oh for haven's sake ! kepiluan nasib saudara2 kita yg hrs terpaksa menjual 
nasib hidup di negri2 jiran utk menjadi pembantu, bukan saja di perkosa, 
disiksa hingga mati, dibodohi, kerja kerasnya tidak dibayar....tapi juga 
ditelantarkan oleh pemerintah RI yg hanya sibuk mengumpulkan devisa2 para 
rakyatnya yg memeras keringat dan harga diri mereka diluar negri.
  Kebanyakan penyiksa2 biadab ini adalah mereka manusia2 yg se Iman, se Agama, 
dari Saudi Arabi, Malaysia hingga ke Brunei, walau saya tidak suka menyebut 
nama Islam dalam mengomentari ini, tetapi lihatlah fakta yg nyata didepan mata 
kita, coba lihat ketika umat Islam di Indonesia murka terhadap tentara US yg 
menyiksa tahanan2 tentara Iraq, apakah ini tidak beda dengan penyiksaan para 
ibu2 kita (TKW) yg dilakukan oleh majikan2 nya mereka diperkosa , disiksa dan 
dibunuh, walau pemerintah sudah menciptakan UU baru utk perlindungan para TKI, 
tetapi UU dan hukum yg berlaku tidak punya cukup wibawa yg bisa melindungi 
nasib para TKI, pemerintah seharusnya melihat kedalam dirinya, mawas diri dan 
bertanya, kenapa rakyat ku tidak berharga dinegri  orang ? kenapa rakyat ku 
selalu menjadi korban HAM ? kenapa rakyat ku selalu menjadi sasaran empuk 
kekejaman ? kenapa rakyatku mudah sekali dibohongi ?...rakyat Indonesia yg 
bekerja di luar negri mewakili kualitas pemerintah nya, bila kita
 mau melihat kebesaran dan keberhasilan sebuah negara lihatlah rakyatnya, 
rakyat Indonesia adalah sasaran empuk pelecehan karena mereka tidak dibekali 
pendidikan/training yg layak, mentalitas yg sehat, tidak menguasai bahasa 
Inggris seperti umum nya rakyat Philippine, ibarat kita membuang anak2 kita ke 
hutan belantara yg serba asing bagi mereka, mudah sekali menjadi korban 
kekejaman hewan buas2 didalam nya.
   
  Salam prihatin yg teramat sangat
  omie
   
  

Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            http://www.gatra.com/artikel.php?id=105816
   
   
  Dua TKW Tak Digaji Dua Tahun di Brunei Darussalam

  
Pontianak, 3 Juli 2007 15:44
Tn, 42 tahun, dan Mi, 39 tahun, mengaku tak menerima gaji selama dua tahun 
sebagai pembantu rumahtangga (PRT) di Brunei Darussalam. Saat ini, kasusnya 
ditangani Advokasi, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Asapuan) Kalbar.

Ketua Asapuan Kalbar, Hairiah, di Pontianak, Selasa (4/7), mengatakan, saat ini 
pihaknya sedang menampung dua TKW bermasalah karena tidak dibayar gaji oleh 
majikan mereka di Brunei Darussalam.

Ia mengatakan, anggapan bahwa negara Brunei Darussalam adalah surganya para 
pekerja dari luar negeri, tidak semuanya benar. Itu terbukti dari dua TKW asal 
Indonesia yang tidak mendapat upah oleh majikan setelah dua tahun bekerja.

Dua TKW, Tn asal Cilasap, Jawa Tengah dan Mi asal Jawa Barat, bekerja mulai 
pukul 05.00 hingga 24.00 waktu setempat, tetapi pada giliran kewajiban majikan 
untuk membayar gaji, tidak dipenuhi.

Menurut Hairiah, kasus tidak dibayar gaji oleh sang majikan sudah menjadi 
masalah klasik Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara jiran Malaysia dan Brunei 
Darussalam.

"Kita sudah melakukan perawatan baik fisik maupun mental terhadap kedua TKW 
tersebut, karena selain tidak dibayar gaji oleh majikan, keduanya juga tampak 
mengalami tekanan fisik yang cukup berat," ujarnya.

Ia menghimbau, agar para TKW yang akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga 
sebaiknya memiliki keterampilan dan pendidikan. Karena banyak TKW yang bekerja 
di luar negeri tidak mempunyai keterampilan yang cukup sehingga ketika harus 
dihadapkan dengan berbagai persoalan mereka kewalahan.

Sementara menurut data International Organization for Migration (IOM) 
menyebutkan pembayaran gaji mendominasi kasus TKI bermasalah di luar negeri 
yang berujung pada pendeportasian. Pekerja rumah tangga merupakan jumlah 
terbanyak TKI yang bermasalah.

Berdasarkan data IOM pada periode Maret 2005 - Oktober 2006, terdapat 1.650 TKI 
korban trafficking yang dipulangkan ke Indonesia melalui lembaga tersebut. 
Sebanyak 49 persen di antaranya bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Dan 90 
persen merupakan kasus gaji yang tidak dibayar atau tidak sesuai perjanjian 
awal. [TMA, Ant] 


 

       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

Kirim email ke