TPM, yang biasanya disebut banyak media sich, itu singkatan dari “tim pembela
muslim”. Cuma yang muncul ke public ternyata hanya “muslim” tertentu saja yang
dibela ( secara hukum tentunya ), yakni tersangka/terdakwa kasus terorisme dan
ustad Abu Bakar Ba’asyir. Selain itu, maaf2 aza buat umat “muslim” yang lain
kayak korban lumpur Lapindo, rakyat Aceh vs GAM dulu, atau korban2 TKW yang
berjatuhan di Malaysia dan negara2 Arab, nggak ada tuch kabar para rakyat kecil
itu dibela mati-matian.
Mengherankan, mengapa setiap ada kasus teroris tersebut itu ditangkap eh yang
muncul ini para “provokator” dari TPM ini ? Mengapa disebut “provokator” karena
mereka cukup berhasil membuat bingung aparat keamanan dan wartawan. Setidaknya
dalam contoh kasus terakhir mengenai kisah penangkapan Abu Dujana. Sang anak
dan istri yang hanya kelihatan matanya doank pas acara “kumpul” di DPR bisa
menuding proses penangkapan si Abu ini melanggar HAM. Sebelnya lagi DPR manut2
aja, sedangkan korban lumpur mau ketemu wakil rakyatnya aza hanya dikasih izin
demo di luar pagar.
Biar “fair”, mestinya DPR tanya balik donk, gimana perasaan sebagai istri dan
anak melihat kelakuan bapaknya bikin keonaran yang membuat derita lebih banyak
masyarakat setanah airnya ? Tanya juga, apakah pengakuan anak “teroris” yang
diekspos tersebut hanya “akal-akalan” dari para pengacara TPM biar dapat
simpati ?
Ada yang komen, kalangan teroris (di) Indonesia ini memang aneh. Sesudah
tertangkap malah dijadikan bulan-bulanan gossip ala selebritis, nongol di
program tv ini itu, dan pas divonis hukuman mati sejak beberapa tahun yang
lalu, eh orangnya masih hidup tuch sampai sekarang. Tolong dech kalau mau bela2
tersangka/terdakwa nggak usah bawa label agama. Tumben lembaga kayak MUI kagak
malu ada organisasi yang pakai cap Islam yang khusus ngebelain teroris tukang
bikin bom.
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/