Sangat menarik dan saya banyak sekali setuju dengan uraian Anda! Ttg survei dan polling di RI saya tdk tahu krebilitas dan ketepatan hasilnya. Dari 1200 responden itu saya tidak tahu apa betul terwakili sebagian besar masyarakat RI secara sosiologis. Sebetulnya RI sbg negeri yang begitu besar dan berpenduduk banyak layak mempunyai bberapa lembaga survei yang bisa mendekati Gallup Poll dalam mutunya, hingga kita bisa bandingkan.
Tepat sekali bhw institusi NEGARA di RI sejak awal orba saya kira telah di downgrade menjadi "pemerintah" dan malah lalu jadi "presiden" saja. Kini di RI saya masih merasa bhw orang mengidentifikasikan negara hanya sbg pemerintah, lalu karena diterima pujian dari Barat bhw kita telah menjadi demokrasi, meski hanya sangat formal, semua perhatian terpusat pada presiden yg dipilih langsung, namun hasil yang tangible untuk negara boleh dikatakan tidak ada. (Kemarin dulu saya bicara dengan seorang pembisnis dari RI yang bilang kini seolah-olah tidak ada pemerintah) Dalam sikon negara yang cukup amburadul ini ketika orang ditanya tentang identitas diri, banyak yang taking for granted bhw ia orang Indonesia, dan orang Indonesia yang rata-rata memang religius akan menunjuk agama sbg personal identity. Saya sangat setuju bhw Pancasila harus juga melandasi polugri, pol. LN, RI, dan konsekuesinya RI harusnya ber polugri bebas aktif. Secara politis RI harusnya mendukung aktif tercapainya perdamaian yang adil di Timur Tengah. Saya yakin bila ini akan tercapai, 75% dari segala problem yang berkaitan dengan radikalisme Islam akan terselesaikan. Karena seharusnya lalu umat Islam yang hendak maju dalam abad 21 ini akan harus bekerja keras spt orang Jepang, Tionghoa, India dll termasuk Eropa (yg kini mulai takut akan tertinggal oleh Cina dan India) untuk mendapatkan "a place on the sun" apapun agamanya, krn yang amat penting ialah sistem dan etos kerja. Juga sangat setuju sekait perlunya "kerjasama" negara dan civil society, yang memang ada batasnya, karena hubungan internasional banyak yg harus diurus oleh negara, dan cv juga tidak bisa menelurkan segala UU. Mudah-mudahan Anda akan lebih banyak berkiprah di jagad maya ini. Dalam seminar "Islam and Democratization in Indonesia" di Praha minggu yl pembicara Dr MS Anwar dari ICIP, Int'l Center for Islam and Pluralism (JKT) juga menegaskan pentingnya Pancasila bagi jalannya negeri, bangsa dan negara Indonesia. Salam Merdeka, Bismo DG, Praha ----- Original Message ----- From: yanri To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, June 25, 2007 2:07 AM Subject: [nasional-list] Re: [PEMBEBASAN PAPUA] Survei UIN: Identitas Keagamaan Kalahkan Nasionalisme Bung Sunny, Negara didirkan untuk memberikan common share bagi keberagaman penduduknya, yang tentu saja harus dilihat sebagai "subyek yang dinamis"...---antithesis "negara sebagai romantisme" kalaulah memang penduduk Indonesia yang mayoritas Islam dan ditandai oleh survey tersebut sudah menunjukkan pergerakan kearah yang lebih baik dalam merepresentasikan diri mereka (menurut mereka), kenapa negara tidak mengikutinya? Wajar saja sebagian mereka akhirnya menomorduakan kebangsaan yang saat ini dipraktikkan secara sempit pada Pentas politik Indonesia, karena NYATALAH mereka tidak mendapat hati dari negara atas apa yang sedang mereka perjuangkan mati matian... They are fighting alone! Their country is nowhere even close ! kenapa negara tidak mendukung simpati yang mereka tunjukkan terhadap penderitaan timur tengah? atau negara ini sudah kehilangan inklusifitasnya? atau mungkin bluntly speaking, negara ini memang tidak lagi ada gunanya untuk mereka? atau yang urus negara sudah lupa, "...semua untuk satu,satu untuk semua, semua untuk semua?" ---BK1J45 Percayalah, selagi penindasan terhadap timur tengah oleh dunia barat masih berlangsung, selama itu pula umat islam Indonesia akan bergerak... dan bentuk solidaritas dunia inilah dia SEBENAR-BENARNYA bentuk dari INTERNASIONALISASI NILAI NILAI PANCASILA , sebagaimana Bung Karno pernah menggelagarkannya dalam Sidang Umum PBB... BK hendak meyakinkan dunia bahwa Pancasila layak dijadikan falsafah dunia, layak dijadikan landasan hidup peradaban bagi dunia,AS A WHOLE... dan tentu saja dalam alam pemikiran BK saat itu, manifestasi Sila ke- 5 .Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia akan secara otomatis diterjemahkan menjadi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Dunia. percyalah,seharusnya kita justru berbangga dengan tindakan umat islam indonesia yang memprjuangkan kaum tertindas... merekalah penegak pancasila sejati dalam tataran peradaban dunia... ini bukan pilihan kompromistis, melainkan sbenra-benarnya "berfikir runut"! kembali ke masalah survey yang mengejutkan ini,kalau memang kita tidak mau Indonesia terpecah akibat adanya pemahaman Islam yang "sangat dinamis" tersebut,( mudah2an sudah disadari pada titik ini bahwa itu bukan spekulatif) , maka seharusnyalah negara mencari tahu dukungan apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh umat islam itu dalam menuntaskan perjuangan peradaban mereka (baca:perjuangan dalam menginternasionalisasikan sila kelima )... tak perlu buru buru melihat ada skenario besar dibalik ini semua, Ini titik yang kritis.ini titik dimana civil society harus mengalah dan dengan bijak mempersilahkan porsi penyelesaiannya kepada negara/pemerintah.ini yang dimaksud "political situation". civil society hanya bisa mengantar sampai ke gerbangnya saja... LET GO OF THE GOOD, GO FOR THE GREAT..! Perkembangan Peradaban itu bercorak dinamis,pak! Negara yang tidak dinamis, adalah negara yang tidak menghargai perkembangan peradabannya sendiri... Negara yang tidak dinamis adalah Negara Gagal! Negara Aborsi! MERDEKA!! PS. Jangan kerdilkan Pancasila-nya Bung Karno... --- In [EMAIL PROTECTED], "Sitogog" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > KE-DUA2-nya mungkin dan real sudah terjadi ......................... Apa yg > belum terjadi ialah RI sbg Negara HUKUM dan Negara Demokrasi yg penuh - > dng KEMERDEKAAN DAN KEDAULATAN yg mempunyai ISI dan ARTI YG SEBENARNYA- > Kehidupan Masyarakat dan Bangsanya yg makmur dan bahagai , berpendidikan dan > berbudaya Tinggi - > Maju serta mempunyai Tingat Kehidupan , Pendidikan dan Kesehatan yg tinggi > pula . Dengan DPR-NYA yg benar MERUPAKAN DEWAN yg MEWAKILI RAKYATNYA - > PEMERINTAH YG MEMPERHATIKAN dan MENGURUS RAKYAT DAN NEGARANYA -YG > MELINDUNGI SEGALA KEKAYAAAN ALAM BANGSANYA dan YG BEKERJA SECARA > PROFESIONAL MENGATUR NEGARA dan PEREKONOMIAN serta MASALAH SOCIAL DAN > KESEHATAN , PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN BANGSANYA ,DLL,DLL. > > > -------Original Message------- > > From: Sunny > Date: 24.6.2007 12:58:08 > To: Undisclosed-Recipient:, > Subject: [PEMBEBASAN PAPUA] Survei UIN: Identitas Keagamaan Kalahkan > Nasionalisme > > Refleksi: Mungkin rahasia keagaman kalahkan nasionalisme ialah karena agama > menjanjikan surga dan kelimpahan abadi penuh maelaekat cantik nan indah [Got > ist mit uns]. Sedangkan nasionalisme yang dialami sejak Pak Suharto naik > pangunggun kekuasaan negara hanya membawa malapetaka penindasan, kemiskinan > dan bencana alam silih berganti. Bagaimana pendapat Anda? > > http://www.tribun-timur.com/view.php?id=45925&jenis=Politik > > Sabtu, 23-06-2007 > > > Survei UIN: Identitas Keagamaan Kalahkan Nasionalisme > > > KABAR gembira bagi pejuang umat di Sulsel. Survei nasional tentang Islam dan > kebangsaan yang diselenggarakan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) > UIN Syarif Hidayatullah dipresentasikan Direktur PPIM Dr Jajat Burhanuddin > di Kampus UIN, Selasa (19/6), menempatkan jargon agama di urutan tertinggi > dalam menarik simpati publik. Hasil survei yang dipresentasikan pakar dari > berbagai perguruan tinggi Islam itu, melansir sejumlah hasil mengejutkan. > > Di antaranya, agama tampil sebagai satu kategori terpenting dalam perumusan > identitas warga negara Indonesia. Ini bisa diartikan unsur dan simbol agama > jauh lebih kuat memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat Indonesia > dibanding identitas nasionalisme. > > Sebanyak 41,3 persen responden memilih agama sebagai faktor terpenting untuk > merumuskan identitas diri dibanding 24,6 persen responden yang memilih > kebangsaan Indonesia untuk merumuskan identitas (Lihat, Hasil Survei). > > "Perumusan identitas diri berdasarkan agama juga berkorelasi dengan faktor > penentu memilih pimpinan baik di level nasional maupun lokal," kata Jajat. > Survei ini menggunakan 1.200 responden dengan metode multistage random > sampling. Jajat menyatakan margin error surveinya sekitar tiga persen. Dua > pembicara lokal, Dr Hamdan Juhannis (Dosen UIN Alauddin) dan Aswar Hasan > (Ketua KPID/aktivis KPPSI) hadir sebagai penanggap dan diikuti puluhan dosen > muda UIN Alauddin. Pelaksanaan seminar survei nasional ini terselenggara > atas kerjasama PPIM UIN Syarif Hidayatullah dengan Pusat Kajian Agama dan > Masyarakat (Pukat) UIN Alauddin Makassar. > > > metodologi survei > *Wilayah: Nasional > *Metode: Multistage random sampling > *Responden: 1.200 > *Kategori responden: 17-60 tahun dengan porsi 50 % laki-laki dan perempuan, > kota (42%) dan desa (58%) > *Margin Error: kurang lebih 3 % > *Tingkat kepercayaan: 95 % > > pertanyaan: Faktor terpenting pertama yang menjadi dasar perumusan identitas > diri > Agama: 41,3 % > Kebangsaan Indonesia: 24,6 % > Jenis Pekerjaan: 12,4 % > Latar belakang etnis: 9,3 % > Status sosial: 4,0 % > Keanggotaan dalam organisasi sosial: 3,0 % > Keanggotaan dalam partai politik: 0,1 % > Tidak Jawab: 5,3 % > Pertanyaan: Membolehkan non-muslim jadi presiden > Ya: 36,3 % > Tidak: 62,4 % > Tidak Jawab: 2,3 % > Pertanyaan: Membolehkan non-muslim jadi guru di sekolah umum > Ya: 64,1 % > Tidak: 33,5 % > Tidak Jawab: 2,4 % > Pertanyaan: Kepercayaan terhadap institusi agama dan negara (hampir selalu > percaya) > Pemimpin agama: 41 % > Presiden: 22 % > Tentara: 22 % > Polisi: 10 % > MPR: 11 % > DPR: 11 % > Partai Politik: 8 % > > Survei PPIM 2004, > Pertanyaan: Apakah Anda merasa sebagai orang Indonesia, orang Islam, atau > Orang daerah? > Indonesia: 44 % > Islam: 43 % > Daerah: 11 % > Tidak Jawab: 2 % > data: cr1 > (mansur am/as kambie) > > Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic > Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Calendar > PERSATUAN TANPA BATAS, PERJUANGAN SAMPAI MENANG! > ============================ > Pojok Milis PEMBEBASAN PAPUA: > 1.Milis PEMBEBASAN PAPUA dibuat dan diurus oleh Eksekutif Nasional Front > Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat [Front PEPERA PB] > 2. Topik Bahasan Disarankan Seputar Tiga Pokok Bahasan Yang menjadi Tema > Utama, Yaitu: Imperialisme, Neo-Kolonialisme dan Militerisme. > 3. Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota > 4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] > 5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED] > ============================== > > Change settings via the Web (Yahoo! ID required) > Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format > to Traditional > Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe >
