Temans, salah seorang rekan kita Om Jubing baru saja merelease album yg
berjudul Becak Fantasy. Dia merupakan salah seorang maestro classical guitar di
negeri kita yg langka sekali jumlahnya di negeri kita, mari kita dukung bersama
supaya Album seperti ini semakin banyak ada di negeri kita. Dan satu lagi .....
jangan beli bajakan ya (Forum BengkelMusik.Com)
"BECAK FANTASY"
by Jubing Kristianto (Solo Guitar)
1) Sinaran (Hassan/arr: Jubing)
2) Morning Rain (Jubing)
3) Becak Fantasy - Orchestrated Version (Ibu Sud, arr: Jubing/Handoyo)
4) Song for Renny (Jubing)
5) Waiting for Sunset (Jubing)
6) Ayam den Lapeh - Orchestrated Version (arr: Jubing/Handoyo)
7) Theme from "Magnificent Seven" (Bernstein/arr. Jubing)
8) Amelia (Jubing)
9) Burung Kakatua (Traditional/arr: Jubing)
10) Lullaby (Jubing)
11) Ayam den Lapeh - Original Solo Version
12) Becak Fantasy - Original Solo Version
Recorded/mixed/mastered at Studio 15 Jakarta by Leonard "Nyo" Kristianto
Additional recording/mixing at Indo Music Studio Semarang by Wandy Gaotama
All songs arranged/composed by Jubing Kristianto
All song played by Jubing Kristianto on Aria AC-50 Classical Guitar
Additional Music on Becak Fantasy and Ayam den Lapeh by Handoyo
Graphic design: Wandy Gotama
Photography: Alex Studio Semarang
Lokasi: Gedung Marba Semarang
==================
TENTANG "BECAK FANTASY"
Hanya dari enam senar, seribu satu nada indah dapat dihasilkan. Komposer besar
dunia Ludwig van Beethoven (1770 - 1827) bahkan memuji gitar sebagai miniatur
orkestra. Ya, sebuah orkestra yang mudah dijinjing ke mana-mana dan dimainkan
kapan saja.
Sayangnya, belum banyak yang mengenali kemampuan ini. Dalam kenyataannya, saat
ini gitar masih lebih dikenal sebagai instrumen pengiring nyanyian. Paling
banter untuk bermain melodi dengan not satu per satu. Padahal, kita bisa
memainkan sekaligus bas, chord, melodi, bahkan perkusi hanya dengan satu gitar.
Karena itu, jika Beethoven menyebut gitar miniatur orkestra, saya menjuluki
gitar sebagai "one man band instrument".
Album ini lahir dari keinginan saya untuk lebih memasyarakatkan seni bermain
gitar akustik tunggal. Impian mulai muncul setelah saya memenangkan beberapa
kali kompetisi nasional gitar tunggal. Terpikir oleh saya merangkum beberapa
nomor yang saya aransemen itu ke dalamalbum rekaman. Namun untuk mewujudkannya
tidaklah mudah. Karena saat itu saya masih aktif bekerja di Tabloid NOVA.
Jangankan merekam, mencari waktu buat latihan saja susah.
Setelah saya mengundurkan diri dari NOVA tahun 2003, saya mulai mendapat lebih
banyak waktu leluasa. Saya bisa menyelesaikan kamus gitar "Gitarpedia" dan
merekam sejumlah aransemen saya (dari recording, mixing, hingga mastering
dengan biaya sendiri).
Untuk buku, saya beruntung bisa mendapat penerbit yg langsung mau
menerbitkannya (PT Gramedia Pustaka Utama, 2005). Namun untuk album rekaman,
saya bertemu tiga produser di Jakarta yang saya kenal. Mereka memuji-muji, tapi
tidak berani memproduksinya. Terlalu segmented, kata mereka. Ada yang
menawarkan mau bikin asalkan semua lagu saya ditambahi musik pengiring. Berarti
bukan album solo gitar lagi. Semuanya tidak ada yg membuahkan hasil.
Kira-kira satu setengah tahun lalu saya dipanggil guru gitar saya di Semarang.
Dia sedang membuat aransemen musik untuk sebuah album penyanyi baru. Saya
dipanggil untuk mengisi gitarnya karena beliau sudah tak fasih lagi bergitar
(sekarang sudah jadi pianis, nggak main gitar lagi). Di situlah saya berkenalan
dengan sang produser, Wandy Gaotama dari IMC Record Semarang. Orangnya masih
muda dan masih besar idealisnya. Setelah mendengar demo saya, dia memutuskan
untuk memproduksinya dengan syarat boleh ada dua lagu yang dia beri tambahan
musik. Saya setuju karena itu hanya sebagian kecil. Apaalgi, track yang asli
(versi gitar tunggal) tetap ditampilkan.
Dari situlah proses terus bergulir. Dan ternyata cukup lama juga karena dia
sendiri juga sibuk menangani berbagai proyek lain dan juga berbagai urusan
keluarga. Baru awal tahun ini dia mulai mengontak saya lagi dan fokus pada
labum yang kemudian diberi nama "Becak Fantasy".
Setelah saya ACC dengan aransemen musik tambahan dan juga harus jadi foto model
untuk cover, maka jadilah album ini. Saya bersyukur sekarang "Becak Fantasy"
sudah tersedia di outlet2 Disc Tarra, Sangaji Music, dan Duta Suara.
Aransemen dan komposisi yang saya tampilkan mencakup rentang waktu penciptaan
yang lama, dari tahun 1982 hingga 2004. Sedapat mungkin saya memilih lagu-lagu
yang bisa mewakili keberagaman bentuk dan gaya musik. Dalam Ayam den Lapeh
misalnya, ada pengaruh dangdut dan flamenco. Sedangkan dalam Becak Fantasy dan
Magnificent Seven saya membayangkan gitar saya seperti sebuah orkestra. Ketiga
lagu ini merupakan nomor-nomor yang saya tampilkan saat berlaga dalam kompetisi
gitar nasional.
Burung Kakatua dan Sinaran adalah dua aransemen favorit saya. Keduanya saya
ciptakan khusus untuk ditampilkan dalam konser juara-juara gitar Yamaha. Yang
pertama dalam gaya swing dan yang kedua dalam style fusion-jazz. Anda seolah
bisa mendengar permainan sebuah band. Padahal semua itu dimainkan dengan satu
gitar saja.
Sejak tahun 2004, saya diminta menjadi penguji tamu bidang gitar di sekolah
musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Beberapa lagu saya tulis untuk para
pendidik hebat di lembaga ini. Waiting for Sunset dan Morning Rain adalah dua
di antaranya. Partitur kedua komposisi lembut-manis ini akan dibukukan
diterbitkan oleh YPM.
Lagu Amelia dan Butterfly Dance saya tulis berdasar cerita anak karangan istri
saya tercinta, Renny Yaniar. Kepadanya pula saya persembahkan komposisi Song
for Renny. Sedangkan Lullaby merupakan buah permintaan para gitaris pemula
pengunjung website saya akan lagu solo gitar yang tak terlalu sulit dimainkan.
Bagi yang berminat memainkannya, Anda dapat men-dowlnload partitur keempat lagu
ini dari www.geocities.com/jubing Selamat menikmati!
Jakarta, Juni 2007
Jubing Kristianto
=========================
TENTANG JUBING
Guru gitar pertama Jubing adalah ayah-ibunya yang gemar menyanyi dan bermain
gitar. Umur 12 ia sudah tampil mengiringi teman-teman sekolah dengan gitar
dalam konser publik. Dua tahun kemudian ia belajar gitar klasik pada Suhartono
Lukito di Sekolah Musik Obor Mas Semarang setelah terpikat permainan gitar
tunggal seorang teman sekolah.
Baru setahun belajar, ia jadi finalis Yamaha Festival Gitar Indonesia (YFGI)
1982 untuk bagian bebas. Sejak itu ia nyaris tak pernah absen mengikuti YFGI,
khususnya pada bagian bebas atau non-klasik yang menuntut kemampuan mencipta
aransemen sendiri. Empat gelar Juara I (tahun 1987, 1992, 1994, dan 1995) ia
pegang. Sebelumnya, tahun 1984, ia sempat meraih Distinguished Award pada
Yamaha Festival Gitar Asia Tenggara di Hong Kong, juga untuk bagian bebas.
Sertifikat Grade 5 (tingkat guru) Yamaha Classical Guitar Performance telah
diperoleh Jubing tahun 1985 semasa di bangku SMA Kolese Loyola Semarang.
Setamat SMA, ia meninggalkan kota kelahirannya karena diterima di Jurusan
Kriminologi FISIP UI. Tahun 1990 ia bergabung di Tabloid NOVA sebagai reporter.
Di tengah kesibukan menjadi wartawan, ia tetap bermain gitar dan sempat
berlajar pada Arthur Sahelangi, tahun 1997 untuk mengambil Grade 4 Yamaha.
Tahun 2004 ia berhasil meraih Grade 3 Yamaha (grade tertinggi). Dua tahun
berikutnya ia juga memperoleh sertifikat gitar Grade 8 dari Associated Board of
Royal Schools of Music, London.
Sejak tahun 2000 Jubing menampilkan aransemen dan komposisi gitarnya di.
www.geocities.com/jubing. Karya-karyanya dimainkan para gitaris dari berbagai
negara. Satu di antaranya, Capuccino Rumba dimuat dalam majalah gitar
Soundboard (2000) yang dikelola Guitar Foundation of America. Tiga karyanya
yang lain menjadi lagu wajib ujian gitar pada sekolah musik Yayasan Pendidikan
Musik (YPM), Jakarta, di mana ia juga diminta menjadi penguji tamu.
Juli 2003, Jubing meninggalkan jabatannya sebagai Redaktur Pelaksana di NOVA
agar dapat lebih menekuni gitar. Kegiatannya saat ini adalah
guru/seminator/penguji gitar di Yayasan Musik Indonesia (Yamaha), menulis kolom
gitar untuk majalah edukasi musik Staccato, dan berpentas dalam berbagai acara.
Selain bermain solo, ia menjadi gitaris bagi band Sweet Orange bersama Junio
Fenandez, Heru Kusnadi, dan Junaedi Musliman. Dua nama terakhir bersama Jubing
dan pianis Jaya Suprana., membentuk Kwartet Punakawan yang kerap berkonser di
dalam dan luar negeri. Jubing juga menjadi gitaris kelompok Dua Ibu (Nana &
Reda) dalam melantunkan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono, baik di
berbagai pementasan maupun dalam dalam CD mereka yang bertajuk "Gadis Kecil".
"Becak Fantasy" adalah album solo gitar pertama Jubing.
===================
"Jubing transformed the simple Indonesian's children song into a lively guitar
piece laden with attractive improvisation." - The Jakarta Post, 3 Agustus 2001
"... hal yang menarik dari Jubing adalah, ia bukan saja membuat aransemen yang
serius untuk lagu-lagu Indonesia --termasuk lagu anak-anak yang sederhana--
tetapi ia juga memainkannya dengan sangat apik, sangat alamiah, dan tampak
tidak menghadapi kesulitan teknis." - Kompas, 6 Oktober 2001
"Jubing adalah seorang entertainer yang dapat membuat para penonton tersenyum
lebih lebar " - Majalah Tempo, edisi 1 - 7 September 2003
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.