Refleksi: Angka statistik adalah wajah negara, angka-angka ini dapat 
dimanipulasikan untuk memperindah wajah keseahatan tubuh negara yang sakit. 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/28/opi01.html

Independensi dan Akurasi Data BPS
Oleh
Salman Darajat



Integritas Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga pengukur dan penghasil 
data utama di Indonesia kembali dipertanyakan. Institusi ini ditengarai banyak 
membuat kejanggalan dalam perhitungan maupun presentasi data. Hal ini terungkap 
dalam pertemuan sejumlah ekonom Tim Indonesia Bangkit (TIB) dengan Komisi XI 
DPR, akhir bulan lalu. Menurut TIB, kredibilitas angka statistik dari BPS yang 
meragukan tercermin dari pengukuran inflasi yang tidak akurat. Ini terlihat 
dari kontradiksi antara data inflasi yang dilaporkan BPS dengan fakta kenaikan 
harga kebutuhan pokok di lapangan. Misalnya beras. Di mana pada periode 
Januari-Maret 2007 harga eceran beras medium meningkat 8,3 persen, namun 
inflasi yang tercatat oleh BPS hanya 1,9 persen.


Pengumuman BPS tentang angka pengangguran yang menurun pun dinilai janggal. 
Seperti, peningkatan drastis pada rasio penciptaan lapangan kerja terhadap 
angka pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga terkait peningkatan drastis pada 
pekerja informal sektor pertanian. Untuk memperkecil angka pengangguran, BPS 
menambahkan de-finisi pekerja walaupun tidak digaji atau pendapatannya tidak 
mencukupi kebutuhan dasarnya. 


Pekerja keluarga yang membantu suatu usaha, asalkan dalam seminggu minimal 
membantu selama satu jam, maka mereka dikategorikan sebagai pekerja, walaupun 
mereka tidak dibayar. Saat ini, tidak ada satu negara pun, khususnya di ASEAN, 
selain di Indonesia yang menggunakan definisi cukup minimal bekerja satu jam 
dalam seminggu sudah dianggap sebagai pekerja. Negara lain umumnya telah 
menggunakan ukuran minimal 15 jam seminggu untuk dianggap sebagai pekerja. 


Berbagai kejanggalan dan ketidakakuratan data tersebut sangat ber-bahaya. 
Kesulitan ekonomi rakyat seperti kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok, 
tingkat pengangguran, dan kemiskinan terus "direkayasa". Masalah kemiskinan dan 
pengangguran justru diselesaikan lewat rekayasa statistik, bukan dengan program 
ekonomi yang pro-rakyat dan pro-lapangan kerja.

Tidak Independen dan Kredibel


Tak sedikit kalangan menilai BPS saat ini belum memenuhi kriteria independen 
dan kredibel. Setidaknya ini tercermin dari keharusan BPS berkoordinasi dengan 
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Padahal menurut Undang-Undang 
No. 16/1997 tentang Statistik, BPS dinyatakan akan bertanggung jawab langsung 
kepada presiden. Akan tetapi, pada 2005 lalu pemerintah mengeluarkan Peraturan 
Presiden (Perpres) No. 11/2005 yang menyebutkan bahwa dalam menjalankan 
tugasnya, BPS akan dikoordinasikan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan 
Nasional.


Perpres inilah yang dinilai telah menjadi alat kendali atas indipendensi BPS 
dan membuka peluang pemerintah untuk mengintervensi data dan metodologi 
pengukuran data oleh BPS. Selama dua tahun terakhir, BPS bahkan harus 
mengonsultasikan enam indikator utama ekonomi dengan sejumlah menteri bidang 
ekonomi, sebelum diumumkan ke publik. Keenam indikator tersebut adalah: 
pertumbuhan ekonomi, pengangguran, kemiskinan, inflasi, perdagangan 
internasional, dan ekspor-impor. 


