Tulisan ini juga disajikan dalam website

http://perso.club-internet.fr/kontak)



Catatan A. Umar Said



Apa arti “koalisi” antara

Golkar dan PDI-P ?



“Silaturahmi nasional Partai Golkar dan PDI-P” yang diadakan di Medan pada
tanggal 20 Juni 2007, yang menurut berita-berita pers  disebutkan sebagai
langkah akan tergalangnya koalisi jangka panjang antara kedua partai
tersebut menarik perhatian banyak orang, tetapi juga mengejutkan atau
membingungkan banyak kalangan. Bahkan, mungkin juga,  ada berbagai kalangan
yang mengkuatirkannya atau sangat memprihatinkannya .



Hal yang demikian itu adalah wajar sekali. Sebab, walaupun  berita-berita
tersebut belum tentu mengandung kebenaran akan terjadinya koalisi
sesungguhnya, maka sudah  merupakan persoalan  yang banyak dibicarakan oleh
berbagai kalangan  politik di Indonesia.



Karena, kemungkinan, adanya koalisi  Partai Golkar dan PDI-P ini akan
menimbulkan dampak yang besar  bagi baik-buruknya negara dan bangsa kita
pada dewasa ini (dan di kemudian hari).  Sebab itu, seyogianyalah masalah
ini  -- sejak sekarang -- menjadi topik kajian bagi berbagai golongan dan
kalangan, yang terdiri dari aktivis berbagai partai, aktivis ornop atau LSM,
para intelektual di semua bidang, pimpinan organisasi massa (buruh, tani,
pemuda, mahasiswa), tokoh-tokoh berbagai agama, pegawai-pegawai negeri, dan
pengusaha. Singkatnya, makin banyak orang yang mempersoalkan pro dan
kontra-nya, akan makin bergunalah untuk kepentingan rakyat kita, baik yang
generasi sekarang maupun yang akan datang.



Sebab, kalau kita simak berita berbagai suratkabar mengenai perkembangan
tersebut, maka nampaklah bahwa memang banyak sekali hal-hal yang perlu kita
telaah dalam-dalam, atau banyak soal-soal serius yang bisa kita coba
pertimbangkan dengan pandangan sejauh mungkin dan wawasan seluas mungkin.
Untuk bisa sama-sama dihayati oleh kita semua, berikut ini adalah cuplikan
dari berita-berita tersebut:



Menurut harian Kompas 21 Juni 2007 :  “ Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI-P
Taufik Kiemas mengatakan, pertemuan itu dirancang selama hampir dua tahun.
“Jika dijinjing berdua, rasanya lebih ringan dibanding dibawa sendiri”,
katanya



“ Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh menambahkan, silaturahmi
ini bukan hanya menuju Pëmilu 2009, tetapi lebih panjang lagi, hingga dua
atau tiga generasi. “Mulai hari ini antara Partai Golkar dan PDI-P terjadi
kesepakatan saling asah, asuh, dan asih”, katanya.



“ Surya mengatakan, jatuh bangunnya bangsa ini tidak terlepas dari
tanggungjawab bersama Golkar dan PDI-P. Pengalaman empiris menunjukkan
keberlangsungan negara membutuhkan keadaan yang stabil. Indonesia punya
pengalaman tahun 1967 hingga 1998, saat ada kestabilan politik, pembangunan
bisa berlangsung meski kurang memberi ruang bagi demokrasi.Demokrasi bukan
tujuan, melainkan sekadar cara untuk mencapai kesejahteraan rakyat.
“Demokrasi tak ada gunanya jika tidak ada kesejahteraan”, katanya.



“ Surya menegaskan Golkar dan PDI-P merasa ikut bertanggungjawab atas maju
mundurnya pembangunan  bangsa ini. “Langkah konkret kami, koalisi. Tetapi,
itu belum dilakukan”, katanya. (kutipan dari Kompas selesai).



Sedangkan menurut Suara Merdeka (21 Juni 07 juga) Surya mengatakan bahwa
Partai Golkar dan PDI-P harus mampu berperan serupa demi kepentingan
pembangunan dan masa depan bangsa dan negara. Ia mengakui bahwa Indonesia
merupakan negara  multipartai. Namun demikian konsep multipartai itu
terbukti telah membuat bangsa ini jatuh bangun. Dia mencatat sudah 18 kali
pemerintahan jatuh-bangun dengan konsep multipartai. “Bahkan itu pula
kiranya yang menjadi alasan kenapa presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit
Presiden 5 Juli”, katanya.



Pada bagian lain ia juga mengungkapkan era reformasi unik, di mana setiap
orang memiliki kebebasan yang nyaris tanpa batas, baik untuk berbicara,
bereaksi, menulis  maupun berbuat apa saja yang diinginkan. Namun demikian
ia mengingatkan sudah terjadi empat kali pergantian kepala negara selama era
reformasi yang semua menunjukkan ketidakstabilan politik di negara ini.



Taufik Kiemas menyatakan Partai Golkar dan PDI-P menargetkan perolehan suara
hingga 60 persen pada Pemilu 2009. Menurut suami mantan  presiden Megawati
Sukarnoputri itu, setelah target raihan suara itu tercapai baru kemudian
akan menentukan siapa yang akan jadi presiden pada pilpres. “Jika kita sudah
menang pemilu, baru kita akan tentukan siapa presidennya. Bisa dari Golkar
dan bisa juga dari PDI-P”, tambahnya (kutipan dari Suara Merdeka selesai).



Menurut Suara Pembaruan (22 Juni 2007), Partai Golkar dan PDI-P sepakat
membangun Aliansi Nasionalis Kebangsaan. Kebersamaan dua partai besar itu
sudah terlihat sejak Surya dan Taufiq tiba di Bandara Polonia, Medan. Surya
dikalungi bunga oleh kader PDI-P, dan Taufiq mendapat kalungan bunga dari
kader Golkar. Di setiap sudut kota tampak bendera kuning Partai Golkar
dikibarkan berdampingan dengan bendera merah PDI-P.



Spanduk ucapan selamat datang disertai foto Surya dan Taufiq juga dipasang
di sejumlah lokasi strategis. Tidak ketinggalan terpampang pula foto Ketua
Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dan Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri.



Menurut Tempo Interaktif (24 Juni 2007), Taufik Kiemas menyatakan bahwa
antara PDI-P dan Partai Golkar memiliki kesamaan ideologi. Sehingga sangat
wajar jika di antara keduanya bergabung membentuk koalisi untuk membangun
bangsa. Kiemas sendiri mengungkapkan bahwa pertemuan yang dilakukan dirinya
dengan Surya Paloh di Medan bukanlah pertemuan antara individu. Namun
merupakan pertemuan antara lembaga politik yaitu antara PDI-P dan Partai
Golkar.



Kiemas mengungkapkan  bahwa pihaknya akan segera memanggil ketua DPD dan DPC
PDI-P di seluruh Indonesia  untuk menindaklanjuti hasil pertemuan di Medan.
“Akan kami panggil mereka, dan mereka berkewajiban untuk mensosialisasikan
dan menindaklanjutinya di daerah masing-masing”..



Persamaan ideologi antara PDI-P dan Golkar ?



Seperti yang bisa  kita simak dari berita-berita tersebut di atas,  memang
banyak hal penting yang patut menjadi perhatian kita dan juga perlu
dipertanyakan. Umpamanya :  ketika digambarkan oleh Taufik Kiemas dan Surya
Paloh bahwa ada persamaan ideologi antara Golkar dan PDI-P. Menyatakan bahwa
antara kedua partai ada kesamaan ideologi ini berarti bahwa melupakan fakta
sejarah bahwa Golkar telah didirikan oleh tokoh-tokoh Angkatan Darat sebelum
peristiwa G30S untuk menentang politik Presiden Sukarno dan mengimbangi PKI,
yang merupakan gabungan kekuatan besar anti-imperialis (terutama As).



Sedangkan selama 32 tahun Orde Baru, Golkar merupakan tulang-punggung yang
luar biasa kuatnya dan besarnya, dan sekaligus alat yang maha ampuh, dalam
mendukung diktatur militer yang telah melakukan banyak kejahatan/pelanggaran
HAM, mempraktekkan pencekekan kehidupan demokratis selama puluhan tahun,
melakukan korupsi dan nepotisme, merusak moral bangsa, dan melemahkan dan
membusukkan semangat pengabdian kepada rakyat dan bangsa.



Bahwa, secara luarnya (!), antara kedua partai (Golkar dan PDI-P) terdapat
sejumlah persamaan-persamaan tertentu adalah masuk akal atau, bahkan,
wajar-wajar saja. Umpamanya saja, bahwa  kedua belah fihak sudah sama-sama
menyatakan :



“menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia dengan mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mempertahankan Pancasila sebagai
ideologi Negara Republik Indonesia. mempertahankan Undang-undang Dasar RI
1945. dan mempertahankan Bhinneka Tunggal Ika dengan menjaga pluralisme”.



