REFLEKSI: Sebagai mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan tahun 
2000-2002 dan sekarang Presiden, barangkali untuk kejernihan masalah dapat 
ditanya kepada Presiden mengapa sekalipun begitu banyak tentara di Ambon ketika 
itu [2000-2002], tetapi keamanan tidak terjamin bagi penduduk disana?

KOMPAS 
Jumat, 29 Juni 2007 

  
Biarkan Konflik Menjadi Bagian dari Sejarah 
Cuaca Sempat Hambat Pendaratan Presiden di Ambon

Ambon, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap, situasi 
pascakonflik di Ambon dan Maluku yang mulai membaik dan menunjukkan tanda ke 
arah perdamaian agar dipertahankan dan dikembangkan untuk tujuan peningkatan 
kesejahteraan rakyat. Konflik dan kenangan soal itu biarlah jadi bagian dari 
sejarah. 

"Setiap kali saya bersyukur karena situasi Ambon terus semakin baik. Kita ingat 
hari-hari yang berat waktu itu. Biarkanlah menjadi bagian dari sejarah," papar 
Presiden Yudhoyono dalam peresmian Pasar Ikan Higienis Tantui, Ambon, Kamis 
(28/6). 

Terhadap hari-hari berat karena konflik horizontal di Ambon dan Maluku tahun 
1999, Presiden mengajak warga memetik pelajaran atasnya. "Marilah kita dalam 
menggapai masa depan dengan kearifan pembelajaran sejarah. Kita rakit, kita 
jalani hari esok yang lebih baik," ujarnya. 

Melihat kehendak kuat rakyat Ambon yang ingin kembali hidup berdampingan secara 
damai, Presiden, yang didampingi Ny Ani Yudhoyono, meminta aparat, baik di 
pusat maupun daerah, memfasilitasi hal tersebut. "Kewajiban kita semua untuk 
berikhtiar, bekerja keras, dan berbuat yang terbaik agar kondisi rakyat di 
Maluku pascakonflik makin baik," ujarnya. 

Yudhoyono menuturkan, kedatangannya ke Ambon merupakan yang ketiga kali sejak 
dilantik menjadi Presiden. Ketika menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik 
dan Keamanan tahun 2000-2002, bersamaan dengan pecahnya konflik dan upaya 
penanganannya, ia mengaku sering berkunjung ke Maluku. 

Oleh karena kerap mengunjungi Maluku, Presiden tahu persis bagaimana 
perkembangan situasi keamanannya yang terus membaik. Untuk terus menjaga 
keamanan dan perdamaian, Presiden meminta semua pihak rukun, kompak, dan 
bersatu. 

"Letakkanlah perbedaan suku, agama, etnik, dan partai politik secara 
proporsional. Mari bersatu dalam hati, pikiran, dan komitmen untuk bangsa," 
ujarnya. 

Halangi pendaratan 

Sebelum peresmian pasar ikan, Presiden harus berganti baju batik dengan safari 
karena terpapar air hujan. Kota Ambon, sejak tiga hari terakhir, diguyur hujan 
yang cenderung deras. 

Perjalanan Presiden dari Bandara Pattimura ke Tantui, sejauh lebih dari 20 
kilometer, juga terhambat genangan air karena hujan turun di sejumlah titik. 
Hujan juga menghalangi pendaratan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-500 yang 
ditumpangi Presiden dan rombongan. 

"Tadi rombongan saya yang terbang langsung dari Jakarta berputar-putar di udara 
lebih dari 30 menit karena cuaca yang belum memungkinkan untuk pendaratan," 
ungkap Presiden. 

Acara utama Presiden di Ambon adalah untuk peringatan Hari Keluarga Nasional 
XIV, Jumat pagi ini. Sejumlah menteri dan hampir seluruh gubernur dan 
bupati/wali kota berada di Ambon. Karena banyaknya tamu, untuk penginapan 
disiagakan dua "hotel terapung" KRI Nusanive dan KM Bukit Siguntang 
berkapasitas lebih dari 2.000 orang di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. 

Kamis, Presiden juga meresmikan pengoperasian PT Pusaka Benjina Resourches dan 
gedung Fakultas MIPA Universitas Pattimura, Ambon. (inu/ang

Kirim email ke