Jangankan Samudera, bahkan secuil pesisir pun tak ada. Tapi, urusan berlayar, Swiss ternyata melampaui negara negara maritim lainnya. Paling tidak, terbukti dengan keperkasaan Alinghi, sindikasi layar Swiss, yang baru saja berhasil mempertahankan trofi yacht sedunia, Selasa 3 Juni 2007 lalu, di Valencia, Spanyol.
Meski kemenangannya dramatis – hanya terpaut 1 detik dari tim layar Selandia Baru – tetap saja sukses itu mempertontonkan satu hal : tak ada yang tak mungkin. Kurang masuk akal memang, bagaimana tim layar Swiss bisa sebegitu digdaya. Negeri mungil yang berada di tengah tengah ranah Eropa ini, tak sejengkal pun memiliki laut. Ia dikepung teritorial Jerman, Perancis, Austria dan Italia. Jika pun ada tempat untuk berlayar, hanyalah danau danau indah dan sungai sungai jernih yang mengiris daratan Swiss. Perairan paling dekat, Genoa, Italia, jaraknya 300 kilometer dari Bern, Ibu Kota Swiss. Untuk sampai ke perairan di Genoa, mau tak mau, kapal layar Sui 100 itu, harus diangkut tronton, menembus Tessin, Milan, Toskana dan akhirnya perairan Genoa. Jalan lain, menyusuri sungai Rhein : dari Basel (Swiss) , Duesseldorf (Jerman) , hingga pucuknya di Amsterdam, Belanda. Sukses ajaib ini tak lepas dari peran Ernesto Bertarelli, milyader Swiss yang menetap di Jenewa. Dialah yang berhasil mengumpulkan pelayar – pelayar terbaik dunia, menggabungkannya dalam sebuah tim superkuat bernama Alinghi. Tak mengherankan jika orang Swiss Asli, dalam tim inti, hanya berjumlah empat orang dari 38 orang. Orang awak itu adalah Ernesto Bertarelli sendiri, dan tiga lainnya : Enrico de Maria, Yves Detrey dan Nils Frei. Yang berada langsung dalam Sui 100 itu pun hanya Ernesto seorang. Ketiga lainnya, berperan di daratan. Sukses Alinghi memang sukses komunal, sebuah kerja keras bersama. Kendati demikian, tim layar yang pernah disebut – sebut sebagai The Dream Team ini, memiliki empat pilar : The Fabulous Four. Pentolan nomer satu, siapa lagi kalau bukan Ernesto Bertarelli. Ia adalah pemilik, The Big Boss yang merangkap Afterguard. Setidaknya, Ernesto-lah figur yang menyediakan dana 50 juta Swiss Franch, sepertiga dari biaya 150 juta Swiss Franch Alinghi. Di dalam kapal layar supercepat itu, Ernesto bertugas sebagai pengukur kecepatan dan posisi lawan. Orang penting kedua bernama Brad Butterworth. Dialah otak utama Alinghi : manuver dan taktik Alingghi ditentukan Brad. Media menyebutnya sebagai manusia laut yang tak bisa dikalahkan. Dimana ada Brad, disitulah kemenangan berada. Hanya alam, sejatinya perubahan arah angin, yang bisa mengalahkannya. Cuma, dalam sistem the best of nine di Valencia itu, Brad sempat kecolongan dua kemenangan. Predikat tak terkalahkan itu pun, sejak kecolongan itu, mulai diragukan. Tragisnya, Brad Butterworth berpaspor Selandia Baru, negara yang baru saja dikalahkan secara dramatis itu. Peran penting yang lain berada ditangan Ed Baird. Dialah nahkoda Alinghi. Baird sebenarnya nakoda cadangan Alinghi. Namun begitu Russell Couts, nahkoda utama minggat, Ed baird-lah pilihan utama Ernesto dan Brad. Pemegang paspor Amerika ini dianggap lebih mampu mengontrol emosinya. Tim sukses Alinghi keempat adalah Rolf Vrolijk, warga negara Belanda. Rolf-lah yang merancang kapal layar Alinghi. "Agar sebuah boat, jika sedang berbalik 180 derajad, tidak sampai patah," katanya terkekeh – kekeh. Kemenangan Alinghi kali ini adalah kemenangan kedua, setelah kemenangan pertama atas tim yang sama pada tahun 2003. Bedanya, kemenangan pertama skor 5 – 0 untuk Alinghi, sementara kemenangan di Valencia kali ini, hanya 5 – 2 dari the best of nine. Laga terakhir pun, berakhir sangat dramatis, yakni hanya terpaut satu detik semata. Jika saja Tim Kiwi tidak terkena hukuman pada laga terakhir itu – ia diharuskan berputar 270 derajad karena pernah memotong jalan Alinghi – bisa dipastikan kedudukan, pada Selasa sore itu, berakhir dengan skor 4 – 3. Tak hanya pautan sati detik yang membuat pertandingan terakhir itu begitu menegangkan. Dari empat kali putaran, kedua tim saling susul menyusul. Sejak start, kedua tim saling berebutan berada di depan, meski pada akhirnya Alinghi berhasil mencapai putaran pertama ini dengan selisih tujuh detik. Itu pun terjadi setelah Alinghi berhasil menggiring The Kiwi menjauhi putaran ini. Putaran kedua dikuasai Selandia Baru, bahkan dengan selisih 14 detik. Pada putaran ketigalah kesalahan dilakukan Tim Selandia Baru. Pada saat mendekati ke putaran ke empat, tiba tiba kapal layar yang disponsori perusahaan penerbangan Timur Tengah ini memotong jalur Alinghi. Pada titik inilah hukuman harus berputar 270 derajad harus dilakukan Tim Selandia Baru. Putaran terakhir terlihat Alinghi bakal berhasil mempertahankan gelar. Namun pada titik 800 meter sebelum finish, tiba tiba angin berubah arah. Laju Alinghi pun tersendat, bahkan berhenti. Kesempatan ini digunakan Tim Selandia Baru dengan sempurna. Jarak sekitar 100 meter pun mulai diperkecil, bahkan akhirnya berhasil menyalib Alinghi. Sayang, gara gara harus berputar 270 derajad, kemenangan Tim Selandia Baru yang berada di depan mata itu lenyap. Putaran Tim Kiwi dimanfaatkan Alinghi. Dan kemenangan yang hanya selisih satu detik itu pun disapu Alinghi. Dan gelas sampanye dan lonceng sapi pun berdetingan di Jenewa, markas besar Alinghi. Selama empat tahun mendatang, trofi olah raga paling tua sejagad ini kembali akan berada di bumi Swiss. Web: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ Klik: http://mediacare.blogspot.com atau www.mediacare.biz ==================== Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