Tetapi, banyak sekali di antara kita yang ingat dan mencatat bahwa mengenai
Pancasila, umpamanya, Golkar selama Orde Baru telah ikut-ikut pimpinan
TNI-AD secara aktif memalsu isi atau  merusak jiwa Pancasila, dan bahkan
mengkhianati penciptanya, yaitu Bung Karno. Orde Baru secara terus-menerus,
dan dengan lantang pula, telah menggembar-gemborkan Pancasila yang sudah di”
vermaak”. Dalam prakteknya yang selama 32 tahun, nyatanya Pancasila telah
dilecehkan atau diinjak-injak, juga oleh Golkar pula.



Mengenai Bhinneka Tunggal Ika dan menjaga pluralisme, Golkar juga selama
puluhan tahun sudah menunjukkan dan mempraktekkan  -- dengan cara-cara yang
tidak demokratis pula -- politik yang telah mendominasi kekuasaan secara
mutlak dan menguasai seluruh kehidupan politik (ingat : sekitar 70 % suara
pemilu dan juga sekitar  dua pertiga kursi parlemen dikuasai Golkar) dan
tidak membolehkan berkembangnya kekuatan kiri (apalagi kekuatan golongan
komunis).



Karenanya, sudah pastilah bahwa banyak di antara pendukung politik Bung
Karno, atau para anggota keluarga korban peristiwa 65,  atau juga para
simpatisan PDI-P,  yang tidak bisa mengerti kalau dinyatakan adanya
kesepakatan antara Golkar dan PDI-P untuk membangun Aliansi Nasionalis, atau
“silaturahmi”,  yang bahkan menjangkau dua sampai tiga generasi yang akan
datang.



Sejarah munculnya PDI-P


Sebab, pastilah banyak orang ingat bahwa PDI-P dilahirkan justru sebagai
manifestasi perlawanan terhadap Orde Baru (yang intinya adalah TNI-AD dan
Golkar), yang dipersonifikasikan waktu itu oleh sosok Megawati.  Karenanya,
banyak dari anggota-anggota keluarga orang-orang yang mendukung politik Bung
Karno --  baik yang nasionalis, komunis atau yang dari kalangan agama – yang
menaruh simpati kepada  PDI-P hanya karena melihat sosok Megawati
Sukarnoputri.



Boleh dikatakan bahwa sebagian terbesar para korban peristiwa 65, dan
sebagian terbesar eks-tapol, beserta  kalangan-kalangan luas lainnya yang
anti-Orde Baru, adalah – tadinya -- pendukung atau simpatisan PDI-P. Dengan
adanya berita-berita tentang adanya koalisi atau aliansi, atau “pendekatan”
dengan Partai Golkar, maka mudah diperkirakan adanya kekecewaan  (dan
kebingungan) yang besar sekali di kalangan mereka ini. Sebab, dengan
perkembangan yang begini ini, maka banyak orang menganggap bahwa PDI-P sudah
tidak lagi bisa dijadikan penyalur aspirasi perlawanan berbagai golongan
terhadap sisa-sisa Orde Baru. Banyak orang yang kuatir juga bahwa dengan
“koalisi” ini PDI-P terikat sekali dan menjadi tidak bebas untuk
mempersoalkan kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukan Orde Baru.



Padahal, mempersoalkan kesalahan atau kejahatan Orde Baru adalah mutlak
perlu sekali, untuk bisa mengadakan pembetulan atau menjalankan reformasi,
demi kebaikan bangsa dan negara.  Dan perlu sekalilah  kiranya kita ingat
bahwa berbagai golongan yang dirugikan oleh kesalahan atau kejahatan rejim
militer Orde Baru adalah besar dan luas sekali. Mereka ini terdiri dari
semua suku, semua agama, semua kalangan, dan semua bidang pekerjaan serta
kehidupan. Berbagai macam akibat dari kesalahan dan kejahatan rejim
militernya Suharto dkk ini sampai sekarang masih nampak nyata secara jelas
dan luas sekali.



Memang, tentunya, ada berbagai alasan atau latar-belakang bagi kedua belah
fihak untuk mengadakan koalisi antara Golkar dan PDI-P ini. Dan juga ada
berbagai pandangan atau analisa mengenai kemungkinan adanya pendekatan atau
kesepakatan antara kedua partai  tersebut. Sebagian orang  hanya melihat
adanya kepentingan untuk menghadapi pemilu dan pemilihan presiden dalam
2009.  Ada yang mentafsirkan sebagai usaha untuk mencegah terpilihnya
kembali SBY sekali lagi. Tetapi ada juga yang menduga bahwa ini adalah untuk
mencegah golongan-golongan Islam tertentu menguasai sepenuhnya kekuasaan
negara, dan juga mencegah adanya bahaya separatisme serta menjaga
kelangsungan Negara Kesatuan RI.



