Tapi meski gaji kecil wartawan dituntut untuk
tidak menerima apapun dari manapun. Wartawan juga manusia. Benar apa
yang dikatakan Bung Ibnu, kepuasan batin mana bisa untuk bayar tagihan
listrik, beli gas, beli beras, biayain anak istri ke dokter atau apapun.
Padahal untuk operasional si wartawan kan perlu juga beli bensin, butuh
makan di jalan pendek kata perlu jaminan bahwa selama melakkan
pekerjaannya dia bisa tenang dan konsentrasi. Kalau gaji kecil, sebelum
tanggal gajian sudah habis, utang numpuk di warung dan tetangga, anak
sakit, bini ngomel-ngomel mana bisa konsentrasi dan ujung-ujungnya
bagaimana kualitas berita bisa bagus?
Saya pernah menjadi asisten redaktur di sebuah media cetak dari sebuah
kelompok media ternama di Indonesia. Padahal kerjaan saya sebagai
asisten redaktur sama beratnya dengan sang redaktur. Saya harus
mengkordinasi liputan empat wartawan desk saya, lalu mengedit tulisan,
menunggui proses layoutnya, hingga melayani komplain nara sumber. Untuk
tugas itu saya hanya digaji Rp 1,5 juta. Karena waktu itu saja masih
bujangan tidak dapat tunjangan keluarga. Sementara kawan saya yang sudah
berkeluarga mendapat tunjangan keluarga Rp 75.000. Nah, uang gaji saya
itu sebagian besar habis hanya buat bayar kos dan makan sehari-hari.
Jangankan buat ditabung, rata-rata 10 hari sebelum tanggal gajian saya
sudah harus ngutang di kantin kantor.
Saya tidak tahu berapa besar gaji wartawan TV. tapi kalau wartawan koran
(non koran besar) atau radio memang sangat memprihatinkan. Apakah
wartawan harus demo untuk minta kenaikan gaji? Kita yang berprofesi
sebagai wartawan sering memberitakan masalah ketidakadilan seperti
minimnya gaji buruh dan sebagainya. Namun kondisi kita juga seperti
itu....
Salam,
Koko
-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ibnu fajar
Sent: 21 June 2007 11:25
To: [email protected]
Subject: Re: [mediacare] Reporter hanya dibayar
Rp.15.000,-/berita
Menarik email dari pak Rezki, sebuah pertanyaan besar mengapa
gaji (lebih tepatnya honor) seorang reporter sebegitu kecilnya.
Saya sendiri lulus dari fakultas komunikasi ketika saya mulai
menggeluti karir di dunia media (yang memang sesuai dgn background
pendidikan saya) ternyata muncul pertanyaan dari orang tua "yakin mau
kerja di media, gajinya gak terlalu besar lho???". Tetap pekerjaan di
media saya geluti sampai sekarang hampir 4 tahun dan ternyata memang
gajinya tidak terlalu besar.
Ada yang bilang kalo kerja di media yang dikejar itu adalah
kepuasan batin dan idealisme, tapi apakah kepuasan batin tsb bisa buat
bayar tagihan listrik dan telpon tiap bulan.
Apakah karena industri media di Indonesia tidak terlalu
menguntungkan yang menyebabkan standar gajinya rendah setahu saya
belanja iklan di Indonesia masih cukup tinggi, atau sesimple para
pekerja merasa cukup hanya dengan menikmati kepuasan batin setiap
bulannya sehingga suka lupa minta naik gaji???
Saya sendiri harus berpindah-pindah dari satu media ke media
lain untuk memperbaiki standar gaji saya, karena menurut saya itu salah
satu cara untuk bertemu langsung dengan manajemen perusahan dan berusaha
negosiasi. Hasilnya dalam 4 tahun saya pernah bekerja di 7 perusahaan
media, sebuah kondisi yang dipertanyakan pada CV saya tapi itu resiko
yang harus saya ambil.