Sesungguhnya sejak lama kita lemah dalam urusan administrasi kependudukan. 
Tengok bagaimana BPS tergopoh-gopoh mengumpulkan dan memverifikasi data 
penduduk miskin dari seluruh daerah saat program Bantuan Langsung Tunai (BLT) 
hendak diluncurkan. Artinya, kita tidak memiliki data kependudukan yang valid 
dan dapat dipertanggungjawabkan, yang menjadi data resmi nasional, serta acuan 
setiap program pemerintah. 


Pejabat negara kita terlalu terbiasa bertindak manipulatif. Bahkan untuk urusan 
rakyat miskin pun, data yang berbeda akan tersaji untuk melayani kepentingan 
yang berbeda pula. Lihat saja perilaku kepala daerah yang tega menyembunyikan 
kemiskinan di wilayahnya, apabila data yang diminta dimaksudkan sebagai 
pemeringkatan status kemiskinan. Mereka tidak ingin wilayahnya dianggap 
tertinggal, dan kepemimpinannya dinilai gagal. 
Namun sebaliknya, bila data itu dimaksudkan untuk menghitung dana bantuan 
kemiskinan yang akan diberikan pemerintah pusat, tak jarang ada daerah yang 
sengaja membengkakkan jumlah penduduk miskin. Di sisi lain, BPS selaku lembaga 
resmi yang dipercaya mencatat segala rupa data kependudukan dan perekonomian di 
negeri ini, kini justru dipertanyakan kredibilitas dan independensinya. 

Sesuai Kepentingan 


Alhasil, BPS dianggap sebagai subordinasi dari Pemerintah, yang hanya memasok 
data sesuai kepentingan Pemerintah. Kondisi tersebut mencerminkan kerumitan 
administrasi di pemerintahan. Akibatnya, tak sekadar menyulut polemik 
berkepanjangan. Namun, hal itu bisa menyebabkan formulasi program pemerintah 
tidak realistis sesuai kehidupan masyarakat, sehingga program menjadi tak tepat 
sasaran. 


Padahal, salah satu pilar penting untuk membangun bangsa ini menjadi sejajar, 
bahkan unggul dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia adalah 
ketersediaan data yang akurat bagi perencanaan pembangunan. Ketika proses 
pengumpulan dan pengolahan data menjadi tidak independen, perencanaan 
pembangunan akan menjadi tidak tepat sasaran dan cenderung menguntungkan 
pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, BPS sebagai institusi penyedia data 
utama di Indonesia semestinya memposisikan diri tidak sebagai alat dan pemuas 
kekuasaan. Data yang disajikan harus senantiasa berusaha memotret fenomena riil 
yang berkembang di masyarakat. Ketersediaan data yang baik dan tentu up to date 
akan membuat arah pemerintahan pun menjadi baik lantaran didasarkan pada 
kondisi riil masyarakat. 


Berangkat dari kenyataan tersebut, kejujuran adalah modal yang utama. Melalui 
kejujuran, data yang dikumpulkan dan disajikan tidak menjadi bias. Kebijakan 
pembangunan pun bisa disusun lebih terarah. Pemerintah pun harus bersikap jujur 
dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat, dan berlapang dada mengungkapnya. 


Kredibilitas dibutuhkan agar data yang dikeluarkan BPS benar-benar akurat dalam 
menggambarkan kondisi Indonesia yang sebenarnya. Sementara independensi 
dibutuhkan untuk memastikan data yang dihasilkan BPS bukanlah merupakan hasil 
dari intervensi kalangan tertentu. 


Dan jika BPS ingin menjadi institusi negara yang dianggap kredibel, maka harus 
terbuka terhadap masukan dari berbagai pihak. BPS ini basis data. Dan kita akan 
mengolah dan mengobservasi data-data terkait kondisi objektif keadaan ekonomi 
nasional. Ketersediaan data yang akurat merupakan sesuatu yang vital, karena 
tidak hanya menyangkut nasib orang per orang, tapi menyangkut nasib 225 juta 
rakyat Indonesia. 

Penulis adalah alumnus IPB, bekerja di Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan 
Pertanian dan Kehutanan Aceh Timur.

Kirim email ke