http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/28/sh04.html
Hadiah "Purtol" untuk Presiden Oleh Dina Sasti Damayanti SURABAYA - Ada berbagai cara untuk memberikan cinderamata buat Presiden dan Ibu Negara. Selasa (26/6) sejumlah ibu korban luapan lumpur Lapindo menyerahkan souvenir unik: Lumpur Lapindo atau disebut Purtol alias lumpur dalam botol. Sekilas tak ada yang menyadari kalau cairan yang ditaruh dalam botol kecil dan botol besar itu adalah lumpur. Apalagi botol itu dipercantik dengan hiasan bunga dan pita merah, dimasukkan dalam kemasan plastik. Setelah diperhatikan lebih seksama, cairan dalam botol itu adalah lumpur berwarna hitam keabuan yang terlihat mengendap dengan lapisan air di atasnya. "Ini souvenir untuk Ibu Negara dan Presiden," sahut Siamatul Lutfia, salah seorang ibu korban Lumpur Lapindo yang diundang untuk berdialog dengan Ibu Negara Ani Yudhoyono, di Wisma Perwira Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut Juanda, Jawa Timur, Selasa (26/6) siang. Wajah sepuluh ibu-ibu korban lumpur Lapindo bertambah sumringah ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang baru tiba di Wisma Perwira usai memantau wilayah Porong, Sidoarjo, melalui udara, tiba-tiba ikut menemui mereka. Kontan para ibu itu saling bergantian mencium tangan Presiden. Mereka ada yang tertawa bahagia dan ada pula yang menangis terharu. Presiden tak kalah bahagianya ketika menerima souvenir istimewa itu. Di akhir acara, para ibu mendapat bantuan dana dari Presiden dan Ibu Negara, masing-masing Rp 2 juta. Bantuan diberikan untuk meringankan beban ibu-ibu yang memerlukan dana untuk menyekolahkan anak atau modal menyambung hidup. Lutfia asal Desa Kedungbendo merupakan salah satu ibu yang terpaksa harus mencari tambahan nafkah dengan membuat souvenir Purtol. Ibu dua anak itu merasa dana jadup (jaminan hidup) yang diterimanya Rp 300.000 setiap bulan, tidak cukup untuk menyambung hidup. Oleh karena itu, sejak satu bulan lalu bersama ibu-ibu lainnya yang tergabung dalam PKK Pemkab Sidoarjo, Lutfia membuat Purtol untuk dijual. Purtol dalam botol kecil dijual Rp 25.000, sedangkan Purtol botol besar dijual Rp 50.000. Hasilnya lumayan. Purtol ini setidaknya sudah laku 100 botol lebih dan dijual ke sejumlah kota seperti Surabaya, Jakarta dan menyusul Denpasar. "Memang belum sepenuhnya mencukupi. Ini baru tahapan dari nol lagi. Sekadar menambah uang makan," jelas Lutfia. Tidak hanya membuat Purtol, banyak cara yang dilakukan ibu-ibu korban lumpur Lapindo untuk bertahan hidup. Sri Mulyati asal Desa Renokenongo, misalnya, mencari tambahan nafkah dengan membuat kerupuk dari nasi basi yang dikumpulkannya dari sisa nasi jatah makan para pengungsi. "Daripada nganggur. Alhamdullilah laku. Saya titipkan ke warung-warung," kata Sri yang menjual kerupuk nasinya Rp 6.000 per kilonya. PKK Jawa Timur Apa yang dilakukan para ibu korban Lapindo ini, tidak lepas dari arahan dan pelatihan yang diberikan oleh PKK Jawa Timur yang dimotori oleh Emi Win Hendrarso, istri Bupati Sidoarjo yang wilayahnya terendam lumpur panas. Kelompok PKK ini memberikan pelatihan sesuai dengan keinginan para ibu, misalnya memasak atau merias wajah. Selain itu, mereka juga diberikan bantuan dana yang merupakan hibah dari UNDP. Dari total 1.000 ibu yang mendapat kontrakan rumah, baru 300 orang yang menerima bantuan modal. Ini untuk membangkitkan semangat mereka, sebagai modal untuk mencari pekerjaan. "Bukan ikan yang kami berikan tapi kailnya," ungkap Emi. Saat bertemu Ibu Negara, banyak hal yang mereka utarakan. Mulai dari keluh kesah mereka menyambung hidup kemudian tertimpa musibah lumpur Lapindo, keinginan untuk segera mendapatkan 20 persen ganti rugi, hingga keluh-kesah seorang ibu yang mengharapkan anak bungsunya bisa masuk Akademi Militer secara gratis. Wenindum, misalnya, sangat mengharapkan pemerintah bisa memberi bantuan secepatnya, misalnya bantuan modal untuk membuka usaha. Kebetulan Wenindum sebelum terkena musibah lumpur bekerja sebagai pemotong rambut, perias wajah dan membuat aksesoris, sementara suaminya memiliki wartel. Kini usahanya hancur terkena Lumpur, bersama suami dan seorang anaknya mereka hidup di rumah kontrakan sambil berjualan produk rambut. "Di kontrakan tidak betah. Kalau sudah punya tempat sendiri mau buat apapun bisa," ujarnya. Mendengar kisah pilu para ibu ini, Ibu Negara menyatakan ikut prihatin dan membesarkan hati mereka agar sabar menghadapi musibah ini. "Saya sekali lagi ikut prihatin dan berterima kasih karena dalam kondisi ini ibu-ibu tidak berputus asa dapat mengangkat kehidupan atau memperbaiki kehidupan yang porak poranda. Tolong dalam hati ibu yakin bahwa Presiden dalam pemerintahan atau menterinya selalu berpikir mengatasi masalah yang dihadapi ibu bapak saat ini," pesan Ibu Negara. Agaknya memang masih banyak yang perlu dilakukan pemerintah dalam membantu para korban lumpur Lapindo ini. Seperti diungkapkan Emi Win Hendrarso. Walaupun para ibu ini sudah berusaha berwiraswasta membuat kerajinan atau penganan untuk dijual, seperti Purtol, masih ada kendala yang dihadapi. Yaitu cara memasarkan produk, terbatasnya bantuan dana untuk modal mereka yakni dari 1.000 ibu, baru 300 yang mendapat Rp 500.000. Selain itu harus dicari jalan keluar bagi mereka yang kebingungan menghadapi berakhirnya masa dua tahun kontrak rumah.