Golkar sebagai bagian utama Orde Baru


Apapun latar belakang atau pertimbangan-pertimbangan yang mungkin terdapat
di belakang gagasan untuk mengadakan koalisi ini, satu hal yang harus
diamati dengan waspada oleh kita semua ialah hilangnya kemandirian PDI-P dan
berobahnya partai yang (tadinya atau awalnya) didambakan sebagai pengemban
hati nurani para penentang rejim militer Orde Baru  menjadi sekutu atau
“tawanan”  dari Golkar. Sebab, perlu diingat bahwa sejarah bangsa kita sudah
mencatat Golkar sebagai sebuah partai yang menjadi bagian yang utama dari
rejim diktatorial yang sudah dinajiskan oleh sebagian terbesar rakyat kita.
Dan banyak  bukti atau indikasi yang menunjukkan bahwa Partai Golkar yang
sekarang adalah pada pokoknya, atau pada dasarnya, masih Golkar yang
dulu-dulu juga.



Selama Golkar tidak mau terang-terangan dan belum berani secara tulus
mengakui kesalahan-kesalahannya yang besar sekali dan dosanya yang banyak
sekali (!!!)  ketika menjadi tulang-punggung Orde Baru, maka banyak orang
akan memandang  tidak pantaslah baginya untuk menjalin koalisi dengan
PDIP-P. Kiranya, kalau Golkar sudah terang-terangan  -- dan dengan tulus
pula --menyatakan putus segala macam hubungannya secara politik dan moral
dengan Orde Baru beserta sisa-sisanya, maka barulah banyak orang bisa
melihat dengan lega hati kepada terjalinnya koalisi dengan PDI-P.



Sebab, kalau melihat komposisi atau perimbangan kekuatan politik di
Indonesia dewasa ini, maka kelihatan bahwa Golkar dan PDI-P memang menduduki
posisi yang penting (Golkar punya 128 kursi di DPR, dan PDI-P 109 kursi, PPP
58, Partai Demokrat 57, PKB 52, PAN 52). Berdasarkan  angka-angka itu, kalau
terjadi koalisi antara Golkar dan PDI-P, maka kemungkinan sekali bahwa kedua
partai tersebut  akan bisa menguasai lebih dari 50% kursi di DPR.



Citra dan kewibawaan PDI-P



Jadi, dalam menjalin pendekatan dengan Golkar, kiranya banyak orang
mengharapkan bahwa PDI-P tidak takut-takut  untuk menyatakan terang-terangan
perlawanannya terhadap sisa-sisa Orde Baru, berani menyuarakan aspirasi
politik para pendukung Bung Karno yang anti-imperialis, dan bersedia
bekerjasama atau bahkan membantu macam-macam gerakan atau golongan yang
berjuang melawan neo-liberalisme dan globalisasi.



Kiranya, sejarah bangsa kita akan membuktikan di kemudian hari bahwa
besarnya kewibawaan  PDI-P justru terletak pada kesetiaannya mengabdi
(dengan sungguh-sungguh dan tulus !) kepada kepentingan rakyat Indonesia,
yang sebagian terbesar masih miskin dan menderita. Juga, generasi kita, yang
sekarang dan di kemudian hari, akan melihat keluhuran citra PDI-P pada
keberpihakannya kepada golongan kiri atau yang betul-betul  (!!!) menjunjung
tinggi dan mempraktekkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.



Sebaliknya, PDI-P akan jatuh merosot di mata banyak orang dan kewibawaannya
akan anjlog, kalau dalam pendekatan dengan Partai Golkar, partainya Megawati
ini kehilangan kebebasannya untuk benar-benar menjalankan politik yang
betul-betul mandiri dalam memperjuangkan kepentingan  rakyat banyak.
Kebesaran PDI-P bisa dilihat oleh banyak orang dengan jelas   hanya kalau
partai ini dengan berani dan  gigih  memperjuangkan reformasi terhadap
segala keburukan dan kebusukan di segala bidang yang diakibatkan oleh Orde
Baru.  Bukan sebaliknya !!!



















No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.9.14/880 - Release Date: 29/06/2007
14:15

Kirim email ke