-----
17 Januari 2006.
--- In [EMAIL PROTECTED], hendra
indersyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bagaikan bersastra, saya menulis buku "Seputar
Amandemen 1999-2002 UUD 1945" - kira-kira sejak
setahun silam - antara lain sbb.:
Dari samar-samar lalu diperjelas, dan aslinya kompleks
lalu dirumuskan-disederhanakan aneka bentuk :
kapitalisme, sosialisme, ... dan permasalahan
keseluruhan fenomena manusia - dan ekonominya
misalnya, tetap saja kompleks. Bahkan istilah
'demokrasi' pun diperebutkan -dari khazanah ilmu
pengetahuan dunia- dalam konstelasi politik
internasional pra dan pasca Perang Dunia II.
Dan kini saya sedang intip-intip buku 'MEMPERKUAT
NEGARA; Tata Pemerintahan dan Tata Dunia Abad 21'-nya
Fukuyama (2005).
"... disebut sebagai negara totaliter, yang mencoba
menghapuskan keseluruhan masyarakat sipil dan
mensubordinasikan individu-individu yang teratomisasi
pada tujuan-tujuan politiknya sendiri. Versi sayap
kanan eksprimen ini berakhir pada 1945 dengan kalahnya
Nazi Jerman, sementara versi sayap kiri eksprimen ini
ambruk karena beban kontradiksi-kontradiksinya sendiri
dengan runtuhnya Tembok Berlin pada 1989".
Di tahun-tahun 1980-an, ketika asik mencoba memahami
Marxisme-Leninisme - tapi ya secara 'sporadis' saja
dari media massa serta kamus dan semacam itu - saya
langsung dapat menyimpulkan bahwa 'versi sayap kiri
(maupun versi sayap kanan) eksprimen negara totaliter
itu, adalah bagaikan mengalirkan air ke atas,
membutuhkan energi.
Buku "Memperkuat Negara" Fukuyama lagi:
"Politik 1980-an dan 1990-an dicirikan oleh
berpengaruhnya kembali gagasan-gagasan liberal di
banyak negara maju...".
"... setelah apa yang oleh Huntington (1991) disebut
sebagai 'gelombang ketiga' demokratisasi".
"...menekankan serangkaian langkah yang dimaksudkan
untuk mengurangi derajat campur tangan negara dalam
persoalan-persoalan ekonomi - sebuah paket yang
disebut ...... atau sebagai 'neoliberalisme' oleh para
pengutuknya di Amerika Latin".
Cukup pelik. Maka ada baiknya kita selalu berdo'a,
setelah jelas Ekonomi Perencanaan Terpusat mengalami
kebangkrutan lebih cepat dari pada Ekonomi Pasar yang
justru ingin dikoreksinya, "semoga SEP akan terbukti
dengan baik sebagai suatu bentuk Ekonomi Pasar yang
asli dan cocok bagi bangsa Indonesia".
Saya masih terus mencoba mewujudkan edisi indie label
ke-6 buku "Seputar Amandemen 1999-2002 UUD 1945" saat
ini.
"... UUD 1945 dalam tafsirannya yang lebih banyak
memberikan tantangan 'rasa percaya diri, kreatifitas,
dan kemampuan menangani kedaulatan ekonomi di tangan
sendiri' bagi dan dari rakyat Indonesia
seluas-luasnya, pada posisi tertentu dalam kapitalisme
global....".
Selebihnya dan pada akhirnya tentu terserah Pemerintah
dan lembaga negara keseluruhannya serta pemimpin
lainnya rakyat Indonesia, pun untuk masalah perberasan
- misalnya.
Kira-kira seperti itu..., dan tentu senang rasanya
jika dikritisi. Dan kini saya ingin mulai serius
membaca 'Memperkuat Negara'-nya Fukuyama.
18 Januari 2006.
--- la_luta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Soal ngintip karya tulisan terakhirnya Fukuyama...haaa
mungkin menjadi interesan bilamana dibaca secara
serius. Memang perlu diakui bahwa Fukuyama dalam
karyanya banyak membahas tentang model
liberal Demokrasi dalam masyarakat kapitalisme.
Fukuyama yang dikenal oleh kalangan di Europa tidak
hanya sebagai pembawa misi Neo-Konservatif tapi
dianggap pula pembawa bencana kekerasan dalam ambisi
mensukseskan kebijakan luarnegrinya Bush. Kritiknya
terutama menyangkut pada intervensi penanganan konflik
di Afganistan dan Irak.
Seperti pula dinyatakan dalam interviuwnya oleh salah
satu wartawan majalah kristen liberal di Belanda:
"saya percaya bahwa model Demokrasi Liberal adalah
model universal yang berpotensi, tapi bukan
berarti dalam jangka pendek model tsb bisa berfungsi
secara baik.
Tentu aspek budaya dari sejarah perkembangan
perpolitikan dari sebuah negara akan bisa menghambat
jalannya fungsi model Liberal Demokrasi"
Apakah menurut anda level budaya perpolitikan negara
kita sudah masuk dalam persaratan yang Fukuyama
maksudkan?
