Karena Malu, Sumarni Memilih Jadi Pembantu

05 Juli 2007

http://pendidikanbanten.multiply.com/
<http://pendidikanbanten.multiply.com/>


Pandeglang — Sumarni (15), remaja yang ijazahnya "disandera"
SDN Cigadung 4 atau Kadulolo selama tiga tahun karena "uang
tebusan"-nya kurang Rp 15.000 menggelengkan kepala berulang-ulang
ketika ditanya apakah ia akan melanjutkan sekolahnya jika ijazahnya itu
ditebus.

Oleh : Rahman

"Biarlah Pak, saya menjadi pembantu rumah tangga saja. Kan bisa
dapat uang per bulan. Kalau sekolah, keluarga saya tak punya uang. Lagi
pula, saya malu dengan teman-teman yang sekarang sudah di SMA," kata
Sumarni. Dia tetap menggeleng ketika disebutkan pemerintah setempat mau
membiaya sekolah Sumarni.

Dia mengaku, tiga tahun lalu memang ada keinginan meneruskan sekolah ke
SMP. Tapi karena keluarganya tidak mampu menebus ijazahnya, terpaksa ia
menguburkan keinginan itu. Waktu itu, SDN Kadulolo minta menyediakan
uang Rp 50.000 untuk mengambil ijazahnya. Keluarganya hanya menyediakan
Rp 35.000, berarti kurang Rp 15.000. Ijazah itu pun tak bisa diambil.

Semula dia berniat bersekolah di SMP terbuka, tetapi salah satu
persyaratan untuk mengikuti SMP terbuka tersebut harus ada ijazah SD.
"Kumaha rek ka SMP, ijazahna geh ditahan (Bagamana mau melanjutkan
ke SMP, ijazahnya ditahan)," tutur Sumarni.

Ternyata, nasib serupa juga dialami rekan-rekannya yang tidak mampu
"menebus" ijazahnya di SD Negeri Kadulolo. Angkatan Sumarni
tahun 2004, sepuluh orang yang ijazahnya ditahan oleh SD Kadulolo. Di
antaranya yang masih diingat oleh Sumarni adalah Iroh, Ratna, Dedi, dan
Jumadi. "Angkatan saya saja yang ijazahnya ditahan lebih dari
sepuluh orang Kang, karena enggak ketebus," papar Sumarni.

Nasib adiknya, Unip Frimansyah (12), siswa kelas 6 SDN Kadulolo, warga
Desa Kadulolo, Kecamatan Karang Tanjung, Pandeglang, juga pasrah. Dia
mengaku ingin meneruskan sekolah, tapi orangtuanya tak punya uang. Untuk
menebus ijazah SD-nya tahun ini sebesar Rp 150.000, orangtuanya bahkan
tak mampu.

Bukan Unip saja yang tidak bisa menebus ijazah sebesar Rp 150.000, empat
rekan Unip yang juga sekolah di SDN Kadulolo pun hal yang sama. Mereka
semua harus menerima kenyataan sekolah hanya sampai SD, bahkan ijazah SD
pun mereka tidak akan memiliki. "Teman saya Iwan, Roni, Jaed dan
Samsudin juga belum menebus ijazah itu," tutur Unip.

Ijum (42), ayah Unip, membenarkan apa yang dikatakan anaknya, ia merasa
tidak sanggup lagi untuk menebus ijazah SD anaknya, apalagi untuk
meneruskan ke SMP. Uang sebesar Rp 150.000 terlalu besar untuknya yang
sehari-hari berpenghasilan tidak tentu. Terkadang menjadi buruh pemetik
kelapa, cengkeh, dan kadang-kadang menjadi kuli panggul. "Duit
gimana Pak, pekerjaan saya tidak tentu, " kata Ijum.

Bapak dengan tujuh anak dan satu istri yang tinggal di sebuah rumah
kecil yang dindingnya terbuat dari bambu ini hanya menerima saja apa
yang sudah ditetapkan oleh SDN Kadulolo, tentang ijazah anaknya yang
harus ditebus. "Buat makan juga susah, apalagi harus nebus ijazah
Pak," papar Ijum.

Karena terbentur biaya, seluruh anaknya tidak ada satu pun yang
melanjutkan sekolah sampai SMP, semuanya hanya sampai SD. Ia harus
banting tulang membiayai seluruh anaknya. Sebidang tanah yang ditanami
pohon cengkeh miliknya yang digadaikan sudah 25 tahun tidak ia tebus.
"Harus cari duit kemana, untuk menyekolahkan anak saya, kebon saya
juga sudah 25 tahun tidak ketebus. Sekarang saya terpaksa jadi
kuli," kata Ijum.

Marliah, ibu Unip, menyesalkan SD tempat sekolah anaknya yang mewajibkan
para siswanya harus menebus ijazah. "Ini jelas kok Kang, sekolah
minta uang Rp 150.000 untuk menebus ijazah. Itu juga alasannya sudah
dimusyawarahkan. Orang kampung mana ngerti soal rapat-rapat," ucap
Marliah.



Janji Sekolah Gratis

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang Taufik Hidayat
mengatakan akan menyelidiki kasus tebusan ijazah di SDN Kadulolo.
"Kami tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan, perlu diselidiki
dulu apa benar berita itu. Tetapi jika benar, tentu Kepala SD Kadulolo
itu akan kami tindak. Seorang Kepala SD harus bijak dan memperhatikan
kondisi ekonomi dan sosial di sekitar sekolahnya," katanya.

Taufik minta orangtua murid yang ijazahnya ditahan untuk datang ke
Kantor Dinas Pendidikan Pandeglang. "Saya janji akan diselesaikan
hari itu juga. Paling tidak ijazah itu bisa diambil," jelasnya.

Widodo, Kepala SDN Kadulolo, tidak berhasil dikonfirmasi soal penahanan
ijazah. Menurut guru setempat, Kepala SD tidak berada di sekolah sejak
pagi hari. Hal yang sama terjadi ketika didatangi ke rumah Widodo di
Desa Cidahu, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang.

"Nanti saja ke kepala sekolah. Kami tidak berani menjawab apa-apa.
Itu kan masalah lama, sudah tiga tahun lalu," kata seorang guru yang
tidak mau disebutkan namanya.

Para guru mengakui, sekolahnya menetapkan Rp 150.000 bagi orangtua
murid. Dana itu hasil musyawarah orangtua murid, komite, dan pihak
sekolah. Dana itu bukan untuk menebus ijazah, tetapi untuk biaya
melanjutkan sekolah, fotokopi persyaratan ke SMP dan biaya perpisahan.

Sementara itu, Suhada, Direktur Eksekutif Aliansi Lembaga Peduli Publik
(Alipp), mengungkapkan peristiwa "disanderanya" ijazah Sumarni
selama tiga tahun oleh SDN Kadulolo menunjukkan Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Pandeglang tidak konsisten terhadap kebijakannya yang
mencanangkan sekolah gratis bagi wajib belajar pendidikan dasar (Wajar
Dikdas).

"Sebelum ada bantuan operasional sekolah (BOS) dari pemerintah
pusat, Bupati Pandeglang sudah mencanangkan sekolah gratis yang katanya
akan diambil dari APBD. Nah, sekarang sudah ada BOS, malah peristiwa ini
menunjukkan bersekolah di tingkat SD tidak gratis. Hanya nama dan
mekanismenya saja yang berbeda, tetapi pada akhirnya orangtua murid
harus mengeluarkan uang," kata Suhada. (nr)


dari situs berita : www.bantenlink.com <http://www.bantenlink.com/>


Kirim email ke