Pengalaman saya dalan menempuh pendidikan tinggi membuat hati dan pikiran saya
tegelitik untuk menulis tentang biaya pendidikan dan sistim pendidikan di
Indonesia makin TIDAK KARUAN DAN TIDAK MASUK AKAL.
Seperti yang kita ketahui bahwa biaya pendidikan di Indonesia sangatlah susah
terjangkau oleh banyak kalangan,tidak terkecuali saya. Keinginan memperoleh
pendidikan tinggi dan layak bagai mencari Berlian kecil di tengan padang pasir,
begitu sulit dan seperti tidak mungkin tercapai oleh saya.
Akhirnya setelah lulus SMU saya memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu dan
berusaha mengumpulkan sejumlah uang buat melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi.
Saat ini banyak perguruan tinggi yang membuka kelas untuk karyawan atau lebih
sering di sebut program extention atau kelas executive atau kelas karyawan.
Tapi program itu lebih sering dilakukan malam hari, sedangkan saya sering
lembur dan pulang dari kantor pasti diatas jam 20.00.
Akhirnya saya mendapatkan EMAIL promosi dari sebuah perguruan tinggi swasta
di daerah Meruya yang membuka program kuliah yang dilaksanakan di hari sabtu
dan minggu.(Ini bukan Promosi sbuah program pendidikan di salah satu perguruan
tinggi)
Sayapun dengan semangan 45 mendaftarkan diri dan akhirnya saya tercatat
sebagai mahasiswa program tersebut, dan saat ini saya sudah semester 6.
Sistem Pendidikan yang di jalankan pada perguruan tinggi tersebut sangatlah
ketat, ABSEN aja kalau lebih dari 3X sudah mendapatkan nilai E di tangan, tugas
bejibun, UTS maupun UAS pun penilaiannya sangat obyektif.
Tapi akhir-akhir ini program pendidikan tersebut menjadi pembicaraan banyak
kalangan khususnya di bidang Pendidikan, Apalagi di jajaran DIKTI. Menurut
informasi yang saya terima PEMERINTAH melalui DIKTI Tidak mengakui program
kuliah yang di lakukan di hari sabtu dan minggu.
Yang jadi pertanyaan saya kenapa yah sulit sekali untuk memperoleh pendidikan
tinggi di Indonesia ini?? Apa siy yang jadi masalah jika ada perguruan Tinggi
yang membuka kelas di hari sabtu dan minggu??
Padahal hari sabtu dan minggu tersebut sangatkah efektif untuk menempuh
pendidikan bagi pekerja yang bekerja dari hari senin-jumat.
Terus terang kalau kuliah malam hari saya tidak bisa konsentrasi karena sudah
capek bekerja, belum lagi kalau ada masalah di kantor, trus ngantuk. Tapi kalau
sabtu dan minggu pastinya saya sudah cukup tidur dan berangkat pagi hari untuk
kuliah bisa lebih fresh dan materi yang di sampaikan oleh dosen bisa terserap
dengan baik.
Saat ini DIKTI mempertanyakan efektifitas dari program tersebut, dan saya
sungguh tidak mengerti kenapa hal ini jadi permasalahan??
Bukankah saya dan teman-teman berhak memilih cara dan waktu untuk memperoleh
pendidikan yang lebih baik dan ada perguruan tinggi yang memfasilitasi saya.
Sungguh IRONI ....di satu sisi banyak di gembar gemborkan program pendidikan
di berbagai bidang dan jenjang, eh disisi lain dilarang-larang untuk menempuh
pendidikan.
Wahai Jajaran DIKTI dan PEMERINTAH yangs edang berkuasa...Cobalah Melek mata,
Fikiran, dan Hati Nurani, Jika ada anak bangsa yang ingin Pintar, pandai dan
ingin maju apakah harus di tutup pintu untuk menuju kesana????
Apakah PARA PETINGGI BANGSA dan WAKIL RAKYAT bisa lebih PEKA terhadap
anak-anak negri ini yang menginginkan pendidikan lebih tinggi??
Kenapa Pemerintah/DIKTI tidak mau melakukan investigasi langsung ke perguruan
tinggi tersebut untuk melihat kinerja /sistim belajar mengajar di sejumlah
perguruan tinggi yang membuka program kelas karyawan??
Ada yang bisa menjawab dan membantu untuk memecahkan persoalan ini???
Entahlah...
Wassalam
[EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.