Bagaimana dengan teman2 yang lain, ayo dooong ini khan milis
orang2 media...mbok ya jangan cuma posting untuk mempromosikan event
atau berita dari perusahaan masing-masing. Siapa tau ada GM atau CEO
atau mungkin owner dari salah satu perusahaan media yang ikutan milis
dan langsung tergugah untuk menaikkan standar gaji
karyawannya....amieeeeeeen
regards,
ibnu
*Sambil berkhayal, kapan ya standar gaji pekerja media bisa jauh
lebih baik dari sekarang.
On 6/20/07, Rezki Perdana <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote:
Kemarin, saya bertemu teman lama yang kini menjadi
reporter di sebuah
radio terkenal di Jakarta.Karena sudah lama tak bertemu
banyak bahan
obrolan yang dibicarakan. Kemudian iseng-iseng saya
menanyakan soal
gaji yang ia terima di radio itu. Saya menanyakan itu
tanpa
sungkan-sungkan karena dulu saya cukup berteman akrab
dengan dia.
Alangkah kagetnya saya ketika dia bilang dia hanya
dibayar
Rp.15.000,-/berita. Hanya segitukah seorang reporter
dihargai?.
Kegelisahan ini kemudian saya bawa sampai ke rumah. Di
rumah saya
iseng-iseng menghitung penghasilan dia sebulan. teman
saya itu bilang,
di radio itu setiap hari ia minimal harus dapat tiga
berita. Saya
kemudian menghitung jika dia setiap hari dirata-ratakan
mendapat tiga
berita berarti sehari dia dibayar Rp.45.000,- .
Rp.45.000,- X 20 hari
kerja, berarti setiap bulan dia hanya mendapat
Rp.900.000,-/bulan.
Uang sebesar itu bagi reporter bujangan saja sangat
tidak memadai.
Saya bisa mengatakan itu, karena saya dulu pernah
bekerja sebagai
reporter yang hanya digaji Rp 1.200.000,-. Uang sebesar
itu bagi saya
sangat tak memadai. bagaimana pula dengan teman saya
yang hanya
dibayar Rp 900.000,- /bulan, sementara dia mempunyai 4
orang anak,
bahkan istrinya hanya ibu rumah tangga. Entah bagaimana
dia harus
menutupi kekurangan dari penghasilannya yang minim
itu.Dan parahnya
lagi, bagaimana pula jika suatu saat ia sakit sehingga
terpaksa tak
kerja. Bagaimana keluarganya harus dibiayai, karena
teman saya ini
hanya bisa mendapat uang kalau dia menyetor berita yang
hanya dihargai
Rp.15.000,-/berita.
Bagi saya, yang lebih sedih lagi adalah, karya
intelektual seorang
wartawan hanya dihargai sebesar Rp.15.000,- . Bayangkan
saja, seorang
wartawan floating seperti teman saya itu harus mengejar
berita dari
satu tempat ke tempat lain. Dia harus mengeluarkan
ongkos transport
untuk mencapai tujuan. Belum lagi uang untuk beli makan
dan minuman
ketika bekerja. Media radio itu tampaknya tak menghargai
hasil karya
si reporter yang harus bertungkus lumus dan juga harus
menguras otak
untuk membuat karya jurnalistik itu. semua itu hanya
dibayar
Rp.15.000,- hanya lima belas ribu perak coooy bayangkan
seorang
wartawan di Jakarta hanya dibayar lima belas ribu perak
per berita.
ini bagi saya KEJAM SEKALI!!, KEJAM SEKALI!!!. harus ada
yang
bertindak untuk menaikkan penghasilan para kontributor
radio seperti
teman saya itu. Bagi teman-teman yang bekerja di radio
itu,harus punya
keberanian mendobrak manajemen untuk mempertimbangkan
kenaikan gaji
para kontributor itu. terus terang saya rasanya mau
menangis mendengar
pengakuan teman saya yang hanya dibayar
Rp.15.000,-/berita.Uang
sebesar itu bahkan tak cukup untuk tiga kali naik bis
AC.
-Rezki Hasibuan-
http://www.bbc.co.uk/
This e-mail (and any attachments) is confidential and may contain personal
views which are not the views of the BBC unless specifically stated.
If you have received it in error, please delete it from your system.
Do not use, copy or disclose the information in any way nor act in reliance on
it and notify the sender immediately.
Please note that the BBC monitors e-mails sent or received.
Further communication will signify your consent to this.