mungkin pesan saya jangan lagi percaya pada BANK DUNIA...
  orang saya yang kerja di LSM aja juga ga percaya sama BANK DUNIA...

ferdinand lamak <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                      
            Merry,  saya bersimpati kepada Anda. Mungkin pelajarannya, lain 
kali lebih  berhati-hati kalau urusannya soal kontrak-mengontrak. Anda baru  
sekarang menyadari kalau 'oknum-oknum' yang mengibarkan bendera LSM  tidak 
selalu idealis dan profesional. Hehehe......beberapa  pengalaman di masa lalu 
telah membuat saya hilang respek saya terhadap  IDEALISME dan PROFESIONALISME 
yang konon menjadi ujung tombak  perjuangan LSM. Mungkin hanya 1 atau 2 LSM 
saja yang benar-benar berada  di jalur itu. Selebihnya? Hem.......asal ada 
sumber dana, bisa membuat  proposal dengan sedikit kreasi program, disetujui, 
jadilah. 
  
  Begitulah, Dunia ini, panggung sandiwara...........hahahahahaha
  
  
  Tebet Barat IV/11-Jaksel
  Sebuah LSM Profit Oriented
  Bernama Bisnis PROPERTI
  (hehehehehehe)
magdalena merry <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                                          Dear teman jurnalis dan penulis 
lepas..  
Saya ingin sedikit share tentang pengalaman seputar penulis lepas.  
  
Pada  11 Mei 2007 lalu, saya menerima telepon dari seseorang yang mengaku  dari 
Justice for The Poor, (JTP) kabarnya LSM di bawah naungan World  Bank alias 
Bank Dunia. Ia yang bernama Marini ini meminta kesediaan  saya untuk menerima 
pekerjaan mengedit buku tentang kasus korupsi di  dearah di Indonesia.
 Kabarnya dia mendapat no kontak saya dari teman yang juga penulis lepas dan 
mantan jurnalis Kompas.
 Setelah  dijelaskan tentang job desk, kami bernegoisasi honorarium dan 
akhirnya  mencapai kesepakatan. Ini kesalahan fatal pertama: menerima job hanya 
 dari telepon saja, tidak ada bukti hitam di atas putih alias kontrak  
tertulis. Mungkin saya terbuai oleh nama besar Word Bank atau percaya  betul 
pada nama teman yang memberikan referensi.
 
 
 Beberapa  hari kemudian bahan yang harus diedit saya terima melalui email. 
Sejak  itu saya mengedit dan mengirim hasilnya melalui email. Untuk buku  
kira-kira tebal 150-an halaman itu saya hanya diberi waktu 2 minggu.  Uniknya, 
setelah contoh editing pertama saya kirim, Marini dan rekannya  Dewi dari LSM 
tersebut setuju dengan hasilnya. Akhirnya saya  mengerjakan bagian lain dengan 
sistem yang serupa. 
 
 
 Tapi  di hari-hari terakhir menjelang deadline, mendadak mereka komplain  
banyak hal. Dan saya terpaksa melakukan pekerjaan ulang dari awal lagi  pada 
detik-detik menjelang deadline. Dapat dibayangkan betapa pekerjaan  ini cukup 
underpressure mengingat saya juga memiliki pekerjaan utama  dan kesibukan lain. 
  Lalu tak lama  kemudian, Dewi Damayanti yang akrab dipanggil Damay menyuruh 
agar saya  membuat invoice penagihan honor. “Nanti honornya lama mbak 
keluarnya,”  begitu kira2 tulisnya di SMS. 
  
Tentu saja saya kaget,  sebab soal terlambatnya honor dan invoice ini baru 
diberitahu setelah  tugas nyaris selesai saya kerjakan. Dari situ saya mulai 
merasa ada  yang tidak beres karena:
 
   Pihak JTP mempekerjakan  saya hanya secara lisan, bukan tulisan. Tapi kenapa 
soal honorarium  harus saya urus secara tertulis? Jika memang itu pekerjaan 
formal,  semestinya mereka mempekerjakan saya secara formal juga. Tapi jika  
informal, mereka semestinya membayar saya secara informal juga. Di sini  sudah 
ada ketidakadilan antara saya pekerja freelance dengan mereka  sebagai pihak 
pemberi pekerjaan.
  
   Soal honor yang terlambat tidak  diberitahu di awal kesepakatan, melainkan 
setelah pekerjaan   nyaris  selesai. Ini   merupakan bentuk penipuan halus.
   
