Anak Abu Bujana juga harus dikasih pengertian bahwa bom bom yang lalu meledak 
kalau memang benar adalah ulah bapaknya ? bahwa anak anak dari korban bom itu 
juga merasakan hal yang sama dengan dia...meskipun tidak melihat secara 
langsung tapi merasakan penderitaan yang sama karena ditinggal orang tua 
mereka...dan mereka juga melihat kejadian itu dari pemberitaan di media 
massa...juga miris...juga duka...juga kehilangan...menyedihkan kan?...jadi 
jangan pernah membela / mempertahankan suatu faham..dengan tindakan TEROR !!! 
apapun ALASANNYA....KEJAM !!! semua anak anak korban PEMBOMAN tidak juga TAHU !!
   
  salam

rahmad budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Itu praktik yang biasa

Di tayangan program kriminal televisi Anda pasi sering melihat penjahat 
berhasil ditembak polisi 
setelah mencoba usaha melarikan diri. 
Bagaimana cerita sebenarnya?
Sungguh polisi-polisi kita adalah para penembak jitu bagaikan Hunter di serial 
televisi tahun 80-an. 

Banyak penjahat yang ditangkap, lalu dibawa untuk menunjukkan di mana rumah 
teman-temannya, 
lalu di tengah jalan para penjahat itu entah bagaimana bisa kabur.
Lalu tiba-tiba muncul di televisi berjalan pincang karena pahanya tertembus 
mimis. 
Polisi bilang, penjahat ini mencoba melarikan diri.

Kepada pers, polisi mengatakan mereka telah memberi dua kali tembakan 
peringatan.
tembakan ketiga baru ditujukan ke kaki penjahat yang sedang belari!

Bayangkan betapa hebatnya bisa menembak kaki yang sedang bergerak cepat itu.

Atau mungkin urutannya berubah?
Penjahat disuruh telungkup.
Lalu tembakan pertama ke kaki
tembakan kedua dan ketiga baru ke udara. 

Atau jangan-jangan ada tarifnya juga
Mau bayar berapa?
Dua juta untuk peluru di betis
Satu juta untuk peluru di paha
Kalo cuma Rp 500 ribu peluru di lutut
Makin mahal sakitnya makin berkurang

Yang pernah liputan metropolitan pasti tahu cerita-cerita seperti itu.
Kata polisi, yah, residivis kagak kapok-kapok.
Biar kapok perlu ditembak.
Kalo sudah bosan, matiin saja.
Tokh mereka beban masyarakat.





  On 6/19/07, edi santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:            
    Kutipan dari Republika, kita bisa membayangkan trauma istri dan anak dari 
Abu Dujana.  
   
  salam jujur
  santo

            
19 Juni 2007 
'Bapak Disuruh Jongkok, Terus Ditembak' 
dri 
  JAKARTA -- Perjalanan bersama ayah dan dua adiknya, Sabtu (9/6) siang itu, 
tampaknya menjadi pengalaman paling traumatis dalam hidup Sidiq Abdullah Yusuf 
(8 tahun). Sidiq melihat sang ayah --Yusron Mahmudi alias Abu Dujana yang 
ditetapkan Polri sebagai tersangka teroris-- ditembak dari jarak dekat oleh 
anggota Detasemen Khusus 88 (Antiteror) Mabes Polri. 
  ''Bapak disuruh turun dari motor, disuruh jongkok, terus ditembak dari 
belakang,'' ujar Sidiq pelan, ketika datang ke Mabes Polri bersama ibunya, Sri 
Mardiyati (35 tahun), dan rombongan keluarga, Senin (18/6). 
  Sidiq berkisah, siang itu Yusron bersama dia serta dua adiknya, Salman Faris 
Abdul Rahman (6 tahun) dan Hilma Sofia (2,5 tahun), pergi untuk menonton 
pemilihan kepala desa di lapangan Desa Kebarongan, Kec Kemrajen, Kab Banyumas, 
Jateng. Sekitar 100 meter dari rumah, di suatu perempatan, kata Sidiq, sepeda 
motor ayahnya tiba-tiba dipepet pengendara sepeda motor lainnya. 
  Ketiganya pun secara bersamaan terjatuh dari motor. Bahkan, Hilma yang saat 
itu membonceng di depan Yusron, sempat tertindih motor. ''Habis itu, aku 
dipegangi oleh orang itu,'' ujar Sidiq yang tampang polosnya menyiratkan trauma 
belum hilang darinya. Hanya kalimat-kalimat pendek yang bisa dikutip wartawan 
dari mulut Sidiq. 
  Pengakuan Sidiq kepada Tim Pengacara Muslim (TPM) tak kalah mencengangkan. 
Menurut Qadhar Faisal, salah satu kuasa hukum keluarga Yusron, tidak hanya 
Sidiq yang melihat ayahnya ditembak dari jarak dekat. Dua adik Sidiq, kata 
Qadhar, juga ikut melihat ayah mereka tak berdaya ditembus timah panas, sebelum 
akhirnya mereka masuk kembali ke rumah. ''Saat lari, Sidiq mendengar empat kali 
tembakan, Salman tiga kali,'' kata Qadhar. 
  Sri Mardiyati yang kemarin datang ke Mabes Polri sambil menggendong Hilma, 
menambahkan, tak lama setelah tiga anaknya sampai di rumah, beberapa petugas 
menjemput keluarganya. Lalu, mereka dibawa ke sebuah hotel di Yogyakarta. Sejak 
saat itu, Mardiyati dan anak-anaknya tidak pernah lagi bertemu Yusron. 
  ''Saya tidak kenal Abu Dujana, suami saya bernama Yusron atau dikenal Ainul 
Bahri,'' tegas Mardiyati ketika wartawan menanyakan sejauh mana kedekatannya 
dengan Abu Dujana. 
  Dia yakin, proses penangkapan polisi terhadap suaminya yang dianggap 
tersangka teroris, hanyalah rekayasa untuk memuaskan dunia Barat. Suaminya, 
kata Mardiyati, hanyalah pengrajin tas biasa. ''Saya menyangkal semua yang 
diekspose media.'' 
  Merasa proses penangkapan Yusron melanggar HAM, Qadhar akan 
mempraperadilankan Kapolri, Jenderal Sutanto, ke Pengadilan Negeri Jakarta 
Selatan. Surat gugatan praperadilan akan didaftarkan pada Rabu (20/6). 
  Pelanggaran HAM, katanya, terjadi karena ketika ditembak, Yusron tidak 
memegang senjata, tak mencoba melarikan diri, tidak melawan, dan bukan pelaku 
tindak pidana. Terlebih, penembakan Yusron disaksikan langsung ketiga anaknya. 
  Sebelumnya, Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Bambang Hendarso Danuri, 
menegaskan tidak ada rekayasa dalam proses penangkapan teroris. Bambang 
mengatakan, bisa mempertanggungjawabkan aksi penggerebekan teroris secara 
hukum. 
  
  
---------------------------------
  Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republik a.co.id
Berita bisa dilihat di : 
http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=297115&kat_id=3  





  
---------------------------------
  Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap 
spam. 
http://id.mail.yahoo.com/  








-- 


Rahmad Budi H
Republika
Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
0856 711 2387   

         

       
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, 
when. 

Kirim email ke