- Banyak tugas lain donk bos.. emangnya cuma soal lumpur lapindo doank?
- Setahu kita, yang pandai bersandiwara itu bintang sinetron.. makin bagus
aktingnya,
  makin laku/mahal tarifnya.. Kalau penguasa?
- April 2007, para korban lumpur lapindo tidak diterima istana.. bahkan
ditinggal acara
 kuliah di depan PPATK.. Mereka baru diterima setelah kurang lebih 10
hari..
 Itupun oleh Wapres terlebih dahulu.. baru setelah itu Presiden..
 Entah berkata jujur/ada kaitannya atau tidak, awalnya sempat dikatakan
jubir presiden
 sebagai: 'SALAH ALAMAT'..

http://agorsiloku.wordpress.com/2007/04/25/korban-lusi-ke-istana-negara/

"..
Perlu waktu 10 hari untuk seorang Presiden menerima mereka (korban lumpur)
diterima oleh
Wapres dan Presiden.  Syukurlah akhirnya Presiden mau menerima, meskipun
adalah juga
bentuk ketidakpedulian ketika jubir presiden bilang :"Salah alamat".  Kalau
janji terucap hanya
sekedar "tebar pesona", saya kira betul-betul lumpur itu akan menyiprati
Pemerintahan SBY.
.."

Tebar pesona = pencitraan = Klaim & seolah-olah..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 6/25/07, wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  *Mmmmmhh.....cuma bisa menangis dan berjanji?*

Anak saya usia 6 tahun pun bisa menangis mendengarkan cerita sedih...
MASALAH ini sudah LEBIH dari SATU TAHUN...kemana aja anda Bapak Presiden
Republik Indonesia?????

Orang-orang LAPINDO itu sudah DUA KALI menghadap anda.

SEBELUMNYA lebih dari SATU MINGGU minta menghadap tapi anda hanya
MEMBUTATULI.

Namun setelah WAKIL PRESIDEN menerima mereka, baru anda IKUT-IKUTAN
menerima dengan JANJI yang sama.
Anda Sebagai presiden sudah satu tahun tidak mampu menyelesaikan masalah
LAPINDO...

 Kalo anak saya menangis memang tidak ada solusi yang dilakukan dia..TAPI
ANDA dengan KEKUASAAN dari RAKYAT LANGSUNG?

*hanya bisa MENANGIS dan BERJANJI?*
**
Memang benar kata lawan politik anda:

*anda ini memang JAGO TEBAR PESONA!!!!!.*
-----------------------------------------<<<
From: Sunny [EMAIL PROTECTED]


KOMPAS
*Senin, 25 Juni 2007 *
**


Presiden Menangis Dengar Derita Korban

 *Bogor, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menangis saat
mendengar paparan mengenai masalah yang lebih dari satu tahun dialami
belasan ribu korban lumpur panas Lapindo Brantas Inc di Sidoarjo, Jawa
Timur, di kediamannya di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat,
Minggu (24/6). *

*Setelah menangis itu, Presiden Yudhoyono berjanji akan turun gunung
mengatasi permasalahan korban.*

*Paparan mengenai permasalahan korban lumpur Lapindo disampaikan 20 wakil
warga yang difasilitasi penulis Emha Ainun Nadjib untuk bisa bertemu
langsung dengan Presiden Yudhoyono. Setelah pertemuan tertutup sekitar 90
menit, Emha yang berpakaian serba gelap langsung pergi. *

*"Kami sangat terharu, Bapak Presiden setelah kemudian melihat
permasalahan dan penderitaan yang kami alami, dan melihat kenyataan belum
jelasnya realisasi dari janji-janji, beliau sampai menangis," ujar Wakil
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jatirejo Khoirul Huda seusai bertemu
Presiden. *

*Khoirul yang bertugas sebagai juru bicara warga memberikan keterangan di
halaman Masjid Al Istiqomah yang berjarak sekitar 300 meter dari Puri Cikeas
Indah. "Semoga ini pertanda baik bagi korban lumpur seluruhnya," ujar
Khoirul. *

*Turun gunung*

*"Secepat-cepatnya Presiden akan turun gunung. Turun gunung adalah bahasa
beliau," ujar Khoirul Huda.*

*Tidak dijelaskan apa arti turun gunung itu. "Ada satu rantai informasi
yang terputus. Apa yang didengar Presiden selama ini berbeda dengan realitas
di lapangan. Untuk itulah Presiden akan mengecek realitas sebenarnya," ujar
Rahmat, wakil warga yang juga diterima Presiden. Ia mencoba menjelaskan arti
turun gunung itu. *

*Menurut Khoirul dan Rahmat, kepada Presiden, wakil warga telah
menyerahkan "segepok" pernyataan warga yang minta realisasi dari janji
pemerintah untuk memberikan ganti rugi langsung tunai secara bertahap, yakni
20 persen dan 80 persen. *

*Mereka yang diterima Presiden di kediamannya di Cikeas mengklaim mewakili
94 persen keluarga korban lumpur panas Lapindo yang berjumlah 10.478keluarga. 
(INU)
*


Kirim email ke