  Tidak sampai di situ, setelah invoice saya buat dan harus DIANTARKAN SENDIRI 
ke kantor LSM tersebut, hingga HARI INI, HONORARIUM BELUM SAYA TERIMA.  Padahal 
Damay menjanjikan pada saya honor akan turun paling lama 1  bulan setelah 
pekerjaan selesai. Dan sampai hari ini sudah berjalan 1  bulan lebih.
 Lebih terkejut lagi ketika saya membaca email Damay ke bagian administrasi 
yang di CC ke saya berbunyi:
 
 
 
Mbak Sania dan Rani,

invoice atas nama Merry Magdalena untu pekerjaan editing kasus, sudah
 aku
proses ke bagian admin awal Juni kemarin. Mbak Merry menanyakan soal
transfernya yang belum sampai padahal sudah satu bulan. Tolong mbak
 Sania
atau Rani cek ke mbak Nina or siapapun yang menangani urusan
 LGCS
sekarang. Soalnya seperti email yang bersangkutan
 dibawah, hingga hari
 ini
dana itu belum masuk, seharusnya kan sudah masuk 2 minggu yang lalu.
Tolong langsung dibalas ke mbak merry dan cc ke saya soal perkembangan
 ke
saya

Terima kasih,

Damay
  Dari email tersebut, diketahui bahwa semestinya honorarium sudah saya  terima 
sejak 2 minggu lalu, yang artinya sejak pertengahan Juni. Itu  jika melalui 
prosedur semestinya. Namun sampai 4 Juli 2007, tidak ada  pemberitahuan apapun 
dari pihak JTP atau World Bank. Artinya saya harus  bolak-balik menggesekkan 
kartu ATM saya demi memeriksa apakah  honorarium sudah turun atau belum.
    Yang menyakitkan  adalah tidak ada keinginan dari pihak JTP untuk mengabari 
atau memberi  penjelasan tentang keterlambatan honorarium ini.
Bukan masalah  jumlah uangnya, namun usaha atau apresiasi terhadap hasil kerja 
manusia  itu memang nyaris tidak ada. Padahal nama LSM ini adalah Justice for 
The Poor dan buku yang saya edit berisi tentang  studi kasus korupsi di 
daerah-daerah di Indonesia yang tereksan seolah  mereka memperjuangkan nasib 
rakyat/ sesama manusia.
  Faktanya?  
  Ternyata  saya tidak sendirian. Seorang teman berkisah bahwa temannya juga 
pernah  mengalami nasib serupa, bahkan lebih parah. Honor baru diterima lima  
bulan kemudian setelah proyek selesai. 
  Semoga kelalaian  saya menerima pekerjaan tanpa surat perjanjian di awal ini 
bisa menjadi  pelajaran bagi teman-teman jurnalis dan penulis lepas. Dan satu 
lagi,  nama besar institusi internasional atau LSM dengan nama yang berbau  
menggusung idealisme demi kepentingan rakyat, BUKAN JAMINAN akan  memperlakukan 
kita secara manusiawi.
Apakah saya berlebihan  dalam menyikapi masalah ini? Maaf saja jika terkesan 
demikian, sebab  ini pun pengalaman saya pertamakali mendapat perlakuan tidak 
adil sejak  berprofesi menjadi jurnalis dan penulis. Sebelumnya saya memang 
tidak  pernah berhubungan dengan LSM dalam pengerjaan proyek penulisan.  
Klien-klien saya terdiri dari personal bereputasi baik yang  mempekerjakan saya 
secara profesional dan cukup kompeten kendati tidak  ada kontrak tertulis.
Tapi  ini sungguh pengalaman berharga yangn membuat saya jadi TIDAK PERCAYA  
PADA LSM atau instansi apapun yang bergaya IDEALIS walau di bawah  naungan 
BADAN DUNIA sekalipun.


Salam

 
 
 
 
 
 


Sayangi Indonesia!   
  Ada 1001 Cara Sayangi Indonesia dengan Cara Sederhana!'
http://sayangi-indonesia.web.id

www.netsains.com
Mempopulerkan Tulisan Ilmiah, Mengilmiahkan Tulisan Populer
phone: 021 7155 8993

   
  
Merry Magdalena 
Reporter Harian Sore Sinar Harapan 
www.sinarharapan.co.id 
021-3912360/61 Fax 021-3912370 


         

---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
      
                  
         

---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
      
                                    

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

Kirim email ke