Mudah2an uraianku di atas tidak mengganggu semangat
niat baik anda.
Mohon maƔf bilamana tidak berkenan...
Kalau baca bukunya selesai, boleh juga kesannya di
ekspresikan dalam karya tulisan.
Salam, MiRa
19 Januari 2006.
--- In [EMAIL PROTECTED], hendra
indersyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Terimakasih atas tanggapan dan pertanyaan anda. Saya
sangat berkenan, bahkan sangat senang dan mulai agak
bahagia.
Anda menanyai saya, apakah "level budaya perpolitikan
negara kita sudah masuk dalam persyaratan yang
Fukuyama maksudkan?".
Belum kaya'nya ya?. Level budaya perpolitikan kita
belum masuk dalam persyaratan yang dimaksudkan
Fukuyama untuk berfungsi dengan baik itu model
demokrasi liberal. Yang jelas, sepertinya saya
cenderung berpendapat bahwa belum ada itu budaya
liberal di negara dan masyarakat kita, sedangkan
demokrasi dalam arti pemerintahan oleh rakyat, dari
rakyat, dan untuk rakyat, ya pada dasarnya adalah
bersifat liberal, di atas suatu paradigma tertentu dan
pada dasarnya juga diwarnai oleh nilai-nilai agama
tertentu di negara tertentu (rada bingung dan
membingungkan...., entar kita pikirkan lagi).
Terus terang, hingga hari ini saya belum juga
berkesempatan mulai membaca "Memperkuat Negara",
karena satu dan lain hal. Lebih dari itu, sebelum ini
saya mengenal Francis Fukuyama dan tokoh lainnya,
dunia maupun dalam negeri, adalah serba sedikit atau
secara sepotong-sepotong, itu pun antara lain melalui
artikel-artikel tertentu di media massa. Masalah
anggapan "pembawa bencana kekerasan dalam ambisi
mensukseskan kebijakan luarnegrinya Bush' terhadap
Fukuyama (yang anda ceritakan), agaknya itu memang
sekedar sebuah anggapan, itu pun dalam maksud, saya
rasa, "pembawa tak langsung". Toh Fukuyama pun ada
mengkritik intervensi penanganan konflik di Afganistan
dan Irak itu. Bagaimana dengan Huntington, Kaplan, dan
lainnya ?.
Yang jelas, menurut hemat diri saya pun (ini murni -
sungguh, dalam buku saya Sisi Volta - edisi i.l. XI
sejak sekitar setahun silam), demokrasi itu adalah
ajaran akhir zaman. Dalam hal itu, dan bagaimanapun AS
dan negara-negara lainnya berperanan dalam penyebaran
'ajaran' tersebut, toh AS menegaskan bahwa tak ada
paksaan dalam hal itu atau bentuk demokrasi tersebut.
Dalam hal itu pula, sementara masih terjadi 'bencana
kekerasan politik' di sana-sini, dan ini tak kalah
pentingnya, adalah planet Mars kini sudah pergi
menjauh.
Dan kini saya membaca cerita anda : Fukuyama berkata,
"saya percaya bahwa model Demokrasi Liberal adalah
model universal yang berpotensi, tapi bukan berarti
dalam jangka pendek model tsb bisa berfungsi secara
baik".
Rizal Mallarangeng menulis dalam 'Pengantar' buku
"Memperkuat Negara" itu : "Fukuyama sebenarnya ingin
mempertautkan dua tradisi besar... (dst.). Kebebasan
dan kesejahteraan ekonomi tidak mungkin tercapai jika
negara tak mampu menjalankan perannya secara efektif.
Sebaliknya, negara yang kuat tanpa menjamin kebebasan
dan kesejahteraan warganya tidak akan bertahan lama".
Pertanyaan saya sementara ini (sebelum membaca utuh
Memperkuat Negara), bagaimana bentuk yang baik
kebebasan itu, umum maupun khusus (universal ?), dan
mungkinkah kontraproduktif dalam keutuhan negara
ataupun kelestarian situasi saling menghormati antar
negara?.
Dan buku "Seputar Amandemen 1999-2002 UUD 1945" sejak
setahun silam saya isikan dengan kalimat-kalimat
demokratis pula, walau mungkin sedikit klise, antara
lain sbb.:
"... demokrasi dan pemerintahan demokratis
serta kualitas rakyat dalam demokrasi itulah, dan
struktur kepemimpinan manajemen negara maupun swasta
berkembang dalam pola meritokratis dalam demokrasi -
diwarnai sana-sini oleh satu-dua maupun kombinasi
positif atau terbaik dari plutokrasi, gerontokrasi,
aristokrasi, dlsb., untuk tidak menjadi kleptokrasi,
itulah yang dapat menciptakan dinamika masyarakat dan
keharmonisannya sekaligus. Dan di situlah pentingnya
pendidikan".
Wah.. jadi asik sendiri (spontan, dan agaknya cukup
ngaco'), maka mohon dimaklumi.
Sekian dulu, besok-besok saya teruskan lagi.
-----
Tabik,
HI.
Hallo
[EMAIL PROTECTED]
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC