Bedah Buku  “Bangsa yang Belum Selesai: Indonesia , Sebelum dan Sesudah 
Soeharto”

 

“Sejarah sastra harus direbut kembali. Kebudayaan sebagai prioritas 
rakyat harus direbut kembali. Kini orang sudah melupakan sastra Kartini, 
juga Pramoedya yang penting dalam menggali fondasi sebagai sebuah 
bangsa“ demikian dinyatakan Max Lane dalam bedah buku karyanya yang 
berjudul “Bangsa yang Belum Selesai: Indonesia, Sebelum dan Sesudah 
Soeharto” yang diselenggarakan pada hari Minggu, 1 Juli 2007 bertempat 
di Panggung Utama Festival Buku Diskon, Auditorium Gedung A, Depdiknas, 
sebelah Ratu Plaza

 

Acara yang dihadiri oleh sekitar 120 orang ini diselenggarakan oleh 
komunitas mailing list [EMAIL PROTECTED] 
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> bekerjasama dengan panitia Festival 
Buku Diskon. Komunitas mailing list ini sendiri sudah beberapa kali 
menyelenggarakan diskusi dengan tema-tema kepemimpinan politik.

 

Selain Max hadir sebagai pembahas bukunya adalah Daniel Dhakidae 
(Direktur Riset Harian Kompas), Dita Indah Sari (Ketua PRD) dan Yosef 
Adi Prasetyo atau akrab disapa Stenley (Mantan aktivis mahasiswa 80-an 
dan Anggota Komnas HAM) dengan dimoderatori oleh Wilson (mantan Napol 
PRD). Hariman Siregar (aktivis ‘74) dan Rama Pratama (akitivis mahasiswa 
’98) yang sedianya akan turut mengkritisi buku ini berhalalangan hadir. 

 

Tampil sebagai pembahas pertama, Dhaniel Dhakidae menyatakan bahwa dalam 
bukunya ini Max Lane konsisten dengan kesimpulannya bahwa perubahan 
politik yang terjadi di Indonesia adalah karena aksi massa . Ia 
menyoroti periode gerakan mahasiswa pada tahun 1965 yang menurutnya 
dilakukan secara politis dan paska 1966, aksi-aksi yang terjadi justru 
anti politik. Saat itu juga menguat peranan insitusi yakni militer. Pada 
tahap berikutnya, tahun 70-an dimunculkan isu korupsi sebagai gerakan 
moral dengan tokoh seperti Arief Budiman yang akhirnya meluas menjadi 
aksi anti modal Jepang dan anti militerisme

 

“ Buku Max Lane ini menjadi penting karena ia mencatat pembangunan 
/nation/ termasuk juga proses penghancurannya. Selain mencatat aksi 
massa sebagai senjata dan metode yang ampuh, buku ini juga menunjukkan 
pada kita tentang gagasan revolusioner di masa lalu. Buku ini bisa 
dijadikan referensi bagi kaum muda. Menjadi penting sekarang adalah 
bagaimana rakyat bisa melakukan tekanan-tekanan politik.” Demikian kata 
Dita    Stanley  yang saat itu hadir terlambat karena harus melayat 
Julius Usman (aktivis  tahun 70-an) juga menegaskan perlunya 
mempertahankan harkat dan martabat sebagai bangsa, berkaitan dengan 
kuatnya gerusan gerakan globalisasi.

 

Salah seorang penanggap, Roy mengomentari bahwa dalam bukunya ini Max 
melihat perspektif ke depan, baik dari aspek budaya, ideologi dan 
kerakyatan. Kalau aspek-aspek ini bisa diperdalam, bisa menjadi landasan 
sebuah bagi tumbuhnya gerakan di Indonesia .

Menanggapi salah seorang penanya yang mempertanyakan bagaimana mengatasi 
berbagai problem yang terjadi di Indonesia misalnya kemiskinan, Max Lane 
menegaskan bahwa mengatasi kemiskinan  tidak hanya cukup dengan 
menasionalisasi pertambangan dan migas saja.Itu tidaklah cukup, “Rakyat 
harus bisa mengorganisir diri. Sastra dan sejarah harus serius 
dipalajari di sekolah, sehingga rakyat tahu akan sejarah bangsanya” 
Tambahnya. Di akhir uraiannya Max Lane menyatakan bahwa ada beberapa 
taktik menuju pembebasan rakyat yakni alat-alat pergerakan yang 
mendukung yakni koran, vergadering dan organisasi perlawanan yang 
memimpin perlawanan secara nasional, yang sayangnya belum maksimal 
hingga kini.

 

Bejo Untung, aktivis dari LPKP, organisasi yang melakukan advokasi 
korban tragedi kemanusiaan 1965, mempertanyakan peliknya pemecahan 
masalah 1965 itu sendiri. Selama betahun-tahun berbagai upaya telah 
dilakukan, dari mulai pengaduan dan aksi-aksi politis, namun hingga kini 
masalah ini belum juga menemui titik terang. Dalam kesempatan itu, Bejo 
juga sekaligus menagih komitmen dari Stanley yang kebetulan baru saja 
diumumkan sebagai anggota Komnas HAM yang baru untuk menunjukkan 
komitmen politik dalam persoalan tragedi kemanusiaan 1965. Max kembali  
menegaskan,  bahwa dengan kekuatan  massa , persoalan 1965 yang telah 
puluhan tahun ini akan terselesaikan.  

 

Dalam akhir diskusi, moderator tidak mencoba menyimpulkan, tapi 
menggaris bawahi bahwa buku Max ini penting untuk kita semua. Buku ini 
mempunyai kelebihan tentang penulisnya yang dapat merekam setiap 
kejadian-kejadian perlawanan terhadap orde baru, sejak awal rezim itu 
berdiri. Akhirnya acara ditutup dengan penyerahan piagam kepada nara 
sumber dan moderator oleh Petrus H Hariyanto mewakili 
[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>.

 

 

Yayasan Komunitas Pekerja Buku Indonesia (Yayasan KPBI)  adalah sebuah 
lembaga yang memiliki komitmen dan kesadaran berpikir secara kritis 
dalam dunia perbukuan. Yayasan KPBI dikelola oleh mereka yang aktif 
dalam dunia perbukuan, diantaranya: para pekerja di industri penerbitan 
buku, pustakawan, aktivis perpustakaan komunitas, pengamat buku. Yayasan 
KPBI bergerak aktif dalam memajukan dunia buku, terutama dalam memajukan 
peningkatan kapasitas pekerja buku baik ketrampilan dan 
kesejahteraannya. Sebagai upaya mencapai tujuan itu kami aktif melakukan 
kegiatan-kegiatan pelatihan, seminar dan lokakarya perbukuan, mengadakan 
kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan pengembangan SDM di bidang 
perbukuan, mengadakan pameran buku, mendorong terbentuknya 
perpustakaan-perpustakaan komunitas.

 

 

 




Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik: 

http://mediacare.blogspot.com

atau

www.mediacare.biz

====================
Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke